Ku cari kau
Ku temui sunyi
Diam tak berbisik
Tenang
Ku berteriak ke arahmu
Kau jawab sunyi
Diam tak berucap
Senyap
Tak ada suara
Ku hanya temui sunyi
Sunyimu yang bersahaja
Diantara deburan ombak
Diantara hembusan angin
Ku temui sunyi
Ku cari kau
Ku temui sunyi
Diam tak berbisik
Tenang
Ku berteriak ke arahmu
Kau jawab sunyi
Diam tak berucap
Senyap
Tak ada suara
Ku hanya temui sunyi
Sunyimu yang bersahaja
Diantara deburan ombak
Diantara hembusan angin
Ku temui sunyi
Ia meredup kemudian menjingga
Ia meredup kemudian abu abu tiba
Ia meredup kemudian gelap membahana
Ia meredup kemudian sunyi menerpa
Kala senja tiba
Di antara kau dan ia
Membawa syahdu seketika
Remang remang cahaya berpulang
Ia sang raksasa
Hilang di cakrawala
Membawa semua duka
Yang tak rela membekas lara
Biar syahdu bersama senja
Mengobati setiap duka lara
Diantara kau dan ia
Aku kembali bahagia
Di kala senja tiba
Rinai hujan turun beriringan
Merdu rintik berjatuhan diatas apa saja
Semerbak bau tanah menyeruak
Segar
Kutunggu datangmu
Berjinjit menerjang rintik hujan
Kusambut datangmu
Senyum tak pernah usai melihatmu
Biru langit terhias bening
Kuning cahaya bolam alam raksasa
Menyengat panasnya
Terik
Kutunggu datangmu
Berjalan santai, memicingkan mata, tangan bak hormat
Terlalu silau
Kusambut datangmu
Tawa bahagia tak bisa hilang melihatmu
Entah itu hujan
Entah itu terik
Entah itu dimana
Entah itu kapan
Kutunggu datangmu
Kusambut datangmu
Ketika senyum tak bisa usai
Ketika tawa tak bisa berhenti begitu aku melihatmu
Semua yang kau lakukan adalah lucu bagiku
Begitu berharga waktu ini
Waktu kutunggu datangmu
Tak usah terburu buru
Kan ku tunggu datangmu
Kapanpun itu
Sebelum aku memulai
Aku takut gagal
Sebelum aku memulai
Aku takut salah
Sebelum aku memulai
Aku takut..
Aku hanya bisa terdiam
Aku hanya bisa mematung
Aku hanya bisa melihat
Aku hanya bisa mendengar
Tanpa melawan
Aku hanya bisa menunggu
Keberanian yang lama ku kumpulkan
Aku hanya bisa menanti
Waktu untuk mengungkapkan
Tapi ia hancur berserakan
Keberanianku pun lebur lagi
Terhempas tak berbekas
Ku menunggu dan menanti
Keberanian itu kembali
Tiba tiba aja aku kangen banget hura hura sama anak anak. Kita dengan kesibukan tiap hari yang g ada habisnya. Kita yang lembur terpaksa dan mau gimana lagi. Kita yang nyempetin pergi entah kemana sekedar makan dan ngobrol tentang dilema yang kita rasa sehari hari.
Kalau pas kumpul bilangnya "jangan ngomong soal kerjaan". Padahal sih kalau aku pengennya didengerib keluh kesahnya. Soal apa? Ya pasti soal kerjaan lah. Ya pun gimana lagi kita hidup bersama di satu atap mengerjakan hal sama, tentunya apa yang bisa kita bahas adalah hal tersebut. Kecuali ada yang mau ekspose cerita pribadi yang privasi untuk go publik. Kalian tahu lah, sekali cerita itu bisa aja tiba tiba orang sekantor pada tahu gitu aja. Apalagi ada yang berperan sebagai blower. Ya udah langsung ngeblow aja itu gosip apapun dan fakta apapun. Hha. Tapi disitulah hidup jadi berwarna. Tidak hanya hal hal seneng aja kadang hal nyebelin dan ngezelin juga perlu di rasa. Hha.
Aku kangen pas dadakan bikin acara dolan kemana langsung aja jalan. Kayak hari Jumat sepakat main ke Bantul, karena tujuannya nyari sunrise maka harus datang pagi pagi. Terus langsung aja sepakat abis pulang kerja malamnya balik kantor lagi. Tidur di kantor kayak pindang di jemur. Empet empetan di mushola. Ada yang sampai tidur di mobil hahaha. Hari Sabtu, sebelum subuh udah bangun langsung cus TKP. Sampai TKP pas banget adzan subuh. Eh pas udah hampir moment sunrise malah mendung. Hahah. Tapi saat itu kita bahagia. Sarapan warungnya masih tutup. Akhirnya memutuskan sarapan di tempat yang jauh banget, tapi tetap sampai sana juga. Pulang capek, tapi bahagia. Minggu masih bisa libur di rumah.
