RSS
Tampilkan postingan dengan label gambar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gambar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juli 2017

Di bukit Kosakora

Akhirnya setelah sekian hari. Puluhan hari aku terpisah dari mereka. Kami dipertemukan lagi. Tidak mudah. Penuh drama, dan rengekan. Perjalanan kesekian kami ke tempat yang disebut kebahagiaan haqiqi. Hha.
Ceritanya di mulai dari grup chat "cus malang" diganti "cuss ngecamp 15 juli". Grup yang awalnya ada 8 orang juga bertambah. Wacananya sih yang akan ikut acara ini banyak ya. Sekitar sepuluh orang. Aku sih kagak ikut hitungan. Dari 8 orang, yang 3 sudah melepaskan diri dari rumah yang kita sebut kantor.
Jumlah orang yang ada sepuluhan orang itu tidak akan membuat mereka mempertimbangkan saya. Begitu sih pikirku di awalnya. Bayu otomatis udah g mungkin ikut karena ada di ibu kota negara. Aku sih manut yang ngajakin karena pulang kerja sudah jam 14.30 belum juga absen dan lain lain.
Grup yang awalnya rame bahas mau kemana siapa saja sampai mepet hari H malah sepi. G ada kabar. Setelah disimpulkan ternyata hanya ada lima orang yang ikut. Itupun aku sudah dihitung. Aku yang minta ditungguin biar bisa ikut. Abisnya aku pengen banget ikut, sama sama kalian lagi. Menertawakan satu sama lain lagi.
Oiya ini juga acara bridesshowernya Gama. Hem.. anak paling muda itu malah udah mendahului kita kita. Ya sudahlah. Setelah ini giliranku. Begitu kan ya bang? Hha. Semoga disegerakan juga. Jadi kalau kemana mana aku g harus ngributi kalian. Haha. Biar aku bisa pergi sendiri eh berdua sama si abang.
Jadilah formasi berdelapan. Minus Bayu dan bang Dhani. Si abangnya diajakin sekarang juga susah. Malah ada acara keluarga sendiri. Ya sudah digantikan mas Damar dan mas Rahmat. Tapi setelah mepet hari H, mas Rahmat g bisa ikut juga. Mas Rahmat harus mengantar bapak. Ya sudahlah.
Aku seneng sih, akhirnya mereka mau mempertimbangkan saya untuk ikut dalam rombongan camp. Terakhir camp sama mereka pas tahun baru 2017 di Ranukumbolo. Sama persis formasinya. Dengan orang orang ini lagi. Para amatiran ini lagi. Enggak kapok, malah pengen lagi dan lagi piknik sama mereka.
Tahu sendiri koplaknya orang orang ini. Apalagi omongannya Timi yang kadang g terduga dan nylekit. Haha. Aku masih pengen ketawa kalau inget. Nyebelin dan ngezelin banget.
Mas Ricky itu orangnya sok yes. Wkwkwk. Ampun bang. Kadang kadang bisa sok waras juga. Tiba tiba tausiah gitu kan. Yah sebagai orang paling tua ya memang harus lebih tobat ya. Hha.
Timi itu orangnya nylekit. Model hits sepurwokerto city. Bakat diturunkan langsung ke sang adik. Orangnya juga ngeselin dan nyebelin tapi bisa bikin ketawa.
Jojo. Ah sudahlah lupakan anak ini. Hha. Dulu dulunya sih jadi anak paling g jelas. Eh sekarang juga masih. Jangan percaya dengan apa yang dikatakan Jojo. Anak terenggakjelas bangetlah pokoe. Masih dengan kisah pencarian cintanya yang ditagih keluarga besar di kampung halaman.
Ikha. Pelukable girl banget, setiap ketemu peluk. Ketemu lagi peluk. Kami adalah terlemah dari yang lainnya. Anak yang g bisa lepas dari bakso.
Gama ini paling muda. Tapi tetep ya bos. Umi. Ustadzah. Dan lain lain. Yang paling realistis mungkin ya tapi kalau lagi edan ngezelin banget. Yo uis disekarep wae.
Sampai parkiran pantai langsung sholat dulu. Setelah siap siap, pake ada ibu ibu bilang "kalau lewat sana cuma tinggal lurus sampai kosakora. Kalau lewat sini naik turun lewat pantai naik lagi baru sampai kosakora". Kebayang kan itu jauhnya kosakora kayak apa. Sampai melewati gunung lembah gunung lagi.
Karena sudah masa bodo ya udah tetap pakai jalur panjang. Naik bukit pertama langsung nanjak banget. Disitu saya merasa "naik gini aja ngosngosan gimana mau muncak sampai merbabu", senyum kecut atas diri saya sendiri. Lemah banget dah. Udah gitu ya namanya juga naik sama para amatiran, bukannya bantuin nyenterin jalan terjal malah tinggal aja gitu. Padahal itu tanjakan batu karang nyrongat nyrongat.
Setelah beberapa menit naik akhirnya dapat trek turun setelah itu bonus hha. Track datar. Masih dengan jalanan yang tidak terlihat.
Di perjalanan mereka membahas sunset, dan kegagalan kami melihat sunset sepenuhnya ada di aku. Iya aku pulangnua baru jam 14.30. Aku liburnya cuma minggu doang. I'm so sad kalau ingat g se.available jaman dulu sama kalian. Jadwal kita sudah tak sejalan.
Setelah track datar, kita akan melewati lapangan rumput berundak. Tempat perkemahan yang diujungnya sana ada pantainya. Bagus. Masih sepi waktu itu. Kami bertemu dengan rombongan mas mas. Terus tanya arah kosakora. Wahaha. Yah kami lagi lagi lebih percaya perkataan mas mase daripada Jojo. Bahkan saat Jojo tidak berkata apa apa. Sebenernya itu ada jalannya tapi karena gelap kita asal loncat loncat aja. Hha. Bodoh.
Setelah itu kita melewati pantai pasir putih. Disitu sudah ramai banget. Kayak ada perkemahan gitu sama kegiatan kemahasiswaan. Enak banget. Empuk. Kalau tempat itu sepi pasti bagus banget. It can be our private beach. Memasuki pantai itu kita harus bayar 30ribu untuk 2 tenda. Mahal ya. Yah gimana lagi sudah sampai sana kog. Setelah menyebrangi lapangan pasir putih kita naik lagi ke the real bukit kosakora. Disitu kita bayar lagi 2ribu setiap orangnya.
Nanjaknya lebih curam lagi tapi ada pegangan bambunya. Sampai atas sudah ada beberapa tenda yang berdiri. Kira kira ada 4 mungkin. Dan what the... di atas situ ada warungnya dengan segala teknologi dan fasilitas yang ada. Namanya juga zaman modern.
