RSS

Senin, 31 Agustus 2015

GRADUATION

Apa kabar kamu yang berjuang demi kata yang kita sebut “Graduation”. Kamu yang menunggu orang-orang berlari dengan senyum kearahmu kemudian berucap “Happy Graduation”.
Perkenalkan, aku adalah the most annoying people yang selalu bertanya padamu “Kapan Lulus?” Yang selalu membuat lidah kelu karena memang tak tahu kapan takdir berjudul “Lulus” itu akan tiba.
Orang paling nyebelin ini, hanya bisa jadi nyebelin demi kamu bisa bergelar “Sarjana”. Kemudian kamu bisa berbangga hati menyenangkan orang tua dan calon pendamping hidup alias “Jodoh”.
Kamu lebih suka menghindariku?
Ya aku tahu itu.
Maka sesungguhnya,
Akulah orang itu, yang ingin berlari dengan senyum kearahmu kemudian berucap “Happy Graduation”. Akulah orang yang akan menunggu hingga kau “Lulus”. Akulah orang yang rela menjadi pendampingmu dan bisa menyapa “Hallo Tante Dan Om” pada orang tuamu.
Aku the most annoying people yang selalu bertanya padamu “Kapan Lulus?”


Demi masa depan kita.











Minggu, 28 Juni 2015

Ku Sanggup Tapi Ku Tak Mau

http://asa-photo.deviantart.com/art/Berdua-lebih-baik-180731592

Aku baru sadar ternyata selama ini bukan aku tak mampu berpaling, berpindah, move on. Kenyataannya aku memang tidak mau berpindah, berpaling, move on.
Jadi kalau ada yng bertanya “gimana? Udah bisa move on?”
Jawabannya, bisa enggak bisa. Lha gimana sebenernya aku bisa move on kog. Aku bisa membukakan pintu hati ke siapa saja. Aku bisa. Tapi aku tidak mau, aku yang memang tidak mau move on. Meskipun dengan sesuatu yang tidak pernah jelas ini. Aku tidak pernah mau move on.
Iya, memang aneh. Saat aku mulai menyukai orang lain tapi aku malah bilang enggak  mau suka orang lain selain kamu. Bahkan saat aku bisa melupakanmu tapi aku malah bilang aku enggak mau nglupain kamu. Pas aku suka orang lain aku malah menyangkal dan bertanya kenapa aku bisa menyukai orang lain selain kamu.
Aku bisa move on, tapi aku tidak mau.
Aku yang tidak mau. Bahkan saat aku sudah hampir move eh aku malah kembali ketempat yang sama. Kamu. Kenapa? Karena aku ingin setidaknya mengetahui hal yang masih membuat tanda tanya selama ini.
Saat seperti inilah kadang aku membenci diriku sendiri. Membenci saat aku merasa sedih ketika aku tak lagi bisa melihat banyangan siluetmu di senja hari.
“sudahlah, kamu  harus bisa berjalan tanpa harus memperdulikan dia”
Tapi aku tidak mau. Aku tidak mau jika itu bukan dirimu. Aku bisa tapi aku tidak mau.

