Aha...
blog anak galau kembali bercerita.
Jadi,
Aku kira kepenatan ini akan mengalihkan semua pikirku. Tapi apalah kau hancurkan lamunanku. Berserakan dimana-mana. Dan saat aku sendiri, aku tak bisa memikirkannya.
Ingin ku menangis, tapi memang aku tak secengeng dulu. Ataukah memang sudah keringlah air mata ini.
Tak bisa keluar.
Aku ingin lupa. Karena ku tak mungkin lagi memohon pada Tuhan. Aku tak ingin menjadi orang jahat. Aku tak mau.
Aku ingin berlari, kemudian diam di tengah hingar bingar. Melebur dengan semua. Kemudian aku lupa.
Aku ingin berlari di tengah hujan. Menangis bersama rintik hujan. Kemudian aku lupa.
Aku lupa apa yang telah aku rasa.
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Mei 2016
Selasa, 17 Maret 2015
HUJAN KODE
Apasih? enggak jelas? Kode?
Pramuka kali,.
Hujan meteor sudah terlalu mainstream.
Apalagi jika ditonton sendirian, tanpa dia.
Kamu tahu rasanya dihujani kode? Enggak? Tanyakan pada dia.
Iya, dia yang hampir selalu aku hujani kode tapi tetap saja tidak tahu,
Atau mungkin dia memang pura-pura tidak tahu.
Ataukah ternyata kodeku dan kodenya berbeda.
Atau dia tidak punya alat untuk menerjemahkan kode dariku.
Astaga.. Aku hampir bosan tapi aku tidak bisa berhenti.
Berhenti menghujani kode.
Iyaaa.. Kode. Kode cinta.,
Mungkin yang bisa dia tangkap dari kode- kode itu adalah
Aku cerewet sekali
Aku menganggu sekali
Aku terlalu ikut campur
Aku tidak penting sekali
Hey stop.
Jika dia tahu sebenarnya kodeku itu adalah
Aku suka sekali padamu
Aku ingin yang terbaik untukmu
Aku cemburu padamu
Aku ingin kau tahu isi hatiku
Aku ingin kau memperhatikanku
Aku ingin kau... Sudahlah.,
Untuk apa aku melanjutkannya,.
Menghujani dia dengan kode
Sedangkan dia sibuk menerjemahkan kode dari orang lain
Sedangkan dia mengacuhkan aku
Hey.. aku ingin dia tahu, tulisan ini kode untuknya. Iyaa diaaaaaa..
''Hey kauuuu, Sadarlah...! Tanpa aku harus berteriak padamu dan semua.''
Pramuka kali,.
Hujan meteor sudah terlalu mainstream.
Apalagi jika ditonton sendirian, tanpa dia.
Kamu tahu rasanya dihujani kode? Enggak? Tanyakan pada dia.
Iya, dia yang hampir selalu aku hujani kode tapi tetap saja tidak tahu,
Atau mungkin dia memang pura-pura tidak tahu.
Ataukah ternyata kodeku dan kodenya berbeda.
Atau dia tidak punya alat untuk menerjemahkan kode dariku.
Astaga.. Aku hampir bosan tapi aku tidak bisa berhenti.
Berhenti menghujani kode.
Iyaaa.. Kode. Kode cinta.,
Mungkin yang bisa dia tangkap dari kode- kode itu adalah
Aku cerewet sekali
Aku menganggu sekali
Aku terlalu ikut campur
Aku tidak penting sekali
Hey stop.
Jika dia tahu sebenarnya kodeku itu adalah
Aku suka sekali padamu
Aku ingin yang terbaik untukmu
Aku cemburu padamu
Aku ingin kau tahu isi hatiku
Aku ingin kau memperhatikanku
Aku ingin kau... Sudahlah.,
Untuk apa aku melanjutkannya,.
Menghujani dia dengan kode
Sedangkan dia sibuk menerjemahkan kode dari orang lain
Sedangkan dia mengacuhkan aku
Hey.. aku ingin dia tahu, tulisan ini kode untuknya. Iyaa diaaaaaa..
''Hey kauuuu, Sadarlah...! Tanpa aku harus berteriak padamu dan semua.''
Label:
cerita hari ini,
hujan,
sajak
Kamis, 12 Desember 2013
girl in the rain
ini gambar yang aku buat pakai program "paint" di laptop. harapannya sih pengen buat ilustrasi cerita atau bahkan cover buku eh, novel saya. hha. tapi gak dink. wajahnya sedih. kita bikin lagi yang bahagia besok.
hem.. pengen jadi mangaka. tapi g jago gambar. hha, apalagi gambar ekstremitas *malu. tapi pengen sekali mematenkan carakter ini. ini lho karakter punya saya. masih bingung mau namain siapa. suka sih nama Hime, tapi juga lagi suka nama Ruki.
dilihat-lihat seperti gambar anak TK ya. tapi di situ seninya *pembelaan.
Minggu, 24 November 2013
KINKIN DAN MUSIM HUJAN
“Kin, seharian ini cemberut aja sih kamu.”
“Tuh liat, mendung.” Kinkin menunjuk langit hitam.