Ada lagi pas tiba tiba kalian sepakat mau main lagi nyari sunrise. Grup chat udah ramai. Aku bahkan ketinggalan banyak percakapan. Terus diajakin kalian. Untungnya arah tujuan dolannya ke barat. Itu adalah arah favorit aku, karena akunya bisa dijemput di rumah. Haha.
Sudah disepakati berangkatnya sebelum subuh juga. Aku tunggu di rumah. Aku bakalan di jemput embuh siapa yang penting di jemput di rumah ya.
Dasar aku ya, kalau soal beginian, hura hura, bangun pagi tanpa alarm aja bisa. Kalau mau kerja, di alarm ampe berulang ulang juga g bangun. Endingnya kemrungsung, sampai kantor dikira orang sakit. Gincu belum on, bedak belum on, eyeshadow g ada. Duh dek keterlaluan kamu, dek. Haha.
Belum subuh udah bangun. G usah pake mandi masih pagi ini. Dingin banget, Srumbung tu dingin, beneran. Yang penting baju rapi, parfum banyak, bedak on, gincu on. Pagi buta udah grudak gruduk, orang rumah belum pada bangun. Aku udah nylonong keluar aja, udah ditunggu kuda putih di depan rumah. Cuss. Pas sampai TKP masih sepi, bayarnya jadi lebih mahal. Rame rame menuhin atap. Obrolannya g jelas, yang penting ketawa. Terpenting adalah poto poto dengan berbagai pose dan angle yang cucok. Kamera hp siapa aja yang paling oke yang dipakai.
Pas moment sunrise ternyata mendung lagi. Dapat kelamut kelamut aja sinar mataharinya. Tapi kita bahagia. Hha. Pulang sarapan bingung mau makan apa. Dolannya kan arah barat jadi akulah yang harus ngasih referensi. Bodo amat yuk cus sotoan. Duh.. aku tiba tiba pengen makan soto disana, pake perasan jeruk nipis yang lumayan banyak, pake bakso goreng. Hem... nikmat bangets.
Masih pagi jam 7 an sudah sampai rumah lagi dianterin anak anak. Woy mobil ijo nyasar. Ping.ping.ping. dikerjain lagi sama mereka. Pake beli jenang di mbak mbak eyek. Tapi aku bahagia.
Satu lagi moment ketika mau pergi ke Pacitan. Dua anak Magelang g mau nginep dulu. Aku cuma ngandelin boncengannya Bagus. Janjiannya jam 5. Aku udah stay tune di pintu gerbang Srumbung, lagi lagi ngrusuhi mbakku buat nganterin. Realisasinya baru cus ke basecamp jam setengah enam. Kebut. Perjalanan jauh, cari sarapan. Nyarinya soto, yang buka bakso. Udah berhenti di warung makan liat menu, g cocok sama anggaran. Kita keluar satu satu berdalih mencari makanan bernama "soto". Sarapan belum juga jadi, jalan yang dilewati kanan kiri cuma pohon. Rumah penduduk masih belum terlihat. Sampai hampir tujuan baru nemu nasi pecel andalan di pasar kewan. Sederhana tapi bahagia.
Iya.. itu yang aku kangeni. Yang tiba tiba aja bisa bermalam sama kalian sekedar berbaring tidur terus bangun hura hura.
Iya.. itu yang aku kangeni. Menertawakan satu sama lain. Membicarakan hal tidak pentig. Bergosip ria tentang apapun.
Tapi.. mana bisa Jumat cus Sabtu hura hura Minggu libur.
Aku sudah tak bisa seselow itu. Aku cuma bisa kangen kalian aja.
Aku g sepenting itu sehingga kalian harus merelakan hari minggu kalian untukku. 😂 Mengetahui rencana hura hura kalian saja sudah bikin aku envy, tapi setidaknya aku tahu kalian memang akan pergi tanpa aku. Tapi kalau tiba tiba kalian pergi tanpa aku tahu duluan, kog kadang sedih ya. Hahaha.
Welcome my weekend. The true weekend.
Yah walau sekarang cuma dapet libir hari minggu aja. Tetap bersyukur yah. Banyak lho di luar sana yang pengen sibuk, ada juga yang weekend lama tapi g ketemu keluarga, juga ada yang masih terus bekerja tanpa weekend untuk bayar hutang.
Alhamdulillah... masih bisa merasakan kenikmatan dunia.
Yihaa..
Putaran ke tiga. Kelompok delapan mendapat jaga di IRIA dan IRI LB. Ruangannya masih satu lantai dengan ICU. Masih ruangan ber-AC yang dingin banget, yang bikin pengen selimutan. Tempat kerja yang membuat pengen doublelan pake kimono terus biar g dingin.