Karna ku sanggup tapi ku tak mau berdiri sendiri tanpamu,

Minggu, 07 Juni 2015

hallo kamu

hallo kehidupan yang masih saja staknan dengan kesibukan yang masih saja sama sejak berpuluh-puluh tahun silam.
hallo pikiran yang bahkan tidak bisa menyimpan lama memori materi kuliah tapi malah sibuk memikirkan orang lain yang bahkan sedetikpun dia tak pernah mengingatmu.
hallo kemalasan yang masih saja menyapa dengan ramah mengucap salam membelai diri ini terus bertahan dalam kehidupan membosankan.
hallo hati yang selalu terbolak balik menahan perasaan yang terkadang rasanya sudah tak bisa ditahan lagi, menyisakan rasa sesak dan sakitnya tuh di sini.
hallo mata dan tangan yang tak bisa seharipun berhenti melihat dan mengetik kode hanya demi melihat orang lain sedang apa yang bahkan dia lebih memilih menyibukkan mata dan tangannya untuk masa depan yang lebih baik.
dan,
hallo kamu.
kamu yang membuatku tak mau berpaling. kamu yang selalu membuat aku sempurna mengembangkan halusinasi hati. kamu yang membuat aku ingin membenci sekaligus mencintai.
kenapa hati ini tak bisa barang sekali membiarkan apa-apa yang kamu lakukan terlihat wajar. kemungkinan yang tidak mungkin itu selalu mengangguku.
mungkin aku hampir gila.
Labil. penyebab utamanya tentu saja kamu. hebat sekali.
pagi pun aku bisa tersenyum menyambut mentari pagi, menyapa kehidupan baru, namun sore pun muncul dengan kesedihan mendungnya.
terimakasih senja yang masih mau menghiasi abu awan sore dengan warna  jingga segarnya.

terimakasih. 

Jumat, 22 Mei 2015

aku cemas

hai, apa kabar?
aku tidak baik-baik saja sekarang
aku sedang cemas, mencemaskan apa yang akan terjadi padaku seminggu lagi.
perutku mual, rasanya aku ingin lari jauh, pura-pura tak tahu.
tapi auncaku tidak akan pernah menyelesaikan dan tidak akan mampu menghilangkan rasa cemasku.
tiba-tiba aku berada di titik puncak kepribadianku yang sesungguhnya.
aku orang yang mungkin memiliki rasa cemas yang kebih tinggi dari orang lain.
aku orang yang mungkin tingkat ketergantungan terhadap orang tinggi.
dan aku orang yang mungkin imulsifnya juga melebihi orang lain.

pun ternyata sekarang aku sadar.
sekeras dan sekuat apapun aku menangis, itu tidak akan merubah semuanya seperti yang aku inginkan. terkadang tahapan ini terasa yang menyiksa. saat aku harus melalui satu per satu ttangga kehidupan. dan cemas ini tidak akan hilang begitu saja. kenapa? karena kehidupanku harus tetap berjalan.

pa, aku cemas sekali



Minggu, 12 April 2015

Balada anak profesi #2



Gimana sih rasanya kamu stase di anak ketika kamu merasa kamu enggak begitu suka anak-anak? Nakal, nangis, rewel, tanya terus smpe capek jawabnya.
Padahal itu semua adalah keunikan dari anak-anak. Tapi maaf sayang, embak masih sedikit tantrum dan imatur nih.

Ketika kamu merasa cuma jadi observer di stase anak. Saking ringkihnya mereka. Ya, maksudnya yang seumuran balita. Sampailah suatu hari saat jaga di PICU, aku merasa lelah, tentu saja bukan hanya karena faktor stase anak sebenarnya.
Terus tidak sengaja buka-buka buku panduan residen anak. Nemu quote yang lumayan bikin lumer hati.
seperti ini bunyinya :

''keberhasilan adl sisi lain kegagalan
Seperti tinta perak di balik awan keraguan
Dan kau tidak pernah tahu seberapa dekat tujuanmu
Mungkin sudah dekat,
Ketika bagimu terasa jauh Maka tetaplah berjuang
Bahkan ketika hantaman semakin keras
Ketika segalanya tampak sangat buruk
Kau tetap tak boleh berhenti''
-clinton hawell-