Sampai di atas bukit langsung cari posisi mendirikan tenda. Kita mendirikan tenda di medan yang miring dan tanpa tedeng aling aling. Anginnya was wus was wus. Kita bawa dua tenda. Kapasitas 6 orang yang diisi 4 orang lelaki. Dan tenda kapasitas 2 orang yang diisi 3 gadis cantik. Jadi posisi cewek cewek tidurnya itu berjajar melebar sehingga kaki nekuk. Saat itu sungguh menyiksa sekali. Udah kalau benerin posisi naikkin kepala ntar mlorot lagi. Gama pas dapat ujung sleregan jadi kakinya bisa keluar. Ikha yang paling tinggi dan paling nekuk kakinya anteng banget. Wkwkwk.
Setelah mendirikan tenda selesai, Gama goreng nugget. Menu andalan banget itu. Nugget letoy. Tapi karena jarak camp deket perlengkapan masak disponsori mas Ricky ada kompor, teflon, panci dan piring. Yah mayan lah ya. Belum juga mateng Jojo udah makan bekal duluan. Diikuti kita semua. Setelah makan kenyang. Menempatkan diri masing masing. Duduk duduk sambil sesekali bilang "langitnya keren banget", "itu milkyway", "itu rasi bintang apa?", "eh ada bintang jatuh". Buatku, akhirnya aku bisa camp di pantai dan melihat mahadahsyatnya pemandangan langit dengan bintang jatuh. Yah lumayan lah walau bukan hujan meteor. Sudah cukup bagiku. Habisnya camp waktu di private beach itu mendung dan malah tidur aja kita. Bbzzzzz.
Aku duduk di tenda sama ikha yang tidur. Di seberang kiri ada Gama sama Timi yang lagi asyik cerita tentang masa lalu alahembuhnya dan masa lalu awal kerjanya. Di depan kanan ada mas Damar duduk sambil dengerin musik. Di belakang ada Jojo yang sudah tidur. Mas ricky ngegame.
Aku masih sibuk memandangi langit. Berteriak excited saat melihat bintang jatuh. Sudah bukan jamannya make a wish sama bintang jatuh, kalau mau make a wish ya berdoa meminta sama Allah. Siapa yang dulu kemakan adegan drama korea taiwan dan dorama. Wkwkwk. Ya itu aku. Hha.
Akhirnya, Gama masuk tenda tidur sama Ikha. Timi ngapain ya? Aku lupa. Mas ricky bangun duduk lagi di depan tenda cewek main game lagi. Aku masih duduk menghadap laut dan langit. Memandang kerlip bintang. Mas Ricky ngegame sambil ngasih tausiah ke aku. Aku dengerin mas Ricky, lihat bintang sambil chat. Semua sudah tertidur. Di sebelah kanan depan ada rombongan baru yang lagi bikin tenda dan api unggun.
Aku sama mas Ricky masih terjaga sampai melewati tengah malam. Hingga lelah. Kemudian aku masuk tenda terlelap. Mas Ricky menyusul cowok cowok lainnya tidur. Sayup sayup suara merdu gitaran grup sebelah terdengar. Sumpah.. bagus banget suara mas masnya. Hha.
Pas tidur kaki kita kan ketekuk tuh, soalnya tenda kapasitas 2 dipake bertiga dengan posisi yang salah. Hha. Udah tanahnya g rata. Jadi aku tidurnya mlorot. Kakinya mau aku keluarin eh bukaan pintu tenda ada di sisinya gama. Mau di buka pintunya di depan kan tenda cowok cowok tak di kenal.
Akhirnya aku habiskan malan di kosakora dengan posisi tidur yang g well. Jam 04.30 alarm harian yang terprogram kayak minum obat rutin itu menyala dari hape saya. Kami bangun subuh subuh. Langsung keluar tenda dengan muka bantal. Berbondong bondong menuju arah timur. Menjemput sunrise. Agak mendung dan tertutup oleh pohon pohon. Kami dapat semburat kuning keemasan saja di langit timur.
Selesai menyapa sunrise yang yah.. seperti itu. Hha. Kami kembali ke tenda. Mas Ricky sama Ikha udah mulai menggodok air untuk minum dan bikin popmie. Sama goreng nugget letoy. Makanan favorit camp kami. Nugget letoy. . Jatah air minum sudah dibagi rata. Jatah air popmie sudah dibagi rata. Nugget yang rasanya sudah berubah sampai sisa sisa.
Aku kayaknya masuk angin. Makan mie sudah harus dipaksa paksa biar ketelen. Mual. Terobati sama photo session. Wkwkwk. Dasar.
Ya.. setelah itu kami berfoto foto ria. Beberapa orang yang camp di bawah mulai memadati bukit kosakora. Ramai. Sampai matahari mulai meninggi dan orang orang mulai turun bukit. Kami masih asyik poto poto sampai tidak bosan. Sampai hasilnya mbuh. Sampai ah sudahlah.
Jam waktu dhuha, kami berkemas. Turun bukit. Haaaahh.. rasanya lega banget. Seneng juga bisa pergi sama anak anak ini lagi. Bersyukur banget bisa kenal dan seangkatan sama anak anak petualangan amatir ini. Wkwkwk. Yang aslinya kalau main tuh ke mall, bukan ke tempat rimba.
Pulang dengan perjalanan yang lebih cepat. Dengan medan yang sudah dikenali setelah hari terang benderang. Dan baru sadar semalaman  lewat jalan yang tidak seharusnya. Wkwkwk.
Tanpa mandi dan berbenah diri kami cus pulang. Lewat jalan embuh, jalan asing yang mungkin baru pertama kali di lewati. Tujuannya mau makan nasi merah. Setelah lama banget akhirnya sampai. Gama tidur mulu di perjalanan. Dasar ibuk ibuk pkk.  udah kayak ibu RT yang kecapekan ngurusi anak kamu, Gam. Wkwkwk.
Sampai tempat makan pesan dong dengan seseasalnya mulut berucap. Kenyang iya. Enak iya. Sampai kasir. Hem... hem... ya.ya.ya. hem... wkwkwk. Habisnya lumayan ya. Yah namanya juga tempat makan direksi ya habisnya juga kayak harga direksi dong. Kan para calon direksi. Aamiin.
Kenyang pulang. Jojo nyetir sendirian. Penumpangnya pada molor semua. Wkwkk.
Yeaaayyy..
Agenda berikutnya..?
Wakatta.. aku g bisa ikut lagi, kalau lagi lagi ngajaknya hari sabtu. Oke fine. Beginilah nasib orang 6 hari kerja. Yah begitu kadang saya rindu 5 hari kerja. Tapi setelah dipikir pikir ya sama aja sih ya. Namanya juga sehari 12 jam sama sehari 8 jam kerja. Yeaayy.
Di lain kesempatan jika aku bisa kembali bergabung. Semoga yah.