Musim hujan tahun ini sama. Membawa kebahagiaan bagi para petani. Tanaman padi menghijau dan siap panen tiap tahunnya. Air melimpah, tak ada ribut-ribut kekeringan lagi, yang ada banjir dimana-mana. Jelas keributannya lain lagi. Sama halnya dengan Kinkin, dia membenci musim hujan. Alasannya klise, basah tiap hari, cucian numpuk, pake mantel ribet tiap hari, dan satu hal lagi kamarnya bocor.
Hujan lebat sudah mengguyur kota sedari pagi. Membuat Kinkin dan mahasiswa lainnya enggan pergi kekampus. Hujan dari langit itu pasti akan menghapus dandanan rapi mereka. Kinkin bermalas-malasan, terhuyung masuk kamar mandi.
“Ntar sampai kampus juga basah lagi. Ih.. bisa ga sih tahun ini hujannya sebulan aja.” Kinkin menggerutu sambil masuk kamar mandi.
Titik-titik hujan sudah mulai mereda, tapi ya, masih saja bisa membasahi apapun yang berada diluar. Kinkin memakai mantelnya, memasukkan sepatunya ke dalam tas kresek hitam. Kostum ribetnya sudah terpasang rapi. Kinkin mengeluarkan motornya. Menerjang hujan pagi ini dengan terpaksa.
Banyak orang terpaksa di musim hujan ini. Kalau bisa sih semuanya punya mobil, jadi aman di jalan, aman dari rintik hujan. Pada kenyataannya mereka terpaksa berhujan-hujan ria. Ada yang menyambut bahagia tapi kalau orang seperti Kinkin, pasti hanya akan membuat gerutuan yang tak pernah berhenti sepanjang hari.
Kinkin masuk kelas dengan keadaan yang bisa dibilang tidak nyaman. Kedinginan, basah, padahal sudah memakai mantel. Beberapa anak lain juga sama dengan Kinkin, bahkan ada yang seperti habis nyemplung kolam, gara-gara malas pake mantel.
“Kog elu bisa kering kayak gitu sih, Mel?” Kinkin menghampiri Mela dan duduk disebelahnya.
Mela tersenyum sombong. “Iya dong, Gue kan dianterin Roni pake mobilnya. Ahahaha.”
“Ih, beruntung banget sih lu.” Kinkin merasa iri.
“Udah Kin, elu yang sabar aja ya?” Mela mencoba membesarkan hati Kinkin sambil menepuk-nepuk bahunya.
Kinkin memandang Mela dengan wajah cemberutnya, merasa tak adil.
Kuliah akhirnya ditemani dengan basah-basahan dan dingin-dinginan yang tidak nyaman. AC-nya juga tidak dimatikan, berhembus kencang menambah dingin.
“Aarrrgghhh, bisa ga sih, ga usah ada musim hujan aja.” Kinkin mulai mengeluh lagi, sambil menyendok makan siangnya.
“Ya ampun, Kin. Kamu dari tahun ke tahun ga pernah ganti topik ya? Keluhannya sama, ga kreatif lu. Elu tuh harus bersyukur kali. Hujan itu berkah. Dan doa elu itu ga bisa ngalahin doa para petani yang udah ngarepin hujan.” Mela berlagak sok Bijak.
“Gue ga suka hujan, Mel. Kamar gue bocor, basah semuanya. Dan gue ga suka.” Kinkin masih mengeluh.
“Jadi, alasannya cuma itu aja? Kinkin, itu kan tinggal dibenerin aja. Ya ampun ni anak bener-bener dah.”
“Ga semudah itu, Mel.”
Hujan masih menemani suasana kantin yang semakin memadat mendekati jam makan siang. Payung berjajar rapi. Basah dimana-mana. Becek. Membuat orang betah berlama-lama di kantin berharap beberapa menit lagi mungkin hujan reda. Kinkin dan Mela sengaja berlama-lama, sengaja menunggu hujan reda. Tapi hujan enggan untuk berhenti.
Suara rintik hujan mendamaikan. Saat tetes airnya menyentuh tanah, menyeruak bau tanah yang menenangkan. Sungai-sungai mati tiba-tiba hidup kembali, memainkan irama gemericik air yang terdengar menyegarkan. Pohon-pohon yang meranggas kembali bertunas dan menghijau. Katak-katak yang berhibernasi bersuka cita bernyanyi setiap hari. Pohon-pohon layu bangkit lagi untuk meneruskan hidupnya.
Kinkin merindukan suara sungai kecil disamping rumahnya, Kinkin merindukan hijaunya pepohonan di sekitar rumahnya. Itulah perasaan Kinkin kecil.
Hujan selalu menjadi romantisme tersendiri bagi beberapa orang. Di novel, di sinetron, di film-film layar lebar, mereka menggambarkan hujan adalah moment berharga bagi pasangan kekasih. Menangis tersedu dibawah rintikan hujan, menari-nari dibawah rintikan hujan. Semuanya tidak pernah seromantis itu menurut Kinkin saat ini. Kinkin lupa akan kerinduannya dengan musim hujan di masa kecilnya.
