RSS

Jumat, 22 September 2017

Terjebak kenangan.

Hallo.
Gue Zi. Cewek yang mudah kejebak sama kenangan. Cewek yang susah melupakan moment moment tertentu. Gue bukan penderita PTSD. Gue g pernah trauma sama masalalu gue. Sepertinya begitu. Tapi entahlah, alam bawah sadarku sepertinya lebih tau.

Gue udah sering merasakan perpisahan dan pertemuan. Gue dulu susah akrab sama orang. Kalau sekarang gue bisa sok akrab sama siapa saja asal mood gue lagi baik. Atau sama orang orang yang entah gimana bisa bikin mood jelek gue jadi baik. Gue pro banget tuh sama orang orang kayak gitu. Orang asing yang kadang SKSD.

Gue pendiem sama orang yang pendiem. Gue rame sama orang yang rame. Tapi kalau udah kenal akrab, gue rame g peduli temen gue diem apa rame. Mungkin kurang perhatian aja gue, makanya gue suka make some noise every where. Bodo amat, yekan?

Dari pada membayangkan masa depan yang g jelas, gue lebih suka membuka buka lagi memori. Buku diary. Photo photo lama. Blog g jelas gue. Sampai modul kuliah pun. Kalau udah asyik gitu kan, gue suka kembali ke masa lalu. Gimana perasaan saat itu. Gimana ekspresi orang orang di sekitar gue. Gimana suasana saat itu. Tidak begitu detail. Tapi berasa nyata banget buat gue.

Gue sempurna banget kejebak masa lalu. Apalagi sama orang orang yang lama g ketemu. Seperti sama Bapak gue sendiri.
Seingat gue waktu sakit tipus. Gue waktu itu kelas 9. Udah mau ujian nasional. Lemes. G berangkat sekolah. Minta dibawa ke puskesmas sama Bapak. Dan gue harus cek darah. Waktu itu di suntik adalah hal mengerikan di hidup gue. Gue jarang memeluk Bapak. Tapi karena saat itu gue takut. Gue peluk Bapak. Masih berasa pelukannya. Masih berasa aroma baunya. Masih berasa dengan sempurna.

Bodohnya gue adalah gue bisa terjebak masa lalu tapi hape di tangan bisa lupa ditaruh di sembarangan tempat. Mungki gue terlalu sibuk mengenang masa lalu jadi lupa sama apa yang terjadi sekarang.

Mungkin gue terlalu fokus pada lelaki masa lalu hingga tak peduli dengan lelaki masa sekarang yang jelas ada di depan mata.

-fin-
Kalian taukan inti dari intro g jelas itu? Kalimat terakhir. Ya... mari fokus dengan dia yang sekarang ada. Yekan?

Bukankah kita beruntung?

Hallo.
Aku Luckie. Seorang gadis yang beruntung. Dua puluh lima tahun sudah aku hidup dan menikmati semua keindahan dunia. Aku seorang perawat. Hidupku selalu lancar. Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku bisa mengeyam pendidikan sesuai rencanaku. Aku bekerja di tempat yang sesuai seperti perkiraanku.

Aku bekerja di sebuah RS pemerintah pusat. Rumah sakit berstandar internasional, rujukan nasional. Banyak aku temui orang orang kuat di tempat aku kerja. Banyak aku berpikir, begitu banyak nikmat yang Tuhan berikan pada kita yang sehat.

Pun begitu, aku bukanlah manusia sempurna. Aku juga pernah sakit. Di rawat di rumah sakit. Di infus. Gagal di infus pun aku pernah merasakan seperti apa rasanya. Skin test yang rasanya perih itu aku pernah rasakan.

Begitu banyak hal yang bisa aku syukuri dari tempat aku bekerja. Aku masih di beri kesempatan untuk sehat. Memiliki banyak waktu di rumah bersama keluarga. Waktu untuk berpetualang bersama teman. Waktu untuk makan apa saja yang aku mau. Waktu untuk tertawa dan berkeluh kesah bersama teman. Tubuh segar dan bebas bergerak.

Bukankah aku begitu beruntung hidup di dunia ini?

Aku pernah jatuh terpuruk. Seperti tidak ada gunanya lagi aku untuk hidup. Mwmbayangkan masa depan yang tidak tahu seperti apa. Aku khawatir. Aku tidak bisa tunbuh tua seperti orang orang di luar sana. Aku pun hanya gadis sakit sakitan yang kadang lupa keterbatasan tubuh. Membiarkannya terforsir kelelahan. Kadang aku lupa, hingga menekan fungsi tubuh ini semaksimal mungkin. Hingga mungkin aku mulai jatuh sakit.