Selasa, 23 Mei 2017

Tentang mereka

Ini adalah hasil gambar dari tunyukan telunjuk tangan kanan. Di tunyukkan ke layar HP samsung J7 dengan fitur instastory.
Jadi seperti inilah hasil karya yang tercipta dari hal yang kita sebut "kurang gawean". And i love it. 

Senin, 28 November 2016

Doodledoodling. Like to drawing (future with you)

Akhir-akhir ini aku rindu banget bisa gambar-gambar. Selama ini aku emang nggak kosisten sih. Cuma pas moody aja. Satu yang masih sebenernya aku rindukan juga. Orek-orekan di kertas buram bekas kopian proposal kegiatan bbt tonti pas SMA. Kumpulan kertas itu saksi betapa rajinnya diri ini dulu waktu pelajaran. Disitu juga ada gambar yang menurut aku paling niat yang pernah aku buat juga. Tapi mungkin kalau dilihat di jaman sekarang pasti jauh banget. Hahaha. Yah kita kan berproses jadi lebih baik kan ya.
Jadi kemanakah orek-orekan itu. Seingetku kertas itu sudah lenyap entah kemana. Mungkin saat erupsi 6 tahun silam. Saat seisi rumah isinya pasir dan debu. Rusak. Trus hancur.
Aku mulai lagi gambar. Aku tau kog. Ini nggak bagus. Tapi bisa mengobati kebosanan ku. Karena kadang nggak semua bisa dituliskan makanya digambarkan. Hha.
Galeri kertas putih hitam tinta