Bertahun-tahun Kinkin terkungkung pada perasaan bencinya pada hujan. Sampai akhirnya dia bertemu Aldi. Penyanyi indie yang menciptakan lagu yang kebanyakan bertema hujan. Kinkin menemukan romantisme hujan itu. Berhari-hari Kinkin selalu mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Aldi.
“Udah denger lagu baru Gue?” Aldi bertanya pada Kinkin
Kinkin mengangguk. “Iya.”
“Suka?” Aldi bertanya lagi.
“Iya.” Kinkin mengangguk lagi tanpa berkomentar penjang lebar.
Sore itu hujan gerimis turun, matahari bersinar, membuat pola pelangi terlihat dari kejauhan. Kinkin dan Aldi duduk berdua di Cafe. Mereka terdiam menikmati pemandangan merah kuning hijau di langit.
“Ini alasan kenapa gue suka banget sama hujan.” Aldi berkata sambil masih melihat pelangi. “Gue suka liat pelangi.”
Kinkin masih terdiam, kalau melihat pelangi sih Kinkin juga suka. Pemandangan langka. Tapi kan tidak setiap hujan pasti muncul pelangi.
“Tapi kan, ga setiap hujan muncul pelangi.” Kinkin memandang Aldi.
“Iya sih, tapi rintik hujan itu juga mengalun indah seperti nyanyian. Gue juga suka dengernya.”
“Tapi kalau rumah lu bocor, kan ga bisa menikmati rintik hujan dengan tenang.”
Aldi menatap Kinkin heran. “Elu kok mikirnya gitu sih, Kin. Lucu tau.” Aldi seketika tertawa.
Kinkin cemberut. Ini masalah kamar Kinkin yang bocor jadi dia tidak bisa menikmati rintik hujan dengan tenang.
“Pernah ga, elu mencoba benar-benar menikmati hujan?” Aldi bertanya pada Kinkin.
Kinkin menggeleng.
“Sekarang pejamkan mata lu, resapi tenangnya rintik hujan.” Aldi menutup matanya.
Kinkin merasa aneh dengan sikap Aldi. Ada gitu laki-laki seperti ini. Kinkin masih melihat Aldi yang menutup matanya. Perlahan Kinkin mulai mengikuti Aldi menutup mata.
Suara hujan saat kita terpejam memang beda. Terdengar damai, nyanyian yang sangat merdu. Kinkin merasakan suara rintik yang jatuh menyentuh dedaunan, tanah dan atap cafe. Terdengar lamat-lamat suara nyanyian Aldi menambah teduh sore itu. Kinkin mulai menikmatinya. Beberapa saat kemudian Kinkin membuka matanya. Dihadapannya sudah ada Aldi yang tersenyum melihat Kinkin.
“Bagus kan? Apa lagi ditambah lagu itu.” Aldi menunjuk speaker diatas mereka yang dari tadi melantunkan lagu-lagu Musim Hujan, band indie yang divokali Aldi.
Kinkin tersenyum. “Lumayan bisa mempengaruhi gue, lu.” Mereka berdua tertawa bersama sambil menikmati hujan di sore itu.
Setiap hari Kinkin mendengarkan lagu-lagu Musim Hujan. Di kampus dia memamerkannya pada Mela. Tapi Mela tidak terlalu menikmati lagunya, bukan tipe penyuka band indie. Mela suka karena lagu-lagu itu bisa membuat Kinkin berhenti mengeluhkan tentang musim hujan yang menjandi ritunitas setiap tahunnnya. Mela malah menggoda Kinkin menyebut-nyebut nama Aldi disetiap pembicaraan.
“Mel. Udah deh, Aldi itu Cuma temen gue, ga lebih dan ga kurang. Udah ah. Ganti topik.”
“Elu jangan bohong ama gue deh, Kin. Elu pasti suka Aldi kan? Buktinya sekarang elu ga pernah lagi ngeluh soal hujan semenjak ketemu Aldi. Iya kan? Suka kan?” Mela ngotot bertanya sampai Kinkin bilang kalau dia suka Aldi.
“ENGGAK SUKA, Mel.” Kinkin menekankan kalimatnya.
“Ah, pasti cuma belum aja kan?” Mela masih ngotot.
“Ehm.... Bisa jadi.” Kinkin tersenyum sambil berjalan meninggalkan Mela.
“Eh, tunggu dong, Kin.” Mela berlari ke arah Kinkin.
Dua sahabat itu berjalan dikoridor kampus, bercanda ditemani suara gemericik hujan yang turun sedari tadi pagi. Hujan mereda namun tetap menetes rintik-rintik, sinar matahari memberi kehangatan dihiasi pelangi yang melengkung indah dilangit. Kinkin sudah berhenti mngeluhkan hujan yang akan berlangsung beberapa bulan lagi. Kamarny tetap masih bocor, tapi setidaknya dia tidak terlalu mempermasalahkan itu lagi. Mungkin dia sudah bisa menikmati suara hujan yang turun menembus genteng kamarnya yang bocor. Karena hujan adalah awal kehidupan semuanya.