Aku tahu. Aku tak sekuat orang orang di tempat kerjaku. Aku tahu. Apa yang aku rasakan tak seberat apa yang harus mereka rasakan. Kehilangan kebebasan. Kehilangan harga diri. Kehilangan harta. Kehilangan teman. Kehilangan keluarga. Kehilangan apa yang dibanggakan. Malu. Terpuruk.

Tapi mereka mampu bangkit lagi. Tersenyum. Dan terus melangkah untuk tetap hidup dan bermanfaat bagi orang lain. Bertahan hidup walau rasanya akan dijalani lebih sulit. Tapi mereka bisa.

Bukankah aku beruntung hidup di dunia ini?

Bila waktuku pun tiba. Aku telah merasakan 25 tahun hidup dan menikmati keindahan dunia. Aku pernah berpetualang. Aku pernah tertawa bersama teman temanku.
Bila waktuku pun tiba. Aku sudah sejauh ini berjalan. Bermain. Belajar. Berlari. Menjadi manja. Menjadi nakal. Menjadi berguna. Menjadi apa yang bisa aku raih.

Banyak anak anak di tempat kerjaku, harus berjuang dari bahkan mereka baru lahir. Mereka seperti terlahir untuk berjuang dengan jarum dan zat beracun itu. Mereka seperti lahir memang untuk merasakan pesakitan itu. Mereka bahkan tak bisa bebas bermain, apalagi untuk berlari merasakan angin. Tak bisa.

Aku banyak belajar dari anak anak itu. Mereka bertahan dari bayi hinga dewasa. Bertahan dengan prosedur yang kadang terasa menyakitkan atau bahkan sudah mati rasa di kulit mereka. Belasan tahun. Puluhan tahun, mereka bertahan hidup.

Tak semudah yang aku rasakan.
Bukankah aku beruntung hidup di dunia ini?
Dua puluh lima tahun sempurnaku. Sedih. Senang. Canda tawa. Berbaur jadi satu. Aku pun harus kuat seperti mereka.
Aku pun harus kuat.

Aku Luckie. Gadis yang berutung.

Kita tak pernah tahu akan seperti apa akhir kita di dunia ini.
Bukankah kita beruntung terlahir di dunia ini?

