Kalau aku boleh menawar nyawa, aku akan minta lebih panjang lagi untuk waktunya..
Kalau aku boleh menawar waktu, aku akan meminta agar waktu berbaik hati memberikan masa yg lebih lama.,
Kalau aku bisa menawar pada Tuhan, aku ingin meminta beberapa tahun lagi untuknya.,
Dan penyesalan menusuk menyelusup ke setiap ruang di hati ini,
Dan aku tidak akan bisa menawar nyawanya, menawar waktunya, menawar takdir Tuhan.
Kalau aku boleh menawar, aku ingin bersamanya melalui peristiwa-peristiwa yang sudah aku rancang dikepalaku,
Kalau aku bisa menawar waktu, aku akan memberikan yg lebih baik dari ini.,
Dan penyesalan telah memenangkan semuanya.
Dan takdir sudah ditetapkan..
Sabtu, 03 Januari 2015
cookieming
hello, ini kisah dari seekor kucing malang yang kami pungut dari kerasnya dunia luar. kami berikan makanan kesukaan, kami elus-elus, dan kami bermain bersama.
kami menemukannya di dekat sebuah lapangan tenis di samping depan rumah singgah sementara kami. aku menamainya cookie karena warnanya coklat kayak cookies, tapi selly lebih suka manggil ming-ming. sehingga sebagai jalan tengahnya, aku gabung saja namanya jadi cookieming.
kehadiran cookie tentu membuat penghuni rumah yang ada 10 orang makhluk absurd tak beraturan ini berseteru antara harus merawatnya atau membiarkannya hidup di jalanan. kami sebagian yang memang cew-cew pecinta binatang dan cow-cow penakut binatang (risih aja sih).
Label:
gambar
TAHAP BERIKUTNYA
22 desember 2014
Oke, saat ini aku
sedang mendengarkan lagu payung teduh tidurlah. Berharap aku bisa tidur dan
melupakan tugas askep yang belum sama sekali tersentuh.
Saat ini aku
pengen membicarakan sesuatu. Sesuatu yang mungkin bias saja tiba-tiba annoying
banget di kehidupan sehari-hari. Suatu tahapan yang kita lalui, seperti tahap
kealaian yang mungkin sudah dengan baik kita lalui, atau ternyata kita belum
lulus tahap alay.
Entah dari kapan
hal sepele ini menjadi sangat diperhatikan oleh kita. Astaga, mungkin ini bukan
hal sepele bagi sebagian orang, bahkan sesuatu yang harus diperjuangkan sepenuh
hati.
Kita mulai dari
jaman berpuluh tahun lalu. Ya anggap saja puluhan tahun yang lalu. Pas kita
masih SMP, pertanyaan sederhana yang akan kita dapatkan adalah “Setelah lulus
SMP, mau nerusin kemana?”. Itu adalah pertanyaan sederhana dengan jawaban
sederhana pula. Dari SD aku memang sudah menentukan kemana arah studyku sampai
perguruan tinggi, jadi bukan masalah menjawab pertanyaan seperti itu.
Pas kita masih
SMA, pertanyaan sederhana lainnya muncul, “Abis lulus SMA mau kuliah apa
kerja?”, “Mau kuliah kemana?”. Lagi-lagi itu hanya butuh jawaban sederhana aja.
Dan dengan mudah sebagian orang akan bias menjawabnya.
Dan Pas kita
mulai kuliah, pertanyaan sederhana perlahan menjadi rumit bahkan amat sangat
rumit sekali. Sebagai seorang yang Maha memang sepantasnya mendapat pertanyaan
yang Maha juga. Maharumit. Aduh, pasti kalian sudah tahu kan? Sudah
merasakannya kan?
Pertanyaan sulit
macam ini “Kapan lulus kuliah?”, yang bias membuat para Maha menjadi
mahafrustasi juga. Mungkin menjawabnya sederhana dan mudah, tapi
merealisasikannya perlu perjuangan tinggi. Bagi para Maha yang sudah melalui
tahapan ini, selamat ya. Tahapan berikutnya masih menanti.