Minggu ke dua aku harus pindah ke bangsal. Entah akan seperti apa nantinya.
Saat pembagian pasien kelolaan aku tak akan menyangka penyakit pasienku akan sekomplek ini. SLE dengan komplikasi di beberapa organ tubuh. Terlihat jelas di tangan dan kakinya dengan urtikari. kuku-kukunya panjang, karena jika disentuh akan sakit. Selama 3hari berjaga aku malah cuek, kadang aku berfikir 'ah kita hanya belajar ngaskep saja kan? Bukan mengaplikasikannya.' pikiran yang kurang baik, saking merasa putus asa dengan keadaan dan ketidakreatifanku selama ini.
Hari ke empat, embak perawat menyuruhku memotong kuku an.D. An.D sedang tidur, aku bilang pd ibunya '' tidak usah dibangunkan bu.'' aku duduk disamping bed, mulai meraih jari kelingking an.D. Sedikit.sedikit. Aku memotong kuku jari kelingkingnya. Saat itu an.D langsung bangun, sakit katanya. Oh baiklah, pikirku. Tapi embak perawat bilang ''coba dikompres dulu biar empuk kukunya, atau gmn terserah kamu. Itukan pasien kelolaanmu''. Mendengar kalimat seperti itu rasanya, astaga embak aku harus bagaimana. Akhirnya aku membujuk-bujuk an.D. Ini jelas bukan keahlianku. Pada nyatanya jika keponakanku mulai berulah aku akan mulai bergulat dengan mereka, saking jengkelnya. Aku imatur sekali.
Beberapa menit aku masih membujuk, dan an.D masih bilang tidak hingga nadanya meninggi dan tangannya hampir melayang ke mukaku mungkin, tapi tertahan. Oke.oke. Embak pergi.
Saat seperti itu kadang aku merasa sedih. Tidak hanya kadang, tpi pasti sedihnya. Aku jadi berfikir, berfikir dan berfikir. Aku merasa sakit mendapat penolakan dari an.D. Aku memang tidak pantas menjadi perawat anak. Padahal toh, awal menjadi mahasiswa keperawatan aku merasa cocok menjadi perawat anak. Ternyata ya, aku salah.
Aku harus bisa membujuk anak itu, setidaknya aku bisa menjadi lebih baik. Menjadi teman an.D. Bukanya musuh dan diteriaki 'tidak' lagi.
Tak disangka hobi membeli buku cerita anak-anak yang baru saja aku geluti bisa menjadi solusi dari masalah ini. Seperti Om Damar (daun yang jatuh tidak akan membenci angin-tereliye), aku ingin bisa jadi pendongeng buat anak-anak. tapi itu hanya sekilas keinginan yang tidak pernah diniati untuk diwujudkan. Katanya ingin mebuat perpustakaan untuk anak-anak. Memenuhinya dengan buku-buku cerita, buku-buku ensiklopedia dan apapun itu yang mampu membuat anak-anak mau membaca. Lagi, lagi itu hanya angan-angan saja.
Sampailah aku berfikir, apakah perlu aku membacakan buku cerita untuk an.D, buku yang kemarin baru aku beli. Buku yang lama ingin aku beli. Cerita tentang sakura. Apa aku rela membagi buku itu untuk an.D.
Keragu-raguan terkadang menyelinap begitu saja saat bahkan kita sudah merasa yakin. Tak habis memikirkan itu, aku putuskan untuk tidur saja.
Pagi. Jumat. Aku putuskan membawa buku ceritaku, entah nanti apa aku jadi atau tidak membacakan cerita untuk an.D. Keterlambatan embak perawat yang satu ini emang keterlaluan ya dek, maaf kan embak. Pagi kecil. Aku mendapat jatah pagi kecil, waktu yang terlalu singkat. Jam 10. Aku bahkan belum menghampiri an.D. Selama jaga aku masih berfikir, aku harus membacakan cerita untuk anak itu. Aku harus. Saat jadwal jagaku sudah selesai dengan perlahan aku berjalan menuju kamar an.D.
''Hallo D, liat embak bawa buku cerita. Mau dibacain enggak?''
''tuh embak bawa buku cerita'' celetuk ibu D
An.D hanya mengangguk lemah.
''biasanya di rumah D baca buku enggak?''
An.D mengangguk.
''buku apa?''
''si kancil'' an.D menjawab lirih.
''biasanya baca sendiri?''
''iya.''
''sekarang embak bacain ya, nih bisa lihat gambarnya kan?''
''bacain'' an.D meminta
''iya. Embak bacain. Mau cerita yang mana ya? Ah ini aja yach.''
Aku bahkan lupa apa judul cerita yang aku bacakan untuk an.D saat itu.
''jadi D jangan sedih terus kayak pak J ya? Harus semangat biar cepet sembuh. Ya?''
An.D mengangguk.
''udah ya embak pulangi ulu, ini bukubya embak taruh sini. Besok pagi embak bacain lagi ya?''