-fin-

Sabtu, 09 September 2017

Bapakmu juga Bapakku

Sudah hampir empat bulan berlalu. Aku sudah tidak lagi bisa bertemu dengan mereka dan denganmu. Aku sudah tidak lagi bisa cerita dengan mereka dan denganmu.
Aku harus memulai lagi masa sulit. Aku harus kembali membangun mimpi dari awal yang mungkin dulu sudah seperempat jalan. Tapi aku malah harus mundur setengah lebih kebelakang. Merangkak lagi jauh di belakang garis start. Berharap di tengah perjalanan aku bertemu denganmu. Eh. Tapi sudah tidak mungkin bisa. Harapku sudah lenyap. Jadi mungkin ada orang lain yang akan menggantikanmu.
Rindu.
Ah.. aku selalu terjebak sempurna dengan masa lalu. Ya, sebelum aku benar benar melupakan masa masa itu. Bisa saja aku lupa. Tapi tidak untuk melupakan mereka. Orang orang yang sudah datang dan pergi. Atau orang orang yang sudah aku tinggalkan.
Mungkin semua sudah lupa. Ini sudah hampir 4 bulan berlalu. Sudah tidak ada lagi pertanyaan "dimana?". Semua sudah terbiasa. Ada yang kembali tidak kenal. Ada yang malah menjadi teman. Ada yang menjadi teman kemudian terpaksa harus berakhir menjadi orang asing lagi. Seandainya kamu tahu, aku sedih. Salahku, pikirku begitu. Sehingga kau memilih untuk banyak diam dari pada ceramah seperti dulu.
Ya sudahlah.. anggap saja aku setuju dengan jalan pikirmu. Walau sejujurnya tidak sama sekali. Bahkan aku malah semakin ingin bisa banyak bercerita denganmu. Ah sudahlah. Inti dari cerita kali ini bukan kau.
Setelah sekian ratus hari aku lalui dengan rutinitas baru. Dengan segala hal yang harus mulai kupelajari dan kuingat ingat lagi dari awal. Dengan mereka orang lama dan baru aku kenal. Dengan segala cerita duka ceria yang mereka bagi.
Kadang aku lelah. Kemudian rindu sebelum aku disini. Aku bosan pada pertanyaan mereka "kenapa?". Biar aku simpan sendiri saja alasan itu. Daripada mereka malah menambah nambahi pikiran yang tak benar. Aku sudah memilih. Dan aku tau ada resiko dan apapun itu.
Untung saja aku memiliki saudara di sini. Saudara yang malah aku kurangajari. Saudara yang tak sengaja bertemu. Saudara yang tiba tiba saja akrab. Saudara yang entah bagaimana bisa menjadi saudara. Hai Om, karena anda saya kadang merasa aman dan semakin seenakwudele dewe. Hha.
Dan juga pendistraksi ulungku di masa dulu ketika kebosanan menyerang. Sungguh bisa langsung merubah mood. Pak Gik dan Pak Bams. Namanya juga bapak bapak senior. Ngemong banget. Udah aku anggap kayak bapakku sendiri. Sungguh.
Tiba tiba kan kangen sama dua bapak itu. Tapi entah bagaimana bisa bertemu terus guyonan lagi. Kalau dulu sih, bapak bapakku ini pasti datang menemuiku sebulan sekali. Sekarang? Bagaimana ya. Hha.
Kalau diingat ingat takdir Allah itu indah ya. Dari ketidaksengajaan Pak Gik yang tiba tiba di.RO.ni aku. Siapa sangka bapak satu itu baik banget. Bahkan saat beliau sudah pindah divisi, aku sudah pindah kerja, bapak masih saja menyempatkan setiap bulan menanyakan kabarku. Bapak masih saja menawarkan main ke tempat kerjanya. Bapak masih saja tanya kapan aku nikah. Bapak ada stock cowok g ya pak? Hha. Itu hal kecil yang beliau lakukan. Tapi aku sungguh merasa beruntung. Pak, terimakasih.
Duh pak, saya nangis nih nulisnya keingat almarhum bapak saya.
Pak Bams. Bapak satu ini juga baik banget. Bahkan sebelum kami menyadari bahwa bapak adalah ayah dari temen sekolahku. Humoris. Kata anaknya bapak g akan pernah menua karena selalu membuat tawa pada kami. Kalau sama pak Bams ini, walau saat datang bukan sama aku pasti ngajak bercanda aku. Kalau aku pas g ada selalu tanya dimana.
Aku g tahu bagaimana banyolan beliau selalu bisa membuat aku tertawa. Dan sempurna merubah moodku menjadi cerah. Beliau selalu aku nantikan datangnya. Benar benar bisa menjadi cermin bagi aku yang dulu tidak pernah peduli untuk menjadi cermin bagi orang lain.
Karena pak Bams adalah bapaknya Arda otomatis kan pak, njenengan juga jadi bapakku. Keramahan bapak sungguh luar biasa. Aku merasa diperhatikan oleh bapakku sendiri. Bahkan mau dibikinkan makanan. Menururku itu hal istimewa, pak. Sungguh. Aku akan datang pak. Datang kerumah bapak, sekalian ajak teman teman arda yang lain. Hha.
Apa boleh aku membandingkanmu dengan 2 bapak itu? Yang masih mau menyambutku dengan tangan lapangnya. Apa boleh aku membandingkanmu dengan 2 bapak itu? Yang tak perlu suatu alasan untuk tetap bisa saling menyapa. Apa boleh aku membandingkanmu dengan 2 bapak itu? Yang masih mau berbagi cerita walau hanya sesaat.
Jujur. Aku benar merindukan kalian. Benar. Tapi, hari ini aku telah menemukan 2 orang tua bagiku dan seorang teman yang mungkin hilang. Dan itu kamu.
-fin-

Senin, 14 Agustus 2017

Menyerah

Lelah
Begitu keluhku

Sudah inginku berhenti
Sudah inginku akhiri

Lelah
Begitu rengekku

Menyerah
Aku ingin menyerah saja
Menyerahkan semuanya
Entah kesiapa

Kau tak ada di depanku
Tak lagi bisa meraih tanganku
Untuk membuatku terus maju

Aku ingin menyerah

Rabu, 09 Agustus 2017

Di ujung malam

Saat mata enggan terlelap
Pikiran enggan kosong
Di sana ada kau
Di dalam pikiranku
Ada kau
Berputar putar
Keluar lah..
Ku mohon

Tak bisa?
Di sana masih ada kau
Tanyaku beramai ramai memenuhi pikiranku
Ada kau bersama tanyaku

Hilangkah kau?
Tak ku temui adamu
Kecuali di pikiranku
Tak ku temui ragamu
Kecuali terbayang di pikiranku
Tak ku temui sapamu
Kecuali tergiang di pikiranku