Senin, 31 Agustus 2015

GRADUATION

Apa kabar kamu yang berjuang demi kata yang kita sebut “Graduation”. Kamu yang menunggu orang-orang berlari dengan senyum kearahmu kemudian berucap “Happy Graduation”.
Perkenalkan, aku adalah the most annoying people yang selalu bertanya padamu “Kapan Lulus?” Yang selalu membuat lidah kelu karena memang tak tahu kapan takdir berjudul “Lulus” itu akan tiba.
Orang paling nyebelin ini, hanya bisa jadi nyebelin demi kamu bisa bergelar “Sarjana”. Kemudian kamu bisa berbangga hati menyenangkan orang tua dan calon pendamping hidup alias “Jodoh”.
Kamu lebih suka menghindariku?
Ya aku tahu itu.
Maka sesungguhnya,
Akulah orang itu, yang ingin berlari dengan senyum kearahmu kemudian berucap “Happy Graduation”. Akulah orang yang akan menunggu hingga kau “Lulus”. Akulah orang yang rela menjadi pendampingmu dan bisa menyapa “Hallo Tante Dan Om” pada orang tuamu.
Aku the most annoying people yang selalu bertanya padamu “Kapan Lulus?”


Demi masa depan kita.











Minggu, 12 April 2015

Balada anak profesi #2



Gimana sih rasanya kamu stase di anak ketika kamu merasa kamu enggak begitu suka anak-anak? Nakal, nangis, rewel, tanya terus smpe capek jawabnya.
Padahal itu semua adalah keunikan dari anak-anak. Tapi maaf sayang, embak masih sedikit tantrum dan imatur nih.

Ketika kamu merasa cuma jadi observer di stase anak. Saking ringkihnya mereka. Ya, maksudnya yang seumuran balita. Sampailah suatu hari saat jaga di PICU, aku merasa lelah, tentu saja bukan hanya karena faktor stase anak sebenarnya.
Terus tidak sengaja buka-buka buku panduan residen anak. Nemu quote yang lumayan bikin lumer hati.
seperti ini bunyinya :

''keberhasilan adl sisi lain kegagalan
Seperti tinta perak di balik awan keraguan
Dan kau tidak pernah tahu seberapa dekat tujuanmu
Mungkin sudah dekat,
Ketika bagimu terasa jauh Maka tetaplah berjuang
Bahkan ketika hantaman semakin keras
Ketika segalanya tampak sangat buruk
Kau tetap tak boleh berhenti''
-clinton hawell-

Minggu ke dua aku harus pindah ke bangsal. Entah akan seperti apa nantinya.
Saat pembagian pasien kelolaan aku tak akan menyangka penyakit pasienku akan sekomplek ini. SLE dengan komplikasi di beberapa organ tubuh. Terlihat jelas di tangan dan kakinya dengan urtikari. kuku-kukunya panjang, karena jika disentuh akan sakit. Selama 3hari berjaga aku malah cuek, kadang aku berfikir 'ah kita hanya belajar ngaskep saja kan? Bukan mengaplikasikannya.' pikiran yang kurang baik, saking merasa putus asa dengan keadaan dan ketidakreatifanku selama ini.
Hari ke empat, embak perawat menyuruhku memotong kuku an.D. An.D sedang tidur, aku bilang pd ibunya '' tidak usah dibangunkan bu.'' aku duduk disamping bed, mulai meraih jari kelingking an.D. Sedikit.sedikit. Aku memotong kuku jari kelingkingnya. Saat itu an.D langsung bangun, sakit katanya. Oh baiklah, pikirku. Tapi embak perawat bilang ''coba dikompres dulu biar empuk kukunya, atau gmn terserah kamu. Itukan pasien kelolaanmu''. Mendengar kalimat seperti itu rasanya, astaga embak aku harus bagaimana. Akhirnya aku membujuk-bujuk an.D. Ini jelas bukan keahlianku. Pada nyatanya jika keponakanku mulai berulah aku akan mulai bergulat dengan mereka, saking jengkelnya. Aku imatur sekali.
Beberapa menit aku masih membujuk, dan an.D masih bilang tidak hingga nadanya meninggi dan tangannya hampir melayang ke mukaku mungkin, tapi tertahan. Oke.oke. Embak pergi.
Saat seperti itu kadang aku merasa sedih. Tidak hanya kadang, tpi pasti sedihnya. Aku jadi berfikir, berfikir dan berfikir. Aku merasa sakit mendapat penolakan dari an.D. Aku memang tidak pantas menjadi perawat anak. Padahal toh, awal menjadi mahasiswa keperawatan aku merasa cocok menjadi perawat anak. Ternyata ya, aku salah.
Aku harus bisa membujuk anak itu, setidaknya aku bisa menjadi lebih baik. Menjadi teman an.D. Bukanya musuh dan diteriaki 'tidak' lagi.
Tak disangka hobi membeli buku cerita anak-anak yang baru saja aku geluti bisa menjadi solusi dari masalah ini. Seperti Om Damar (daun yang jatuh tidak akan membenci angin-tereliye), aku ingin bisa jadi pendongeng buat anak-anak. tapi itu hanya sekilas keinginan yang tidak pernah diniati untuk diwujudkan. Katanya ingin mebuat perpustakaan untuk anak-anak. Memenuhinya dengan buku-buku cerita, buku-buku ensiklopedia dan apapun itu yang mampu membuat anak-anak mau membaca. Lagi, lagi itu hanya angan-angan saja.
Sampailah aku berfikir, apakah perlu aku membacakan buku cerita untuk an.D, buku yang kemarin baru aku beli. Buku yang lama ingin aku beli. Cerita tentang sakura. Apa aku rela membagi buku itu untuk an.D.
Keragu-raguan terkadang menyelinap begitu saja saat bahkan kita sudah merasa yakin. Tak habis memikirkan itu, aku putuskan untuk tidur saja.
Pagi. Jumat. Aku putuskan membawa buku ceritaku, entah nanti apa aku jadi atau tidak membacakan cerita untuk an.D. Keterlambatan embak perawat yang satu ini emang keterlaluan ya dek, maaf kan embak. Pagi kecil. Aku mendapat jatah pagi kecil, waktu yang terlalu singkat. Jam 10. Aku bahkan belum menghampiri an.D. Selama jaga aku masih berfikir, aku harus membacakan cerita untuk anak itu. Aku harus. Saat jadwal jagaku sudah selesai dengan perlahan aku berjalan menuju kamar an.D.
''Hallo D, liat embak bawa buku cerita. Mau dibacain enggak?''
''tuh embak bawa buku cerita'' celetuk ibu D
An.D hanya mengangguk lemah.
''biasanya di rumah D baca buku enggak?''
An.D mengangguk.
''buku apa?''
''si kancil'' an.D menjawab lirih.
''biasanya baca sendiri?''
''iya.''
''sekarang embak bacain ya, nih bisa lihat gambarnya kan?''
''bacain'' an.D meminta
''iya. Embak bacain. Mau cerita yang mana ya? Ah ini aja yach.''
Aku bahkan lupa apa judul cerita yang aku bacakan untuk an.D saat itu.
''jadi D jangan sedih terus kayak pak J ya? Harus semangat biar cepet sembuh. Ya?''
An.D mengangguk.
''udah ya embak pulangi ulu, ini bukubya embak taruh sini. Besok pagi embak bacain lagi ya?''

