RSS
Tampilkan postingan dengan label profesi ners. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profesi ners. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 September 2015

Balada anak profesi #3

mydramalist.info
Hallo ners aoi, 
Hallo kucingku aoi yg bahkan bulunya hitam legam tak ada unsur birunya 
Hallo code blue 

Astaga aku baru sadar kenapa perawat IGD itu bernama ners aoi, code blue. 
Abaikan kucingku aoi, 

Pa, ini hari pertama ku di IGD. 
Pa, apa aku mulai menyesali lagi ketika aku melewati bahkan sekarang berjaga di IGD.
Lagi-lagi aku berkata pada diriku sendiri ''seandainya dulu aku sudah profesi terlebih dahulu, mungkin kau masih di sini, pa''
Pa, walaupun begitu aku senang berada di IGD.
Tapi tidak saat tadi seorang bapak datang diantar anaknya yang berprofesi sebagai dokter.
Pa, dokter itu perempuan seperti aku. Dia menangis, memegangi tangan bapaknya.
Bukankah bapaknya mungkin juga malah merasa khawatir, karena anaknya yang dokter saja menangis.
Pun bila aku menjadi dia pasti aku juga menangis pa.
Pa, tiba-tiba bapak itu mengalami syok, aku teringat waktu itu pa. Aku benci mengingatnya. Aku sungguh benci.
Mataku pun mulai berkaca-kaca. Pa, seandainya dulu kau berada di ruang ini, akankah kau akan bertahan seperti bapak itu.

Pa, terimakasih bahkan disaat terakhirmu aku belajar banyak.
Terimakasih Pa. 


1Juni 2015
stase IGD

codebluecprclasses.com

Minggu, 12 April 2015

Balada anak profesi #2



Gimana sih rasanya kamu stase di anak ketika kamu merasa kamu enggak begitu suka anak-anak? Nakal, nangis, rewel, tanya terus smpe capek jawabnya.
Padahal itu semua adalah keunikan dari anak-anak. Tapi maaf sayang, embak masih sedikit tantrum dan imatur nih.

Ketika kamu merasa cuma jadi observer di stase anak. Saking ringkihnya mereka. Ya, maksudnya yang seumuran balita. Sampailah suatu hari saat jaga di PICU, aku merasa lelah, tentu saja bukan hanya karena faktor stase anak sebenarnya.
Terus tidak sengaja buka-buka buku panduan residen anak. Nemu quote yang lumayan bikin lumer hati.
seperti ini bunyinya :

''keberhasilan adl sisi lain kegagalan
Seperti tinta perak di balik awan keraguan
Dan kau tidak pernah tahu seberapa dekat tujuanmu
Mungkin sudah dekat,
Ketika bagimu terasa jauh Maka tetaplah berjuang
Bahkan ketika hantaman semakin keras
Ketika segalanya tampak sangat buruk
Kau tetap tak boleh berhenti''
-clinton hawell-

