Sudah hampir empat bulan berlalu. Aku sudah tidak lagi bisa bertemu dengan mereka dan denganmu. Aku sudah tidak lagi bisa cerita dengan mereka dan denganmu.
Aku harus memulai lagi masa sulit. Aku harus kembali membangun mimpi dari awal yang mungkin dulu sudah seperempat jalan. Tapi aku malah harus mundur setengah lebih kebelakang. Merangkak lagi jauh di belakang garis start. Berharap di tengah perjalanan aku bertemu denganmu. Eh. Tapi sudah tidak mungkin bisa. Harapku sudah lenyap. Jadi mungkin ada orang lain yang akan menggantikanmu.
Aku harus memulai lagi masa sulit. Aku harus kembali membangun mimpi dari awal yang mungkin dulu sudah seperempat jalan. Tapi aku malah harus mundur setengah lebih kebelakang. Merangkak lagi jauh di belakang garis start. Berharap di tengah perjalanan aku bertemu denganmu. Eh. Tapi sudah tidak mungkin bisa. Harapku sudah lenyap. Jadi mungkin ada orang lain yang akan menggantikanmu.
Rindu.
Ah.. aku selalu terjebak sempurna dengan masa lalu. Ya, sebelum aku benar benar melupakan masa masa itu. Bisa saja aku lupa. Tapi tidak untuk melupakan mereka. Orang orang yang sudah datang dan pergi. Atau orang orang yang sudah aku tinggalkan.
Mungkin semua sudah lupa. Ini sudah hampir 4 bulan berlalu. Sudah tidak ada lagi pertanyaan "dimana?". Semua sudah terbiasa. Ada yang kembali tidak kenal. Ada yang malah menjadi teman. Ada yang menjadi teman kemudian terpaksa harus berakhir menjadi orang asing lagi. Seandainya kamu tahu, aku sedih. Salahku, pikirku begitu. Sehingga kau memilih untuk banyak diam dari pada ceramah seperti dulu.
Ya sudahlah.. anggap saja aku setuju dengan jalan pikirmu. Walau sejujurnya tidak sama sekali. Bahkan aku malah semakin ingin bisa banyak bercerita denganmu. Ah sudahlah. Inti dari cerita kali ini bukan kau.
Ah.. aku selalu terjebak sempurna dengan masa lalu. Ya, sebelum aku benar benar melupakan masa masa itu. Bisa saja aku lupa. Tapi tidak untuk melupakan mereka. Orang orang yang sudah datang dan pergi. Atau orang orang yang sudah aku tinggalkan.
Mungkin semua sudah lupa. Ini sudah hampir 4 bulan berlalu. Sudah tidak ada lagi pertanyaan "dimana?". Semua sudah terbiasa. Ada yang kembali tidak kenal. Ada yang malah menjadi teman. Ada yang menjadi teman kemudian terpaksa harus berakhir menjadi orang asing lagi. Seandainya kamu tahu, aku sedih. Salahku, pikirku begitu. Sehingga kau memilih untuk banyak diam dari pada ceramah seperti dulu.
Ya sudahlah.. anggap saja aku setuju dengan jalan pikirmu. Walau sejujurnya tidak sama sekali. Bahkan aku malah semakin ingin bisa banyak bercerita denganmu. Ah sudahlah. Inti dari cerita kali ini bukan kau.
Setelah sekian ratus hari aku lalui dengan rutinitas baru. Dengan segala hal yang harus mulai kupelajari dan kuingat ingat lagi dari awal. Dengan mereka orang lama dan baru aku kenal. Dengan segala cerita duka ceria yang mereka bagi.
Kadang aku lelah. Kemudian rindu sebelum aku disini. Aku bosan pada pertanyaan mereka "kenapa?". Biar aku simpan sendiri saja alasan itu. Daripada mereka malah menambah nambahi pikiran yang tak benar. Aku sudah memilih. Dan aku tau ada resiko dan apapun itu.
Kadang aku lelah. Kemudian rindu sebelum aku disini. Aku bosan pada pertanyaan mereka "kenapa?". Biar aku simpan sendiri saja alasan itu. Daripada mereka malah menambah nambahi pikiran yang tak benar. Aku sudah memilih. Dan aku tau ada resiko dan apapun itu.
Untung saja aku memiliki saudara di sini. Saudara yang malah aku kurangajari. Saudara yang tak sengaja bertemu. Saudara yang tiba tiba saja akrab. Saudara yang entah bagaimana bisa menjadi saudara. Hai Om, karena anda saya kadang merasa aman dan semakin seenakwudele dewe. Hha.