'ya'' an.D mengangguk
Ah, aku merasakan perasaan bahagia saat itu. Lihatlah, aku berhasil menjadi pendongeng amatir untuk pertama kalinya. Aku berhasil.
Aku melangkah dengan ringan pulang, untuk kemudia berangkat lagi jam 9 malam nanti.
Mungkin aku tidak menyukai anak-anak, karena selama ini aku selalu mendapat penolakan dari mereka. Bagaimana tidak ditolak, bukannya berperan sebagai kakak, aku malah berperan sebagai musuh, menyaingi tantrum mereka. Dan lagi imatur kronik yang aku derita. Lihatlah anakmu ini buk.

Pagi. Sabtu pagi. Aku pulang jam 7 pagi. Ah aku sudah berjanji pada an.D untuk membacakan cerita lagi. Untuk yang terakhir kalinya.
''halo D. Gimana? Masih lemes? embak mau bacain cerita lagi. Mau enggak?''
An.D mengangguk
''embak pilihin ya, emh. Yang mana ya. Ini aja ya?''
Aku mulai membacakan cerita, dengan nada sumbang seorang pendongeng amatir. Lembar demi lembar terbaca.
''tante baik'' an.D tiba-tiba memuji embak perawat ini.
''ah, apa iya?'' aku tersenyum.
Ya Allah, aku berhasil menjadi baik untuk an.D. Aku senang. Senang sekali.
Aku kembali melanjutkan cerita. Hanya beberapa lembar saja cerita sudah selesai.
''mau embak bacakan lagi?''
An.D mengangguk.
Belum selesai cerita ke dua an.D meminta untuk berhenti.
''tante udah''
''iya, D istirahat dulu lanjutin bobok ya. Ini bukunya buat D ya? Besok kalau mau dibacakan minta ibu atau ayah. Embak uda enggak jaga di sini lagi.''
''pindah ya mbak?'' ibu D bertanya
''iya buk.''
''dimana?''
''dibangsal sebelah.'' aku tersenyum sambil menunjuk arah kiri.
''udah ya D, ini embak tinggal disini ya. cepet sembuh.'' aku mengelus sebertar kepala an.D kemudian pergi.

Buk, anakmu sudah mulai akur dengan anak kecil. Hebat bukan. Ah bagi beberapa orang ini hal sepele, tapi tidak untukku. Ini hal luar biasa.

Ku kira dulu aku merasa cocok menjadi perawat anak karena aku masih seperti anak-anak. Merasa akan mudah memahami mereka. Tapi nyatanya aku bahkan tersaingi oleh mereka (imatur kronik), ah ya, aku memang tahu perasaan mereka.
An.D menyadarkan tante ini, ah embak perawat ini. Makasih, sayang.

Terakhir, an.D pindah ke PICU sudah hampir seminggu. padahal kata ibunya 2 hari sudah bisa bercanda dengan ayahnya.
Dek, kamu harus kuat.