Setelah lulus
kuliah apakah sudah berhenti begitu saja? Tidak. Masih ada tahapan yang lebih rumit lagi. Tahapan
dimana tiba-tiba kamu ditanya sama orang sekampung pas silaturahmi di hari
lebaran. Pertanyaannya seperti ini “Kapan nikah?”. Kalau aku boleh bertanya
sendiri, aku bakal tanya “kapan jodohku datanggggggggg?”, sambil meratap karena
tahu temen seangkatan mulai menyusun tangga bersama pasangan masing-masing.
Tahapan ini yang paling sulit. Untuk saat ini. Karena
pastilah akan ada tahap berikutnya, yang mungkin akan semakin tambah rumit lagi
bagi sebagian orang.
Nikmati saja
tahapan yang tak habis-habisnya ini, ya, karena kita tumbuh dan berkembang
setiap waktu.
Label:
cerita hari ini,
curhat
Rabu, 18 Juni 2014
JOKO CINTA KIMI
Gelombang k-pop sudah mulai surut perlahan, namun
masih ada disana-sini yang bergaya k-pop. Aku sih biasa saja. Aku bukan orang
yang ikut arus k-pop (sedikit bohong), ya ya, sedikit sih. Malah lebih suka pas
belum booming ini. Masih bisa menikmati lagu shine, suju, snsd, tohoshinki, dll
dengan antusias. Sudah-sudah, aku harus sedikit berhati-hati bercerita disini.
Pada akhirnya aku lebih menikmati lagu monkey majik, arashi, laruku dll.
Korea dimana-mana, entah sejak kapan tiba-tiba Joko
juga suka korea-korea. Aku cukup shock
dan mendadak sedih berkepanjangan. Merasa denial, penolakan yang tak
sampai pada fase penerimaan. Ah peduli apa sih aku dengan Joko. Dia kan sama
saja dengan yang lainnya, sedang asik menikmati segala hal berbau korea. Tapi
itu membuat aku merasa berseberangan dengan si Joko. What happen?
Joko. Siapa sih Joko itu? Bukan siapa-siapa (bohong
lagi). Oke fine, dia orang yang berhasil mengalihkan perhatianku beberapa tahun
terakhir. Berhasil membuat aku sedikit gila disana-sini. Ini hanyalah rahasia
kecil yang selama ini berhasil aku simpan rapat-rapat (ah, ya ada yang sudah
tahu tentang ini).
***
Semester awal dulu, tiba-tiba Joko memperlihatkan
gelagatnya yang suka nanya-nanya soal korea. Kemudian aku cuma bisa bilang
“kenapa harus Korea sih?”. Ditambah lagi, temannya yang menggodanya dengan
pertanyaan tentang cewek korea KW.
Aku sudah hancur melihat semua itu, lenyap seketika
harapan yang aku bangun dengan perjuangan panjang. Roboh seketika. Joko, jalan
kita berbeda. Ya rutenya hampir sama tapi tujuan kita berbeda, Jok. Korea
selatan dan Jepang itu berbeda, walau artis Korea sering ke Jepang promo album,
walau artis Korea mengalihbahasakan lagu mereka ke bahasa Jepang. Aku merasa
kalah.
“Nonton apa sih?” Aku menghampiri Mei.
“Suju.”
“Kalau kamu apa, Ta?” Aku bertanya pada Tata.
“C.N Blue dong.”
Aku duduk diantara mereka berdua yang asyik dengan
tontonan baru mereka. Aku suka sih, suka nonton juga. Tapi semenjak Joko lebih
memilih Kimi, itu membuat aku malas, bahkan menonton C.N blue.
“Kamu sehat kan, Ki?” Mei bertanya heran.
“Iya nih anak, ga biasanya.” Tata menatapku,
menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan mataku. “Ruki? Kamu baik-baik
saja kan?”
“Teman-teman, aku lagi patah hati gara-gara Joko.”