Minggu ke dua aku harus pindah ke bangsal. Entah akan seperti apa nantinya.
Saat pembagian pasien kelolaan aku tak akan menyangka penyakit pasienku akan sekomplek ini. SLE dengan komplikasi di beberapa organ tubuh. Terlihat jelas di tangan dan kakinya dengan urtikari. kuku-kukunya panjang, karena jika disentuh akan sakit. Selama 3hari berjaga aku malah cuek, kadang aku berfikir 'ah kita hanya belajar ngaskep saja kan? Bukan mengaplikasikannya.' pikiran yang kurang baik, saking merasa putus asa dengan keadaan dan ketidakreatifanku selama ini.
Hari ke empat, embak perawat menyuruhku memotong kuku an.D. An.D sedang tidur, aku bilang pd ibunya '' tidak usah dibangunkan bu.'' aku duduk disamping bed, mulai meraih jari kelingking an.D. Sedikit.sedikit. Aku memotong kuku jari kelingkingnya. Saat itu an.D langsung bangun, sakit katanya. Oh baiklah, pikirku. Tapi embak perawat bilang ''coba dikompres dulu biar empuk kukunya, atau gmn terserah kamu. Itukan pasien kelolaanmu''. Mendengar kalimat seperti itu rasanya, astaga embak aku harus bagaimana. Akhirnya aku membujuk-bujuk an.D. Ini jelas bukan keahlianku. Pada nyatanya jika keponakanku mulai berulah aku akan mulai bergulat dengan mereka, saking jengkelnya. Aku imatur sekali.
Beberapa menit aku masih membujuk, dan an.D masih bilang tidak hingga nadanya meninggi dan tangannya hampir melayang ke mukaku mungkin, tapi tertahan. Oke.oke. Embak pergi.
Saat seperti itu kadang aku merasa sedih. Tidak hanya kadang, tpi pasti sedihnya. Aku jadi berfikir, berfikir dan berfikir. Aku merasa sakit mendapat penolakan dari an.D. Aku memang tidak pantas menjadi perawat anak. Padahal toh, awal menjadi mahasiswa keperawatan aku merasa cocok menjadi perawat anak. Ternyata ya, aku salah.
Aku harus bisa membujuk anak itu, setidaknya aku bisa menjadi lebih baik. Menjadi teman an.D. Bukanya musuh dan diteriaki 'tidak' lagi.
Tak disangka hobi membeli buku cerita anak-anak yang baru saja aku geluti bisa menjadi solusi dari masalah ini. Seperti Om Damar (daun yang jatuh tidak akan membenci angin-tereliye), aku ingin bisa jadi pendongeng buat anak-anak. tapi itu hanya sekilas keinginan yang tidak pernah diniati untuk diwujudkan. Katanya ingin mebuat perpustakaan untuk anak-anak. Memenuhinya dengan buku-buku cerita, buku-buku ensiklopedia dan apapun itu yang mampu membuat anak-anak mau membaca. Lagi, lagi itu hanya angan-angan saja.
Sampailah aku berfikir, apakah perlu aku membacakan buku cerita untuk an.D, buku yang kemarin baru aku beli. Buku yang lama ingin aku beli. Cerita tentang sakura. Apa aku rela membagi buku itu untuk an.D.
Keragu-raguan terkadang menyelinap begitu saja saat bahkan kita sudah merasa yakin. Tak habis memikirkan itu, aku putuskan untuk tidur saja.
Pagi. Jumat. Aku putuskan membawa buku ceritaku, entah nanti apa aku jadi atau tidak membacakan cerita untuk an.D. Keterlambatan embak perawat yang satu ini emang keterlaluan ya dek, maaf kan embak. Pagi kecil. Aku mendapat jatah pagi kecil, waktu yang terlalu singkat. Jam 10. Aku bahkan belum menghampiri an.D. Selama jaga aku masih berfikir, aku harus membacakan cerita untuk anak itu. Aku harus. Saat jadwal jagaku sudah selesai dengan perlahan aku berjalan menuju kamar an.D.
''Hallo D, liat embak bawa buku cerita. Mau dibacain enggak?''
''tuh embak bawa buku cerita'' celetuk ibu D
An.D hanya mengangguk lemah.
''biasanya di rumah D baca buku enggak?''
An.D mengangguk.
''buku apa?''
''si kancil'' an.D menjawab lirih.
''biasanya baca sendiri?''
''iya.''
''sekarang embak bacain ya, nih bisa lihat gambarnya kan?''
''bacain'' an.D meminta
''iya. Embak bacain. Mau cerita yang mana ya? Ah ini aja yach.''
Aku bahkan lupa apa judul cerita yang aku bacakan untuk an.D saat itu.
''jadi D jangan sedih terus kayak pak J ya? Harus semangat biar cepet sembuh. Ya?''
An.D mengangguk.
''udah ya embak pulangi ulu, ini bukubya embak taruh sini. Besok pagi embak bacain lagi ya?''