'ya'' an.D mengangguk
Ah, aku merasakan perasaan bahagia saat itu. Lihatlah, aku berhasil menjadi pendongeng amatir untuk pertama kalinya. Aku berhasil.
Aku melangkah dengan ringan pulang, untuk kemudia berangkat lagi jam 9 malam nanti.
Mungkin aku tidak menyukai anak-anak, karena selama ini aku selalu mendapat penolakan dari mereka. Bagaimana tidak ditolak, bukannya berperan sebagai kakak, aku malah berperan sebagai musuh, menyaingi tantrum mereka. Dan lagi imatur kronik yang aku derita. Lihatlah anakmu ini buk.

Pagi. Sabtu pagi. Aku pulang jam 7 pagi. Ah aku sudah berjanji pada an.D untuk membacakan cerita lagi. Untuk yang terakhir kalinya.
''halo D. Gimana? Masih lemes? embak mau bacain cerita lagi. Mau enggak?''
An.D mengangguk
''embak pilihin ya, emh. Yang mana ya. Ini aja ya?''
Aku mulai membacakan cerita, dengan nada sumbang seorang pendongeng amatir. Lembar demi lembar terbaca.
''tante baik'' an.D tiba-tiba memuji embak perawat ini.
''ah, apa iya?'' aku tersenyum.
Ya Allah, aku berhasil menjadi baik untuk an.D. Aku senang. Senang sekali.
Aku kembali melanjutkan cerita. Hanya beberapa lembar saja cerita sudah selesai.
''mau embak bacakan lagi?''
An.D mengangguk.
Belum selesai cerita ke dua an.D meminta untuk berhenti.
''tante udah''
''iya, D istirahat dulu lanjutin bobok ya. Ini bukunya buat D ya? Besok kalau mau dibacakan minta ibu atau ayah. Embak uda enggak jaga di sini lagi.''
''pindah ya mbak?'' ibu D bertanya
''iya buk.''
''dimana?''
''dibangsal sebelah.'' aku tersenyum sambil menunjuk arah kiri.
''udah ya D, ini embak tinggal disini ya. cepet sembuh.'' aku mengelus sebertar kepala an.D kemudian pergi.

Buk, anakmu sudah mulai akur dengan anak kecil. Hebat bukan. Ah bagi beberapa orang ini hal sepele, tapi tidak untukku. Ini hal luar biasa.

Ku kira dulu aku merasa cocok menjadi perawat anak karena aku masih seperti anak-anak. Merasa akan mudah memahami mereka. Tapi nyatanya aku bahkan tersaingi oleh mereka (imatur kronik), ah ya, aku memang tahu perasaan mereka.
An.D menyadarkan tante ini, ah embak perawat ini. Makasih, sayang.

Terakhir, an.D pindah ke PICU sudah hampir seminggu. padahal kata ibunya 2 hari sudah bisa bercanda dengan ayahnya.
Dek, kamu harus kuat.


Kamis, 09 April 2015

kalian shabatku :*

 
Dear kalian yang sudah bersedia menjadi sahabatku yang amat sangat berharga

Guys, apakah kalian pernah merasa bosan berada disampingku, hingga mungkin kalian ingin menghilang ke galaksi lain, hingga merasa salah telah bertemu denganku.
Guys, pernahkan kalian lelah atau bahkan terlalu sering lelah mendengarkan celotehanku yang bahkan kadang sulit untuk dihentikan.
Guys, pernahkan kalian kesal dan sebal harus menghadapi tingkah kekanakanku selama ini?