Dan juga pendistraksi ulungku di masa dulu ketika kebosanan menyerang. Sungguh bisa langsung merubah mood. Pak Gik dan Pak Bams. Namanya juga bapak bapak senior. Ngemong banget. Udah aku anggap kayak bapakku sendiri. Sungguh.
Tiba tiba kan kangen sama dua bapak itu. Tapi entah bagaimana bisa bertemu terus guyonan lagi. Kalau dulu sih, bapak bapakku ini pasti datang menemuiku sebulan sekali. Sekarang? Bagaimana ya. Hha.
Kalau diingat ingat takdir Allah itu indah ya. Dari ketidaksengajaan Pak Gik yang tiba tiba di.RO.ni aku. Siapa sangka bapak satu itu baik banget. Bahkan saat beliau sudah pindah divisi, aku sudah pindah kerja, bapak masih saja menyempatkan setiap bulan menanyakan kabarku. Bapak masih saja menawarkan main ke tempat kerjanya. Bapak masih saja tanya kapan aku nikah. Bapak ada stock cowok g ya pak? Hha. Itu hal kecil yang beliau lakukan. Tapi aku sungguh merasa beruntung. Pak, terimakasih.
Duh pak, saya nangis nih nulisnya keingat almarhum bapak saya.
Tiba tiba kan kangen sama dua bapak itu. Tapi entah bagaimana bisa bertemu terus guyonan lagi. Kalau dulu sih, bapak bapakku ini pasti datang menemuiku sebulan sekali. Sekarang? Bagaimana ya. Hha.
Kalau diingat ingat takdir Allah itu indah ya. Dari ketidaksengajaan Pak Gik yang tiba tiba di.RO.ni aku. Siapa sangka bapak satu itu baik banget. Bahkan saat beliau sudah pindah divisi, aku sudah pindah kerja, bapak masih saja menyempatkan setiap bulan menanyakan kabarku. Bapak masih saja menawarkan main ke tempat kerjanya. Bapak masih saja tanya kapan aku nikah. Bapak ada stock cowok g ya pak? Hha. Itu hal kecil yang beliau lakukan. Tapi aku sungguh merasa beruntung. Pak, terimakasih.
Duh pak, saya nangis nih nulisnya keingat almarhum bapak saya.
Pak Bams. Bapak satu ini juga baik banget. Bahkan sebelum kami menyadari bahwa bapak adalah ayah dari temen sekolahku. Humoris. Kata anaknya bapak g akan pernah menua karena selalu membuat tawa pada kami. Kalau sama pak Bams ini, walau saat datang bukan sama aku pasti ngajak bercanda aku. Kalau aku pas g ada selalu tanya dimana.
Aku g tahu bagaimana banyolan beliau selalu bisa membuat aku tertawa. Dan sempurna merubah moodku menjadi cerah. Beliau selalu aku nantikan datangnya. Benar benar bisa menjadi cermin bagi aku yang dulu tidak pernah peduli untuk menjadi cermin bagi orang lain.
Karena pak Bams adalah bapaknya Arda otomatis kan pak, njenengan juga jadi bapakku. Keramahan bapak sungguh luar biasa. Aku merasa diperhatikan oleh bapakku sendiri. Bahkan mau dibikinkan makanan. Menururku itu hal istimewa, pak. Sungguh. Aku akan datang pak. Datang kerumah bapak, sekalian ajak teman teman arda yang lain. Hha.
Aku g tahu bagaimana banyolan beliau selalu bisa membuat aku tertawa. Dan sempurna merubah moodku menjadi cerah. Beliau selalu aku nantikan datangnya. Benar benar bisa menjadi cermin bagi aku yang dulu tidak pernah peduli untuk menjadi cermin bagi orang lain.
Karena pak Bams adalah bapaknya Arda otomatis kan pak, njenengan juga jadi bapakku. Keramahan bapak sungguh luar biasa. Aku merasa diperhatikan oleh bapakku sendiri. Bahkan mau dibikinkan makanan. Menururku itu hal istimewa, pak. Sungguh. Aku akan datang pak. Datang kerumah bapak, sekalian ajak teman teman arda yang lain. Hha.
Apa boleh aku membandingkanmu dengan 2 bapak itu? Yang masih mau menyambutku dengan tangan lapangnya. Apa boleh aku membandingkanmu dengan 2 bapak itu? Yang tak perlu suatu alasan untuk tetap bisa saling menyapa. Apa boleh aku membandingkanmu dengan 2 bapak itu? Yang masih mau berbagi cerita walau hanya sesaat.
Jujur. Aku benar merindukan kalian. Benar. Tapi, hari ini aku telah menemukan 2 orang tua bagiku dan seorang teman yang mungkin hilang. Dan itu kamu.
-fin-

0 komentar:
Posting Komentar