'ya'' an.D mengangguk
Ah, aku merasakan perasaan bahagia saat itu. Lihatlah, aku berhasil menjadi pendongeng amatir untuk pertama kalinya. Aku berhasil.
Aku melangkah dengan ringan pulang, untuk kemudia berangkat lagi jam 9 malam nanti.
Mungkin aku tidak menyukai anak-anak, karena selama ini aku selalu mendapat penolakan dari mereka. Bagaimana tidak ditolak, bukannya berperan sebagai kakak, aku malah berperan sebagai musuh, menyaingi tantrum mereka. Dan lagi imatur kronik yang aku derita. Lihatlah anakmu ini buk.

Pagi. Sabtu pagi. Aku pulang jam 7 pagi. Ah aku sudah berjanji pada an.D untuk membacakan cerita lagi. Untuk yang terakhir kalinya.
''halo D. Gimana? Masih lemes? embak mau bacain cerita lagi. Mau enggak?''
An.D mengangguk
''embak pilihin ya, emh. Yang mana ya. Ini aja ya?''
Aku mulai membacakan cerita, dengan nada sumbang seorang pendongeng amatir. Lembar demi lembar terbaca.
''tante baik'' an.D tiba-tiba memuji embak perawat ini.
''ah, apa iya?'' aku tersenyum.
Ya Allah, aku berhasil menjadi baik untuk an.D. Aku senang. Senang sekali.
Aku kembali melanjutkan cerita. Hanya beberapa lembar saja cerita sudah selesai.
''mau embak bacakan lagi?''
An.D mengangguk.
Belum selesai cerita ke dua an.D meminta untuk berhenti.
''tante udah''
''iya, D istirahat dulu lanjutin bobok ya. Ini bukunya buat D ya? Besok kalau mau dibacakan minta ibu atau ayah. Embak uda enggak jaga di sini lagi.''
''pindah ya mbak?'' ibu D bertanya
''iya buk.''
''dimana?''
''dibangsal sebelah.'' aku tersenyum sambil menunjuk arah kiri.
''udah ya D, ini embak tinggal disini ya. cepet sembuh.'' aku mengelus sebertar kepala an.D kemudian pergi.

Buk, anakmu sudah mulai akur dengan anak kecil. Hebat bukan. Ah bagi beberapa orang ini hal sepele, tapi tidak untukku. Ini hal luar biasa.

Ku kira dulu aku merasa cocok menjadi perawat anak karena aku masih seperti anak-anak. Merasa akan mudah memahami mereka. Tapi nyatanya aku bahkan tersaingi oleh mereka (imatur kronik), ah ya, aku memang tahu perasaan mereka.
An.D menyadarkan tante ini, ah embak perawat ini. Makasih, sayang.

Terakhir, an.D pindah ke PICU sudah hampir seminggu. padahal kata ibunya 2 hari sudah bisa bercanda dengan ayahnya.
Dek, kamu harus kuat.