Kalian terlalu hebat bisa menghadapi anak satu ini. Kalian terlalu hebat terus bersabar walau mungkin di dalam hati kalian terkadang ingin berlari jauh dari anak ini.
Tapi anak ini selalu membuntuti kalian, merengek bak anak kecil minta dibelikan permen

Anak yang suka nyuruh-nyuruh
Anak yang kekanak-kanakan
Anak yang bawelnya menyaingi ikan bawal
Anak yang selalu minta diperhatikan
Anak yang selalu terlalu ingin tahu
Anak yang kadang tidak sabaran
Anak yang terlalu polos untuk memahami beberapa hal
Anak yang kadang sok bijaknya menyebalkan
Anak yang malasnya keterlaluan
Anak yang urat saraf malunya kadang lupa tersambung.

Guys, terima kasih kalian sudah mau menjadi sahabat terbaikku
Terima kasih sudah mau menahan amarah dan menjaga perasaanku
Terima kasih telah membantu dan menemaniku melalui tahap demi tahap kehidupan
Terimakasih selalu bersabar mengahadapiku

Dan
Minta maaf kadang tak pernah bisa mengalah dengan kalian
Minta maaf kadang menyakiti kalian entah sengaja ataupun tidak
minta maaf karena terkadang tidak bisa memperhatikan kalian seperti kalian memperhatikanku
Minta maaf tidak bisa menjadi pendengar yang baik
Minta maaf kadang menasihati seperti orang tua
Minta maaf selalu merepotkan kalian
Minta maaf selalu meminta bantuan kalian

Guys, suatu anugerah terindah bisa memiliki kalian dan berbagi cerita bersama kalian
suatu anugerah bisa mengenal kalian dan menghabiskan beberapa waktu bersama kalian
anugerah bisa berbagi tangis dan tawa bersama kalian

Guys, i love you :*

Jumat, 20 Maret 2015

sudahi ke-alay-an waktunya lebih dewasa

sebagai hasil ke-alay-an masa lalu, lahirlah blog ini. tujuannya untuk menyalurkan pikiran alay, biar aku enggak over-alay. sudah disalurin aja masih alay.
tapi... beberapa jam lagi, aku sudah tidak boleh alay lagi. malu atuh mah, jadi anak alay tyuz. hahaha.
keponakan makin nambah kog mau alay terus, ya bisa jadi nanti mereka alay karena perilaku auntinya. no.no.no. enggak boleh. biar yang alay aku aja deh. generasi alay terakhir, karena kata sifat alay harus dimusnahkan (ganti nama perilaku sama, enggak guna juga). 
tapi terakhir, baca diary ponakan paling gedhe terindikasi ke-alay-an akut. hahaha. 
pada akhirnya, alay itu terkadang tidak bisa dihindari. ya sebenernya sih bisa dihindari. tapi kan itu suatu tahapan kehidupan (begitu sih katanya) *tahap-berikutnya*.  dan setelah ini aku udah mau graduation jadi anak alay.
udah bikin take line juga, "sudahi ke-alay-an waktunya lebih dewasa". hha. sudah sepantasnya menjadi aunti dari 1,2,3,4.. emh berapa ya? (mikir). sudah sepantasnya menjadi aunti dari 9 keponakan bisa membuat aku lebih dewasa. (ibuk aku baru sadar, ternyata cucumu udah banyak banget, padahal aku belum nyumbang cucu).
dengan kriteria:
udah enggak boleh sibling rivalry sama ponakan, 
udah enggak boleh tantrum nyaingi ponakan, 
udah enggak boleh malak jajanan ponakan, 
udah enggak boleh minta disejajarkan sama ponakan, 
udah enggak boleh nangis kayak ponakan,
udah enggak boleh ngambek sama ponakan
harus bisa mengalah
benar-benar menjadi aunti, sudah cukup denialnya sejak 18 tahun yang lalu. 
dan sekarang harus benar-benar kuat, dan harus menjalani peran yang sesuai. 

readiness for enhanced role performance :D