Sama seperti di IRJAN, kami di bagi dua kelompok lagi. Tapi dengan format pembagian yang berbeda tentunya. Masih sama aku dengan Manda ditambah Leli. Kelompok satunya Isti masih dengan Mei ditambah Arif. Jaganya per tiga hari lagi. Biasanya yang jaganya bentar bentar gini malah bikin betah. Hha. Tapi.... simak saja ada apa yang terjadi pada kami. Haha.
Yapss.
Kelompokku giliran pertama jaga di IRI Luka Bakar. Suatu unit kecil dengan perawat jaga minimalis. Kalau lagi g beruntung bisa jadi dalam satu shift hanya ada satu perawat jaga. Total bed ada enam.
Kegiatan utama di pagi hari adalah merawat luka bakar. Ada banyak jenis luka bakar dari derajat rendah sampai parah. Dari balita sampai yang dewasa. Kalau kasus anak anak biasanya kena air mendidih, mainan api (sudah jelas ya) dan juga petasan. Jadi mohon orang tua lebih care dengan cara bermain anak. Kalau kasus orang dewasa biasanya kecelakaan kerja, seperti petugas PLN. Banyak kasus luka bakar pada orang dewasa karena listrik. Oiya ada juga dari kompor gas.
Disini kita belajar menjadi perawat yang benar benar telaten. Luka bakar yang ditangani biasanya luas. Merawat luka bakar menguras tenaga. Setiap kali merawat kita perlu bantuan setidaknya satu orang untuk sekedar memegangi kaki atau tangan untuk di topang. Jadi keluarga pasien berperan serta dalam perawatan.
Sebelumnya aku belum pernah sama sekali jaga di IRILB, dan harus beradaptasi dengan baik. Lain ladang lain belalang, begitu kata peribahasa. Setiap individu perawat memiliki cara masing masing dalam merawat pasien. Banyak pelajaran yang diterima apalagi wejangan dari bapak PN.
Kita belajar bahwa menjadi manusia harus open minded, karena ilmu itu terus berkembang. Belajar untuk menyenangkan apalagi saat merawat luka, do not harm. Jangan melukai luka. Ini sangat sulit dan butuh kesabaran, apalagi pasiennya anak anak. Anak kan harus diperlakukan lebih lembut dan berhati-hati. Yah.. disini kadang aku masih merasa gagal menjadi ibuable. Ya udah g papa bapakable.nya juga belum datang kog. Hha.
Berkesan sekali jaga di IRI LB. Wejangan yang diberikan itu apabila baik ambil, g baik abaikan. Pura pura tidak terjadi apa-apa.
Tiga hari berikutnya, kelompok kecilku jaga di IRIA. PICU. Ruang intensif anak-anak.
Tempat dimana anak anak, menurut teori berumur satu bulan sampai dengan 18tahun dirawat dengan intensif.
Dari bayi unyu unyu sampe adek yang hampir gedhe. Disini kasusnya bermacam macam, tapi ada sekali waktu saat musim DBD maka akan banyak anak yang dirawat karena demam berdarah dengue. Kalau lagi hari biasa, yang dirawat adalah anak postoperasi, sepsis dll.
Di PICU obat sudah ditangani dokter anak langsung. Kalau syringepump bunyi dokter anaknya langsung gesit ganti obat. Kalau obat oral injeksi biasa masih dilakukan perawat. Setiap pagi memandikan dari bayi unyu unyu sampai dedek dedek gedhe.
Seperti ruang intensif lainnya, monitor hemodinamik setiap jam. Sulit jika memandikan anak yang terpasang ventilator, karena harus diperhatikan bahwa ventilator tidak akan tercabut dari mulut.
Jadi ingat, jaman profesi ada pasien kelolaan dari bangsal yang pindah ICU, tapi akhirnya tidak terselamatkan (Ceritanya ada di balada anak profesi). Sedih. Kalau lihat anak anak gitu rasanya pengen nangis. Mereka belum tahu apa apa, mereka sudah harus berjuang keras. Semoga tumbuh kembang mereka tidak terganggu ya. Dan semoga orang tua mereka sabar dan tabah merawat. Salut sekali dengan orang tua seperti mereka. Kadang membayangkan jika kita ada di posisi mereka. Apa bisa? Bertahan dengan cobaan seperti ini?
Aku ingin lupa
Tapi aku selalu ingat
Jadi akan kuingat ingat terus saja apa yang sudah kita lalui
Agar aku segera lupa
"Jangan ingat"
Kata mereka begitu
Tapi mereka tak tahu, otak kita tak bisa membaca kata -jangan-
Jadilah kata seru itu "ingat!"
Kurubah saja
"Jangan lupa"
Mauku sih otakku hanya akan membaca kata -lupa- saja
Akan aku ingat ingat terus setiap hari sampai bosan
Sampai aku muak sendiri dan lupa
Usaha mengingatku untuk melupakanmu