Selasa, 17 Maret 2015

BALADA ANAK PROFESI NERS #1

cerita jaga minggu, 
belum jaga tepatnya. 
Masih OTW jalan kaki dri kost ke RSST melewati persawahan padi hijau kanan kiri diterpa sinar matahari pagi yang begitu menyejukkan hati. 
Aku jalan santai, baru pertama brgkt jalan kaki,. dri arah utara ada ibu2 yg lagi olahraga pagi. Suara sepatunya terdengar sehingga aku menoleh kebelakang. Ibuny sendirian, jalanny semangat sekali. Aku abaikan (ckckckck). 
Setelah itu ibunya mencoba mendahului aku, tpi malah diakhir perjalanan hampir smpai RSST kami ngobrol sebentar., 
Ibu: misi mbak 
Aku: iya bu 
Ibu: mau kemana mba? 
aku: jaga bu 
Ibu: dimana? 
Aku: di RSST bu., 
Ibu: sudah kerja? 
Aku: belum bu, masih praktek. 
Ibu: dokter? 
Aku: bukan, profesi perawat bu, 
Ibu: ini daerah tegalyoso ya? 
Aku: iya bu (pdhl g ngerti, main iya.iya aja). Aslinya mana bu? 
Ibu: ********* (nyebutin tempat di klaten, aku lupa). Biasanny jalan2 di car free day, tpi tdi suami pegel2 jadi sendirian. 
Aku: lha putrane wonten pundi bu? 
Ibu: anak saya 4, yg 2 di jakarta, yg dua di...... (lupa). Cucu saya sudah 6. Bla.bla.bla. 
Aku: wah cucunya sudah banyak ya bu. 
Ibu: iya, mbak, menurut mb saya usianya berapa? 
Aku: 50an bu, 
(*mencapai klimaks ini, jeng.jeng.jeng) 
ibu: saya sudah 70 tahun 
Aku: ha?? 
(ya ampun, ibunya tu sehat sejahtera sentosa, segar bugar. Aku pun tertipu) 
Ibu: saya sering jalan jalan, saya makan bawang lanang tiap hari. bla.bla.bla. (ibunya menjadwalkan suplemen setiap harinya, dg berbagai macam vitamin). 
Aku: jalan2nya tiap minggu bu? 
Ibu: enggak, senin, kamis, minggu, tpi kalau minggu jaraknya lebih jauh. 
Aku: owh.. (kagum) 
Ibu: nenek saya dulu DM jadi saya mgj kesehatan, saya kan ada keturunan DM. Dulu nenek saya kelamaan tidur terus jdi punggungny luka2. 
Aku: iya bu klu DM memang lukanya susah sembuh, kesehatan memang kuncinya di makanan dan olahraga. 

sampailah kami berpisah saat sudah sampai di persimpangan. aku ke kanan dan ibunya ke kiri meneruskan perjalanan ke timur untuk hidup yang lebih sehat. 
Aku meneruskan jaga u/ hidup yg lebih mapan. :D 

Cerita pagi yg tak terduga, dan penuh inspirasi. 
Sayangi hidup anda, mari jaga kesehatan. 