Aku masih memasang tampang kusutku.
“JOKO???” Mei dan Tata serempak berteriak.
“Siapa Joko?” Mei bertanya.
“Ga ada yang lebih keren ya, Ki?” Tata heran
“Joko udah cukup keren buat aku. Dan dia lebih
memilih Kimi, guys. Kimi..... cewek
produk Korea. Kalau dia tertarik belajar bahasa asing, kenapa sih bukan
Mandarin aja, kenapa Korea, dan kenapa ga bahasa Jepang aja juga?”
“Itu artinya Joko update.” Tata kembali menonton
videonya.
“Selera Joko bagus juga.” Mei ikut-ikutan balik
badan asyik dengan tontonannya lagi.
Suasana kembali normal, seperti aku tidak pernah ada
diantara Mei dan Tata. Joko bahkan berhasil mendapat dukungan dari
teman-temanku. Aku sebatang kara sekarang.
“Aaaaaarrrrrgggghhhhhhhhhhhhh.” Aku berteriak
didalam hati. “Joko...........terlalu!”
Aku kira Joko hanya sedikit kecipratan bau-bau
Korea. Aku kira Joko bakalan kembali seperti Joko yang dulu. Aku kira Joko akan
berhenti mengharapkan Kimi. Aku kira itu hanya cinta sesaat Joko sama Kimi.
Tapi ternyata aku salah. Joko tetap cinta Kimi.
Kemarin aku melihat Joko di sebuah restoran bersama
seorang gadis. Terlihat putih, cantik, unyu-unyu. Itu pasti Kimi. Dan kenapa
sih Kimi mau sama Joko. Item, iya sih rapi. Dan kenapa aku masih suka Joko
juga. Ah, tiba-tiba orang satu restoran pengen aku salahin semuanya. Semua
terlihat salah.
Sempat terfikir untuk menghampiri Joko dan Kimi,
tapi aku harus menjaga image, aku
harus pura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku harus bersikap biasa.
“Hey. Lihat apaan sih?” Tata disampingku menepuk
bahuku.
“Ssst, lagi lihat Joko.”
“Eh, mana-mana?” Tata penasaran.
“Itu, cowok item yang lagi duduk ama cewek yang
putih banget itu.” Aku menunjuk meja Joko.
“Itu Joko?” Tata memastikan sambil ikut menunjuk
kearah Joko.
“Iya.”
“Udah deh lupain aja.”
“Ih, apaan sih, Ta. Aku kan suka sama Joko. Kok kamu
malah gitu.”
“Banyak yang lebih ganteng dari dia, kamu juga bisa
dapat mas Ichi, mas Hito, mas Taro dan lain-lain.” Tata masih melihat ke arah
Joko. Joko menengok kearah kami, “Manis banget.” Tata menatap kearahku. “Joko
manis juga ya ternyata. Bikin melting.”
“Tata!” Aku pasang tampang serem. “Ih, apaan sih,
Ta. Kamu aja bilang gitu. Nambah pesaing aja, walau ga seberat saingan sama
Kimi.”
“Kalau gini caranya kamu harus mempercantik diri,
Ki.”
Melihat Joko di restoran bersama Kimi adalah suatu ketidaksengajaan
yang menyakitkan. Apa yang harus aku lakukan. Mempercantik diri, bukan solusi
yang tepat. Memperjelek diri apalagi. Setidaknya aku hanya pengen Joko melihat
aku apa adanya. Bukan karena masalah fisik saja.
“Mempercantik diri?” Aku merasa agak aneh.
“Lihat fashion kamu, kuno banget, Ki.” Tata
melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Untuk cewek blasteran Jepang
kamu dapet, tapi buat style-nya ga
banget. Kamu harus belajar dari aku.” Tata menunjuk dirinya sendiri.
Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Bukan hal
baik.