Sabtu, 03 Januari 2015

cookieming


hello, ini kisah dari seekor kucing malang yang kami pungut dari kerasnya dunia luar. kami berikan makanan kesukaan, kami elus-elus, dan kami bermain bersama.
kami menemukannya di dekat sebuah lapangan tenis di samping depan rumah singgah sementara kami. aku menamainya cookie karena warnanya coklat kayak cookies, tapi selly lebih suka manggil ming-ming. sehingga sebagai jalan tengahnya, aku gabung saja namanya jadi cookieming.
kehadiran cookie tentu membuat penghuni rumah yang ada 10 orang makhluk absurd tak beraturan ini berseteru antara harus merawatnya atau membiarkannya hidup di jalanan. kami sebagian yang memang cew-cew pecinta binatang dan cow-cow penakut binatang (risih aja sih).

Jumat, 14 Maret 2014

TUAN MONSTER BUAYA


23 april 2013
Dear diary.
Sepertinya hari ini Chiro marah padaku. Dia tidak mau menyapaku. Dia menghindariku. Dia duduk jauh dari aku. Aku sedih sekali.
Semoga suatu saat perasaan ini bisa tersampaikan padanya.
Aku menyukai Chiro

Kiku
Aku tutup buku diaryku. Aku kunci rapat-rapat. Aku letakkan diantara buku-buku dirak. Ditaruh di bagian yang paling dalam. Jangan sampai ada yang tahu. Aku berbalik menuju kasur empukku. Merebahkan badan yang seharian ini dibuat lelah oleh tingkahku sendiri. Aku memang sedikit hiperaktif di sekolah. Sama hiperaktifnya kalau itu berhubunngan  dengan Chiro.
Mataku menerawang kelangit-langit kamar. Terbayang wajah Chiro disana. Aku segera mengaburkan bayangan Chiro dari otakku. Tidak seharusnya aku melakukan hal konyol seperti ini. Mengkhayalkan Chiro. Kiku kamu harus fokus belajar. Jadi pembela kebenaran dan keadilan.
Aku masih saja kepikiran dengan kejadian tadi siang di sekolah. Chiro pasti marah sekali ya. Chiro pasti akan menghindariku. Ih, apaan sih, aku kan tidak melakukan hal yang merugikan dia. Menurutku sih begitu. Aku kan hanya membaca buku catatan pelajarannya saja. Itu kan bukan buku rahasia. Kecuali pas aku baca satu kalimat di balik sampul bukunya itu. Aku kan tidak sengaja.
Dan aku lelah sekali hari ini.
***
Aku sudah duduk rapi bersama Cika disamping kananku. Hari ini ada acara pertunjukan sulap. Entah bagaimana bisa ada pertunjukan sulap di sekolah. Yang pasti semua anak terlihat sangat antusias. Aku duduk di pinggir, sengaja agar mudah keluarnya. Tepat di depanku ada Shely dan anak-anak dari kelas lain yang tidak begitu aku kenal.
Chiro datang dari arah belakang. Kemudian dia duduk di samping Shely. Chiro tidak menyapaku. Dia hanya diam. Rasa-rasanya aku ingin sekali menyapanya. Tapi aku sedikit ragu. Kemarin Chiro memperlihatkan wajah kesalnya padaku bahkan setelah aku minta maaf. Mungkin saja hari ini dengan menyapanya, dia akan kembali tersenyum padaku seperti dulu.
Sebelum aku sempat ingin menyapa Chiro, dia beranjak dari kursinya. Menyadari kehadiranku. Mungkin masih marah. Aku beranikan diri untuk memanggilnya.
“Chiro.”
Chiro berbalik arah melihatku, dan hanya terdiam.
“Kamu masih marah sama aku?”
Chiro masih saja terdiam.
“Masih marah?” aku kembali bertanya,
Dan Chiro tetap diam.
“Chiro.” Aku memanggilnya kemudian terdiam saat Chiro hanya diam dan duduk di seberang barisan tempat aku duduk.
Dia pasti kesal sekali. Aku kan tidak menceritakan apa yang aku baca ke semua orang. Aku kan tidak sengaja. Dan itu kan karena Chiro bodoh yang menulis hal seperti itu di buku pelajarannya. Chiro yang salah. Aku membela diri. Aku juga merasa sedih sekali.
Pertunjukan sulap segera dimulai. Aku bahkan kesulitan melihat tukang sulapnya. Tiba-tiba saja aku ditarik ke depan. Di atas panggung ada seekor buaya mini. Astaga, buayanya bisa berdiri, seperti robot atau mainan anak-anak. Buaya itu memakan sesuatu, entah apa. Dan seketika muncul buaya kecil lagi di sampingnya. Ini bukan sulap macam trik-trik yang sering aku tonton di TV. Terlalu ajaib.
Chiro berdiri disampingku. Saat itu aku merasa ada yang salah dengan pertunjukan ini. Cika berlari kearahku dan berada dibelakangku.
“Kita harus lari.” Aku berteriak
            Belum sempat aku berlari, Chiro terkena semburan buaya kecil itu. Dan Foala.. chiro berubah jadi buaya yang besar.
            “Kita harus berubah, sailor venus.” Aku berteriak ke arah cika.
            Alhasil kami sudah berubah menjadi dua prajurit cantik pembela kebenaran dan keadilan. Sailormoon dan sailor V.
            “Lari!” kami berlari berlainan arah saat dua buaya kecil itu berlari ke arah kami.
            Chiro yang menjadi buaya mengamuk.
            “Apa aku harus mengeluarkan Tiara?” Batinku  sebagai sailormoon.
            “Gunakan Tiaramu.” Sailor V  berteriak ke arahku.
            Aku ancang-ancang mengeluarkan jurus andalan sailormoon. Berpose anggun sambil tanganku berada di kening. Aku mengejar Chiro si monster buaya.
            “Moon Tiara Action.” Aku arahkan tiara ke arah monster buaya.
***
Kringgggg.....kringgggg......kringggg.......
Aku raih jam weaker disampingku. Aku usap-usap mataku. Melihat ke arah jarum jam. Jam 6. Masih ada waktu untuk siap-siap ke sekolah. Aku merasa sudah melakukan petualangan yang aneh. Aku berpikir keras. Apa ya? Aku mimpi melawan monster buaya.
“Kenapa monsternya Chiro?” Aku masih belum paham.
Alam bawah sadarku terlalu terpengaruh dengan kejadian-kejadian yang menyangkut nama Chiro. Aku khawatir bahwa apa yang ada dalam mimpi itu akan jadi nyata. Pertanda buruk. Feeling-ku memang terkadang bisa mendekati benar.