Kamis, 12 Maret 2015

curhatan acak anak profesi



Hari ini aku akan bercerita secara acak sesuka hati. dari peristiwa satu minggu yang lalu hingga seminggu ini yang sudah berhasil aku lalui dengan cukup apik. Aku sekarang ada di Banyumas. Jauh dari rumah, jauh dari suasana dingin rumah yang aku rindukan, disini panas sih. Berkeringat dimana-mana, tidur  aja sampe basah.
Seminggu sebelum aku melangkah ke Banyumas, harusnya aku bias mengikuti acara tahlilan setahun kepergian bapakku. Seperti biasa ibuk selalu tidak bisa tenang sebelum acara selesai. Tapi sepertinya hari sabtu seminggu yang lalu, ketenangan ibuk terganggu oleh hal lain. Kita sedang duduk bersama, ada aku, ibu, dan mbakku. Sibuk di dapur. Ibuk sih Cuma duduk dan terlihat gusar.
“ibu kenapa?” tanyaku
“kamu itu lho.”
“aku kenapa, bu?”
“kapan nikahnya?”
Sesaat mendengar perkataan itu aku Cuma bisa tersenyum terus bingung harus jawab apa. Mbakku cuma diam tak membelaku. Astaga. Ibuk, aku masih anak bungsumu yang cengeng kan? Aku masih bisa bermanja kan?
“aku masih sekolah buk.” Pembelaanku.
“oh ya sudah kalau kamu masih sekolah.”
Ya, aku memang beberapa bulan yang lalu sudah wisuda, tapi ya beginilah masih meneruskan profesi hingga sekarang  aku terdampar di Banyumas. Kenapa ibuku tidak begitu paham? Aku hanya bisa bilang, ya karena wanita super itu kini sudah mulai menua, mungkin Cuma itu yang bisa jadi alasanku.
Berangkat ke Banyumas aku masih merasa kepikiran dengan pertanyaan ibuk. Aku tidak menyangka ibuk akan mengkhawatirkan aku. Aku kira aku akan selalu jadi anak bungsu kecilnya. Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa putri kecilnya sedikit sedikit mulai beranjak menjadi dewasa. Dengan sedikit penolakan. Sudah tidak kecil lagi, gegara weight gain. Sedih.
Ah sudahlah, aku masih harus menyelesaikan hal yang satu ini, kuliah. Sambil menunggu maybe my future husband melamar. Setidaknya kalau ada yang melamar pertama kali diantara A, B, C, dan D aku pasti terima tanpa syarat. Hahaha, banyak sekali ya ternyata. Tapi dalam doaku tetep kog Cuma A aja, dengan kemungkinan Si B, C, D, E dan seterusnya. Ah sudahlah. Aku masih harus menyelesaikan seminggu di Banyumas.
Seminggu di Banyumas, shock culture tentunya, dengan bahasa ngapak yang asing ditelinga walaupun biasanya dengerin di radio. Aslinya lebih parah ya, hahaha. Lumayan berhasil membuat aku berpikir keras untuk memahami sambil menahan tawa. Bermacam-macam tipe orang disini, yang bikin sakit hati sampai bikin happy. Kesan pertama memang beranekaragam.
Dengan keadaan rumah sakit yang jauh berbeda dengan RS, hal pertama yang terpikirkan adalah “aku amat sangat kangen RSS.”  Banyak hal berbeda, dan banyak hal yang tidak sesuai kenyataan.
Sebagai mahasiswa, kami diberi beban sebagai agent of change, dengan kenyataan yang amat sangat sulit untuk mengubah segala kebiasaan yang tidak sesuai trap di kehidupan nyata. Banyak factor yang mempengaruhinya. Dari fasilitas, pendanaan hingga SDM yang lebih suka di zona nyaman mereka. Semua itu berkaitan satu sama lain dan saling memberi alasan kenapa perubahan itu lambat sekali dilakukan.
Maka perubahan kecil yang lama-lama jadi bukit itu harus dimulai dari diri para agen terlebih dahulu. Tapi ternyata para agen ini terkendala lingkungan yang lama-lama menggerus idealisme mereka. Tergerus oleh cara salah, dan alasan-alasan yang membuat mereka pasrah akan keadaan.
Eh, tiba-tiba aku teringat oleh Pak W yang bekerja di kementrian kesehatan yang beberapa minggu lalu bertemu di RS dalam rangka penilaian tindakan keperawatan. Rasanya ingin bercerita tentang apa yang aku rasakan saat ini. Bagaimana yang harus aku lakukan. Tapi aku bingung harus mulai dari mana? Menyuarakan isi hati yang mungkin pejabat di atas bisa memiliki solusi walau sepertinya memang harus pelan-pelan.
Semoga saja kami bisa menjadi agen perubahan bagi negri ini. Dari hal-hal kecil kami.
Pada hari terakhir minggu pertama, kesan pertama yang tidak menyenangkan mulai meleleh. Rasa toleran mulai bisa dirasakan. Bisa mengerti, ya memang untuk saling akrab butuh proses, sama halnya dengan perubahan.
Duh, tiba-tiba aku ingin bekerja di tempat para petinggi pembuat kebijakan, atau peraturan atau manajemen. Padahal selama ini aku bukanlah orang yang bisa memimpin dengan baik. Sapa tau kan ya, maybe my future husband besok itu pejabat. Eh. Orang yang semangat melakukan perubahan seperti aku. Harusnya sih tidak harus menunggu suami untuk bias berubah dan melalukan perubahan. Mulai dari sekarang kita harus berubah. Yuks!
Yo…… cerita acak ini berlanjut. Hari ini tadi, aku anak gahul Banyumas menjadi anak gahul Purwokerto. Menikmati naik angkot yang sudah lama tidak aku rasakan. Kangen juga rasanya. Hha. 
Terakhir, dear ibuk.
Ibuk. Jangan khawatir. Tenang saja. Anakmu ini akan jadi agent of change. Ibuk, jangan khawatir. Anak bungsumu ini kuat kog buk. Ibuk jangan khawatir, masih setahun lagi anak bungsumu ini sekolahnya. Buk. I love you. Ibuk menantumu akan segera datang. <3