***
Hari ini jadwalnya adalah ke salon langganan Tata
dan Mei. Jadi kita nyalon bertiga. Ini pertama kalinya untukku. Bahkan Tata dan
Mei merasa heran, katanya aku sudah berapa tahun kuliah sudah berapa tahun
umurku, tidak pernah perawatan di salon adalah hal aneh. Aku malah merasa
mereka yang terlalu aneh menganngap tidak pernah ke salon adalah hal aneh
(membingungkan memang).
Kami berhenti di klinik kecantikan ternama di kota
kami. Selalu ramai setiap hari dan tambah ramai sampai antri diluar-luar kalau
menjelang lebaran. Aku bukanlah orang yang terlalu peduli dengan penampilan
fisik.
“Makanya Joko lebih milih Kimi.” Tata dan Mei
berkata serempak.
“Menurutku cinta itu kan tidak sebatas fisik saja.”
“Makanya Joko ga milih kamu.” Mereka kompak lagi.
Dan membuatku tambah merasa jengkel dengan pernyataan mereka.
Kami masuk kedalam gedung yang lumayan mewah.
Strategi pemasaran yang begitu bagus. Fasilitas salon yang begitu nyaman. Aku
lebih betah di sini dari pada di rumah. Tata dan Mei langsung mengarahkanku ke
perawatan yang pertama sampai terakhir. Seharian
kami di salon kecantikan. Melelahkan sekali. Mereka berhasil me-make-over cewek blasteran Jepang gagal
dengan baik sekali. Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri yang terpantul
dari kaca. Masalah fisik aku tidak kalah saing dengan Kimi, pasti Joko bisa
pindah hati. Aku merasa senang.
“Perjuangan kita akhirnya berhasil. Aaaa seneng
banget.” Mei memegang tanganku dan tangan Tata sambil berjingkrak-jingkrak.
“Mei, yang punya ide ini aku.” Tata tidak terima.
“Tapi, aku juga seneng. Akhirnya Ruki bisa cantik.”
“Apaan sih kalian, biasanya aku juga udah cantik.”
Aku tersenyum, kami berjingkrak bersama, tertawa bahagia dan berbelukan.
“Eits, udah-udah. Malam ini kita bakal makan malam
spesial. Di restoran Korea.” Tata mengajak.
“Kenapa Korea sih, Ta.” Aku protes.
“Sssttt, udah Ki ga apa-apa, kan ini gratis. Tata
yang bayar. Iya kan, Ta?” Mei mengedipkan matanya genit.
“Iya, iya. Aku yang bayar.”
Kami melaju ke restoran Korea yang berada tidak jauh
dari kampus. Restoran Korea baru. Banyak restoran Korea baru di kota kami.
Mungkin itu juga efek update Korea.
Masuk restoran langsung disuguhi lagu-lagu Korea.
Membuat pengunjung betah berlama-lama. Kami duduk di dekat jendela, biar bisa
sekalian melihat lalu lalang kendaraan dan kerlap-kerlip lampu kota. Ini adalah
pertama kalinya aku datang ke restoran masakan Korea. Aku cukup kebingungan
memilih menu, akhirnya aku hanya meniru saja apa yang dipesan Tata dan Mei.
“Kenapa kursinya lima sih. Kenapa ga yang tiga aja?”
Aku bertanya heran.
“Ntar ada yang duduk di situ.” Tata menjelaskan.
“Siapa?” Aku penasaran.
“Liat aja ntar.”
“Siapa?” aku bertanya ke arah Mei. Mei hanya
menggelang tidak tahu.
Beberapa saat kemudian hidangan yang kami pesan
sudah datang. Pas juga dengan kedatangan dua orang yang akan duduk di bangku
kosong tadi. Joko dan Kimi. Kenapa bisa mereka berdua. Astaga. Apa sih rencana
Tata sebenarnya.
“Hai, Kim. Duduk aja.” Tata menyapa Kimi.
Aku menyikut tangan Tata. “Kamu kenal Kimi?” aku
bertanya pelan. Tata hanya mengangguk.
Canggung. Suasananya tiba-tiba kaku begitu saja.