Di ujung malam
Dan mata enggan terlelap
Pikiran enggan kosong
Terisi tandatanya akan dirimu

Kita bersama

Aku suka
Saat kita bersama
Duduk menatap gelap malam
Aku suka
Saat kita bersama
Bercerita tentang banyak hal

Aku suka
Saat kita bersama
Dan kau berbicara apa saja
Aku suka
Saat kita bersama
Dan kau mendengarkan celotehku

Aku suka
Saat kita bersama
Melangkah berdampingan
Aku suka
Saat kita bersama
Menertawakan entah apa

Aku suka
Saat kita bersama

Selasa, 01 Agustus 2017

Aku sampai di puncak Merbabu

Minggu. 30 Juli 2017
Jam 08.15

Hallo..
Aku akhirnya naik Merbabu lagi setelah memendam rasa pengen naik gunung lagi. Yokatta. Takdir mempertemukan orang baru untuk menjadi teman berpetualang. Pun begitu pengalaman pertamaku naik Merbabu tetap terkenang dengan baik. Pengalaman pertama yang membuat aku mungkin jatuh cinta.

Akhirnya aku bisa naik Merbabu lagi via basecamp gancik. Sekarang Aku sedang duduk menghadap gunung Merapi. Sesaat setelah sampai puncak dengan perjuangan yang begitu melelahkan tapi akhirnya sungguh membahagiakan. Kabut mulai mendekati kami. Di belakangku ada view gunung Sindoro.

Awan bergerak cepat diikuti angin semilir. Sejuk. Matahari yang sedari tadi hangat perlahan lahan terhalang awan. Embun mulain menyentuh rerumputan lagi. Membasahi setiap helai daunnya. Segar.

Jam 08.21
Kabut sudah benar benar sempurna menutupi pemandangan di depan kami.  Gagahnya Merapi terlihat samar samar. Langit biru pun mulai tertutup.

Akhirnya yah. Aku bisa sejauh ini. Bang Dhan pernah bilang nanggung banget kalau g sampai puncak. Ya akhirnya bang.
Tadi aku berpapasan dengan 2 anak kecil, paling umur 8 tahunan. Dua adik kecil itu membuat aku termotivasi untuk bisa naik ke puncak seperti mereka. Seperti itu besok kita ajak anak anak kita ya kan? Hha. Sejak kapan ya aku mulai punya mimpi seperti itu. Hha. Duh nak, ibumu ini mengenal tanjakan gunung aja belum ada satu tahun. Mungkin sedikit terlambat. Mungkin juga tumbuh kembang ibumu ini yang melambat. Hha.

Aku menikmati terpaan matahari. Terimakasih, hari ini matahari benar benar bersinar indah. Alhamdulillah.

Aku sedang berpose sok syahdu sambil mengetik post ini. Samping kananku ada lelaki yang tertidur memeluk kameranya. Lemas. Ya gimana ga lemes, makan malamnya tidak habis, hanya masuk satu sendok. Mual katanya. Maaf ya mas. Malah aku yang mungkin ngotot naik sampai puncak tanpa mempertimbangkan keadaanmu. Duh.. terimakasih banget.
Lagi lagi ya, aku mengetik pos ini ditemani orang yang lagi tidur. Hha.

Dipuncak sana banyak kerumunan pendaki lain. Asyik sekali mengobrol. Mungkin kalau pergi beramai ramai asyik ya. Hhe. Kapan squad ranukumbolo bisa naik bareng lagi? Sekarang aku bisa lebih survive. Mau buang buang dimana mana juga bodo amat. Sekarang aku udah lebih kuat jalan jauh. Aku lebih kuat naik tanjakan. Aku bahkan bisa naik saat siklus bulananku baru memasuki hari ke 2. Hha. Semoga tidak anemia.

Oiya terimakasih untuk mase yang sudah berkenan meminjamkan sleepingbag yang ritnya susah hha. Adem mas. Minjemin matras yang menyelamatkanku dari dinginnya tanah. Minjemin kompor dan nesting yang menyelamatkan kami dari dahaga air kemebul pasca tremos kesayanganku hilang setelah jalan lagi dari pos 2.

Setelah ini bisa kemana lagi ya aku dengan siapa lagi? Hha.
Mauku sih denganmu lagi mas standup yang sekarang g lucu dan lebih serius. Sekali lagi mungkin. Fix. Aku kunci jadwal kemana lagi kita. Sebelum liburku entah kapan dan untuk siapa. 😅😅

Oke.. see you again Merbabu.. 😚