Tanpa berlama-lama aku langsung berangkat sekolah setelah makan sepotong roti tawar keju buatan mama. Aku kayuh sepedaku. Memang jarang sekarang yang ke sekolah naik sepeda. Tapi karena sekolah lumayan dekat aku pake sepeda. Ini juga lebih sehat kan. Dan lagi, Chiro juga suka naik sepeda. Dua tahun ini, aku suka sekali mengkayuh sepedaku di belakang Chiro. Selalu saja begitu. Pagi ini juga. Chiro jauh didepanku. Aku kayuh lebih kencang lagi, menyisakan jarak 2 meter dengan sepeda Chiro.
“Tuan Monster Buaya. Tega sekali kau masuk dalam mimpiku.” Aku bergumam sepanjang jalan. Itu julukan baru untuk Chiro, gara- gara mimpi semalam. Itu cocok sekali kan, “Tuan Monster Buaya”. Kalau aku bisa tiara Chiro, mungkin aku pengen menyadarkan dia agar menyukaiku.
Saat asyik- asyiknya melamunkan mimpi semalam, aku tidak sengaja melaju di atas kubangan yang lumayan besar. Tidak sempat mengerem, tidak sempat mengelak. Segera aku tutup mataku dan berteriak. Setelah melewati kubangan itu, aku segera mengerem sepedaku. Berhenti di depan kubangan. Aku lihat Chiro ikut berhenti dan menoleh ke arahku.
“Kamu enggak apa- apa?” Chiro bertanya padaku.
“Enggak kok.” Aku tersenyum.
Chiro langsung mengkayuh sepedanya lagi. Beberapa meter lagi sampai gerbang sekolah. Aku juga kayuh lagi sepedaku. Mimpiku salah ternyata, Chiro malah yang bertanya duluan sama aku. Tapi dia masih bersikap dingin. Udara rasanya membeku, membuat aku juga ikut membeku di hadapan Chiro.
Setelah memakirkan sepeda, kami menuju kelas. Masih sama, aku berjalan di belakang Chiro. Setiap hari selalu begini. Kiku yang paling banyak bicara di kelas, langsung diam saat di dekat Chiro. Sesampainya di kelas aku menaruh tasku. Melihat ke arah bangku Chiro sebentar. Belum sempat duduk, aku ikut bergabung dengan anak- anak cewek yang ngobrol di depan kelas. Ritual harian kami sebelum jam masuk tiba. Heboh sendiri, membicarakan cowok taksiran masing-masing. Aku sih Cuma ikut hebohnya saja. Giliran ditanya siapa cowok taksiran, aku akan diam seribu bahasa atau mengalihkan pembicaraan ke hal  menarik lainnya. Tepatnya tidak menarik sama sekali.
***
Aku melihat Chiro sedang duduk di depan kelas sendirian. Tidak biasanya. Dia memegang buku tulisnya. Aku bahkan kemarin itu belum sempat membaca utuh tulisan di buku Chiro. Itu bukan tulisan, itu gambar. Gambar buatan Chiro bagus. Mungkin selama ini saat pelajaran dia selalu menggambar. Sama seperti yang aku lakukan. Bedanya gambar buatan Chiro bernilai seni tinggi sedangkan gambar aku tidak ada nilainya.
Aku berjalan menuju ke tempat Chiro sedang duduk. Pelan- pelan sekali. Pura- pura tidak terjadi apa-apa. Mengendap-endap. Aku berdiri sebentar di samping Chiro sambil mencoba melirik ke arah buku yang sedari tadi dibawa oleh Chiro. Dia sedang menggambar lagi rupanya. Aku duduk perlahan. Memainkan kakiku maju mundur seperti anak kecil. Sesekali melirik ke arah Chiro yang sedang serius.
Saat Chiro menyadari kehadiranku, dia langsung menutup bukunya cepat. Memandang ke arahku sebentar, bersiap untuk enyah dari sampingku.
“Chi....” Sebelum aku menyelesaikan panggilanku, Chiro menoleh ke arahku. Kemudian menyerahkan secarik kertas yang dia ambil diantara lembaran- lembaran bukunya.
“Ini kan, yang kemarin belum selesai kamu lihat.” Chiro menyerahkan selembar kertas penuh dengan coretan.
“Ini..” Aku bingung harus bilang apa. “Apa maksudnya?”
“Itu untuk kamu, Komodo penguntit.” Chiro bergegas pergi masuk ke dalam kelas.
Aku melihat kertas dari Chiro. Aku bahkan hampir lupa apa yang aku lihat kemarin. Hanya beberapa kata saja yang aku ingat. Dan hanya beberapa goresan gambar saja yang aku ingat. Ini gambar Komodo. Cantik dengan pita di kepalanya. Komodonya tersipu malu. Ada beberapa tulisan di bawah gambar Komodo kecil itu. Puisi. Yang sempat aku baca kemarin.
Komodo Penguntit
Dia selalu mengikutiku
Mungkin hanya perasaanku saja
Dia selalu di belakangku
Dia selalu memperhatikanku
Mungkin ini juga hanya perasaanku saja
Dia seperti predator yang siap menerkam mangsanya
Mengendap- endap di belakang
Kemudian muncul menyerang
Komodo penguntit
Selalu mengendap-endap di belakangku
Entah kapan dia akan menerkamku.
            Aku membaca puisi yang aneh ini. Tentu saja ini bukti bahwa Chiro bukan tipe cowok romantis yang pandai membuat puisi. Saranku, mungkin kamu spesialis aja di bidang visual jangan tulisan.
            “Komodo Penguntit?” Aku bergumam. “Eh? Maksudnya aku?” Aku menunjuk hidungku sendiri. “Komodo penguntit katanya. Apa tidak ada yang lebih bagus dari ini. Putri malu kek, Putri impian ato apalah. Tapi dia benar, liurku memang beracun.” Aku merasa sedikit kesal pada Chiro.
            Aku menggulung kertas dari Chiro. Senyum simpul menghiasi bibirku. Aku baru saja merasakan perasaan jengkel, senang, G.R, antusias campur aduk jadi satu. Selama ini Chiro menyadarinya. Aku selalu mengikutinya dari belakang. Saat naik sepeda ke sekolah. Saat parkir. Saat jalan menuju kelas. Pas ke kantin. Pas mau upacara. Dan ini tadi, pas duduk di depan kelas. Semakin aku memikirkannya, malah hal negatif yang muncul. Perkiraan- perkiraan yang membuat aku malah merasa bersalah. Jangan- jangan Chiro mau bilang “Jangan ikuti aku lagi”, tapi medianya kertas ini. Jadi Chiro sebenarnya membenciku. Jadi mimpiku semalam memang benar. Chiro membenciku. Intuisi 100% yang sering aku andalkan ini, kini tepat.
            Aku masuk kelas dengan pikiran negatifku. Untuk pikiran positifku entah kemana. Aku tidak bisa berpikir dengan baik. Yang ada sekarang hanya satu kalimat yang aku ingat-ingat terus “Chiro Membenciku”. Aku menatap ke arah Chiro dengan tatapan sedih. Setelah ini aku harus bagaimana. 