Setelah saling berkenalan satu sama lain kami makan bersama. Joko, dia bersikap
biasa saja. Bisakah kau melihat perubahan dalam diriku, Joko? Ruki yang dulu
kumal dengan Ruki yang kini cantik menawan. Joko tetap lebih asyik mengobrol
dengan Kimi. Makan malam ini lebih menyakitkan dari pada kejadian di restoran
kemarin. Ibarat film, adegannya live,
live satu meter didepanku. Parahnya
lagi ini adalah film action, yang pisaunya itu transparan. Dan pas banget
menususk-nusuk hatiku (mendramatisir).
***
“Ta, apaan sih kamu kemarin. Masak ngundang Joko
sama Kimi. Kamu tahu kan Ruki tu suka sama Joko. Ih, ga habis pikir deh aku,
Ta.” Mei protes.
“Niatku sih biar Joko bisa bandingin Ruki sama Kimi.
Dan sudah jelas cantikan Ruki kan?”
“Tapi bukan dengan cara itu juga kali, Ta. Kasihan
Ruki.” Mei menetap kearahku.
“Sudahlah, aku baik-baik saja kok.” Aku tersenyum
memaksa.
“Maafin kita ya, Ki.” Mei menghampiriku
dan memelukku. “Joko pasti suka kamu.”
“Iya.” Aku mengangguk.
Aku mulai berpikir, memang sepertinya Joko mencintai
Kimi amat sangat. Sepertinya tidak ada kesempatan lagi untukku. Aku harus
nglupain Joko. Oh Ruki, itu kalimat yang selama bertahun-tahun kamu ucapkan
pada dirimu sendiri. Tapi selalu gagal. Aku sudah terlanjur suka Jokonya
kelamaan sih. Kerak cintanya sudah sulit dihilangkan.
Sehabis pulang kuliah aku, Tata dan Mei duduk di
taman kampus. Bercerita. Tepatnya menonton video Korea. Aku hanya bisa melihat
Tata dan Mei tersenyum tertawa menghadap ke laptop. Reality show Korea memang lagi digandrungi remaja-remaja, apalagi
kalau yang main bintang idola kesukaan mereka. Aku asyik dengan komikku. Bukan
komik Korea. Ini komik Naruto, yang sedikit membahas tentang romantisme. Aku
jadi ingin ber-kage bunshin no jutsu
(tanpa alasan yang jelas, pengen aja).
Ada yang menghampiri kami dari kejauhan terdengar
langkah kakinya semakin keras. Tapi kami masih tidak terlalu perduli.
Langkahnya terhenti, dan berdiri di hadapanku. Aku mendongak keatas. Tata dan
Mei ikut mengalihkan pandangan mereka ke orang itu. Mereka terlihat kaget.
Apalagi aku. Bahkan aku tidak kenal siapa orang ini.
“Ruki-san desuka?” Orang itu bertanya.
“Hai, so desu.” Aku menjawab sekenanya, bahasa
Jepangku tidak terlalu bagus.
Dari arah belakang orang itu muncul seorang gadis.
Dia melambaikan tangannya ke arahku.
“Ruki-chan, O genki desuka?” Gadis itu menyapaku.
“Hime?” Aku seperti melihat teman lama. “Genki desu.
Hisashiburi.”
“Hai. Kenalin nih teman aku.” Hime mengganti logat
bicaranya ke bahasa Indonesia. “Ichiro-san.”
“Saya bisa berbahasa Indonesia kok.” Ichiro
tersenyum, tahu kalau bahasa Jepangku jelek.
“Ruki.” Aku menjulurkan tanganku. “Ini
teman-temanku, Tata dan Mei.”
Kami berlima duduk di taman. Tata dan Mei terpaksa
mematikan Video yang sedaritadi mereka tonton.
“Lupain Joko, ada gantinya nih, Ichiro.” Tata
berbisik padaku.
“Iya, lebih ganteng.” Mei menambahi.
“Ssssttt. Kita lihat saja nanti. Tapi aku masih suka
Joko sih.”
“Ruki!” Tata dan Mei kompak berbisik jengkel. Aku
hanya tersenyum.
***
“Kimi, Joko suka Kimi.” Joko
menyatakan cintanya pada Kimi.
“Joko jangan bercanda seperti itu,
lumayan lucu sih.”
“Aku
ga nglucu lho ini. Seriusan, Kimi. Mau ya jadi pacarnya Joko?” Joko mengeluarkan
bunga mawar dari balik punggungnya.
Label:
cerpen
Jumat, 14 Maret 2014
Setiap Tahun (aku dan kamu)
setiap
tahun bahkan setiap hari kita bisa bertemu. enam tahun aku bisa bertemu
denganmu seminggu 6 kali. kita habiskan pagi hingga siang kita di tempat yang
sama. tak perduli satu sama lain. tak tahu satu sama lain. bukankah dulu kita
pernah satu klub jurnalistik. iya kan? atau aku yang salah. dulu aku masuk klub
jurnalistik tapi keluar karena merasa tidak berbakat menulis. tapi sekarang aku
bahkan suka mencoret-coret buku seperti bapak. tapi tulisan ini tidak ada nilai
jurnalistiknya.
tapi
dulu aku memang tidak ada alasan untuk tetap di klub jurnalistik. bahkan kamu
juga tidak bisa dijadikan alasan. karena saat itu, siapa kamu? aku bahkan tidak
mengenal dengan baik. siapa?? aku tidak pernah perduli.
dan
enam tahun berlalu. aku dan kamu sudah tidak bisa bertemu enam kali seminggu.
aku dan kamu sudah tidak bisa bersapa lagi. jika ada dua ujung yang berlawanan
maka kita berada di masing-masing ujungnya. dipisahkan oleh jarak yang begitu
jauh.
siapa?
ya kamu. siapa? entah, tapi aku mulai perduli.
sekarang
bertemu sedetikpun aku ingin sekali. tapi sesuatu itu tidak mudah untuk
diakukan. diawal perpisahan mungkin aku masih bisa bertemu, masih bisa menyapa.
tapi waktu terus berjalan menggerus jarak yang semakin tak terhubung lagi. satu
dua tahun, aku bisa bertemu denganmu. tiga empat tahun, entah bagaimana aku
bisa melihatmu. saat aku menuju ke titik tengah jarak itu, kamu tidak pernah muncul.
harapan
itu perlahan akan ikut tergerus waktu. ingatan ini juga perlahan tergerus
peristiwa baru. sampai disaat, aku sudah tak lagi melihat jarak yang semakin
jauh itu. terlalu jauh untukku bisa melihatnya. seperti ujung galaksi yang tak tahu dimana.
januari tahun lalu, di gedung
pusat. mungkin itu adalah titik tengah jarak di antara kita. kemungkinan
yang terjadi 1 banding 365 itu terjadi. jarak itu tak terlihat. aku dan kamu
bertemu lagi. aku bisa melihatmu, aku bisa menyapamu. aku bisa bebicara
denganmu. walau itu hanya sepersekian menit. waktu itu terjadi singkat. dan
jarak itu kembali melebar. memisahkan aku dan kamu lagi.
siapa?
entah, tapi aku ingin bertemu lagi.
rasanya
akan sulit. dan semakin sulit. jarak ini akan semakin melebar dan menjauhkan
lebih lebih dan lebih jauh lagi. tidak akan aku dan kamu berada di tempat yang
sama lagi. sebentar lagi. jarak ini akan berubah lagi.
februari tahun ini, di gedung
pusat. mungkin ini adaah titik tengah jarak di antara kita.
kemungkinan yang terjadi 1 dibanding 365 itu terjadi lagi. jarak itu tak
terlihat. aku dan kamu bertemu lagi. tak saling mengenal, tak saling menyapa.