Senin, 20 Januari 2014

LOGO

ini adalah logo perusahaan saya. suatu saat nanti. bergerak di bidang kuliner, fashion, book store, dll
:3

ichiban purezento untuk iciban tomodachi :3


Senin, 06 Januari 2014

gambar gambar saya

kyaaaaa.... ini adalah karakter yang selama ini saya gambar berulang-ulang..

ini tiga sahabat, nene itu gadis yang ceria, ah hime juga sama. tapi kaleman nene sih. yoko itu dari jepang ceritanya. hhe
suka sekali gambar ini... <3 hha. terlihat romantis ya *dari mananya coba.

 *kore wa himitsu desu*

ini lukisan gunung fuji versi saya.. kata temen bagian pohon bambunya keren *hanya bagian pohon bambu saja.

kalau yang ini gambar gunung merapi, dilihat dari jembatan teknik UGM. hha.. mungkin lebih tepat gambar absurd..

Kamis, 12 Desember 2013

girl in the rain


ini gambar yang aku buat pakai program "paint" di laptop. harapannya sih pengen buat ilustrasi cerita atau bahkan cover buku eh, novel saya. hha. tapi gak dink. wajahnya sedih. kita bikin lagi yang bahagia besok.

hem.. pengen jadi mangaka. tapi g jago gambar. hha, apalagi gambar ekstremitas *malu. tapi pengen sekali mematenkan carakter ini. ini lho karakter punya saya. masih bingung mau namain siapa. suka sih nama Hime, tapi juga lagi suka nama Ruki.

dilihat-lihat seperti gambar anak TK ya. tapi di situ seninya *pembelaan.