walau saat itu aku ingin berteriak ke arah mu yang berlalu dengan cepat. walau
aku ingin berlari kearahmu dan menyapamu. aku hanya bisa melihat jarak diantara
kita perlahan melebar lagi. ini seperti gerhana matahari, bulan dan matahari
bertemu di satu garis, tidak lama. dan saling menjauh lagi.
siapa?
entah, tapi aku harap tahun depan aku bertemu lagi.
tahun
depan. aku tidak bisa meramalkan. tapi aku ingin bertemu lagi di bulan maret di gedung pusat. titik tengah
jarak di antara kita. kemungkinan itu tidak akan sama dengan yang lalu. setelah
tahun ini, semua akan semakin sulit.
dimana
titik tengah jarak kita kelak? jika aku bisa memintanya padamu. aku tidak ingin
ada jarak lagi diantara kita. agar perbadingan 1: 365 itu
berubah 365:365. agar aku bisa bertemu setiap hari, bukan 6 hari dalam 7 hari.
tapi 7 hari dalam 7 hari. bukan 1 hari dalam 365 hari. tapi 365 hari
dalam 365 hari.
tahun
depan, semoga janji itu bisa terucap.
Label:
cerpen
TUAN MONSTER BUAYA
23 april 2013
Dear diary.
Sepertinya hari ini
Chiro marah padaku. Dia tidak mau menyapaku. Dia menghindariku. Dia duduk jauh
dari aku. Aku sedih sekali.
Semoga suatu saat
perasaan ini bisa tersampaikan padanya.
Aku menyukai Chiro
Kiku
Aku tutup buku diaryku. Aku kunci rapat-rapat. Aku
letakkan diantara buku-buku dirak. Ditaruh di bagian yang paling dalam. Jangan
sampai ada yang tahu. Aku berbalik menuju kasur empukku. Merebahkan badan yang
seharian ini dibuat lelah oleh tingkahku sendiri. Aku memang sedikit hiperaktif
di sekolah. Sama hiperaktifnya kalau itu berhubunngan dengan Chiro.
Mataku menerawang kelangit-langit kamar. Terbayang
wajah Chiro disana. Aku segera mengaburkan bayangan Chiro dari otakku. Tidak
seharusnya aku melakukan hal konyol seperti ini. Mengkhayalkan Chiro. Kiku kamu
harus fokus belajar. Jadi pembela kebenaran dan keadilan.
Aku masih saja kepikiran dengan kejadian tadi siang
di sekolah. Chiro pasti marah sekali ya. Chiro pasti akan menghindariku. Ih,
apaan sih, aku kan tidak melakukan hal yang merugikan dia. Menurutku sih
begitu. Aku kan hanya membaca buku catatan pelajarannya saja. Itu kan bukan
buku rahasia. Kecuali pas aku baca satu kalimat di balik sampul bukunya itu.
Aku kan tidak sengaja.
Dan aku lelah sekali hari ini.
***
Aku sudah duduk rapi bersama Cika disamping kananku.
Hari ini ada acara pertunjukan sulap. Entah bagaimana bisa ada pertunjukan
sulap di sekolah. Yang pasti semua anak terlihat sangat antusias. Aku duduk di
pinggir, sengaja agar mudah keluarnya. Tepat di depanku ada Shely dan anak-anak
dari kelas lain yang tidak begitu aku kenal.
Chiro datang dari arah belakang. Kemudian dia duduk
di samping Shely. Chiro tidak menyapaku. Dia hanya diam. Rasa-rasanya aku ingin
sekali menyapanya. Tapi aku sedikit ragu. Kemarin Chiro memperlihatkan wajah
kesalnya padaku bahkan setelah aku minta maaf. Mungkin saja hari ini dengan
menyapanya, dia akan kembali tersenyum padaku seperti dulu.
Sebelum aku sempat ingin menyapa Chiro, dia beranjak
dari kursinya. Menyadari kehadiranku. Mungkin masih marah. Aku beranikan diri
untuk memanggilnya.
“Chiro.”
Chiro berbalik arah melihatku, dan hanya terdiam.
“Kamu masih marah sama aku?”
Chiro masih saja terdiam.
“Masih marah?” aku kembali bertanya,
Dan Chiro tetap diam.
“Chiro.” Aku memanggilnya kemudian terdiam saat Chiro
hanya diam dan duduk di seberang barisan tempat aku duduk.
Dia pasti kesal sekali. Aku kan tidak menceritakan
apa yang aku baca ke semua orang. Aku kan tidak sengaja. Dan itu kan karena
Chiro bodoh yang menulis hal seperti itu di buku pelajarannya. Chiro yang
salah. Aku membela diri. Aku juga merasa sedih sekali.
Pertunjukan sulap segera dimulai. Aku bahkan
kesulitan melihat tukang sulapnya. Tiba-tiba saja aku ditarik ke depan. Di atas
panggung ada seekor buaya mini. Astaga, buayanya bisa berdiri, seperti robot
atau mainan anak-anak. Buaya itu memakan sesuatu, entah apa. Dan seketika
muncul buaya kecil lagi di sampingnya. Ini bukan sulap macam trik-trik yang
sering aku tonton di TV. Terlalu ajaib.
Chiro berdiri disampingku. Saat itu aku merasa ada
yang salah dengan pertunjukan ini. Cika berlari kearahku dan berada
dibelakangku.
“Kita harus lari.” Aku berteriak
Belum
sempat aku berlari, Chiro terkena semburan buaya kecil itu. Dan Foala.. chiro
berubah jadi buaya yang besar.
“Kita
harus berubah, sailor venus.” Aku berteriak ke arah cika.
Alhasil
kami sudah berubah menjadi dua prajurit cantik pembela kebenaran dan keadilan.
Sailormoon dan sailor V.
“Lari!”
kami berlari berlainan arah saat dua buaya kecil itu berlari ke arah kami.
Chiro
yang menjadi buaya mengamuk.
“Apa
aku harus mengeluarkan Tiara?” Batinku sebagai
sailormoon.
“Gunakan
Tiaramu.” Sailor V berteriak ke arahku.
Aku
ancang-ancang mengeluarkan jurus andalan sailormoon. Berpose anggun sambil
tanganku berada di kening. Aku mengejar Chiro si monster buaya.
“Moon
Tiara Action.” Aku arahkan tiara ke arah monster buaya.
***
Kringgggg.....kringgggg......kringggg.......
Aku raih jam weaker disampingku. Aku usap-usap
mataku. Melihat ke arah jarum jam. Jam 6. Masih ada waktu untuk siap-siap ke
sekolah. Aku merasa sudah melakukan petualangan yang aneh. Aku berpikir keras.
Apa ya? Aku mimpi melawan monster buaya.
“Kenapa monsternya Chiro?” Aku masih belum paham.
Alam bawah sadarku terlalu terpengaruh dengan
kejadian-kejadian yang menyangkut nama Chiro. Aku khawatir bahwa apa yang ada
dalam mimpi itu akan jadi nyata. Pertanda buruk. Feeling-ku memang terkadang bisa mendekati benar.
Tanpa berlama-lama aku langsung berangkat sekolah
setelah makan sepotong roti tawar keju buatan mama. Aku kayuh sepedaku. Memang
jarang sekarang yang ke sekolah naik sepeda. Tapi karena sekolah lumayan dekat
aku pake sepeda. Ini juga lebih sehat kan. Dan lagi, Chiro juga suka naik
sepeda. Dua tahun ini, aku suka sekali mengkayuh sepedaku di belakang Chiro.
Selalu saja begitu. Pagi ini juga. Chiro jauh didepanku. Aku kayuh lebih
kencang lagi, menyisakan jarak 2 meter dengan sepeda Chiro.
“Tuan Monster Buaya. Tega sekali kau masuk dalam
mimpiku.” Aku bergumam sepanjang jalan. Itu julukan baru untuk Chiro, gara-
gara mimpi semalam. Itu cocok sekali kan, “Tuan Monster Buaya”. Kalau aku bisa
tiara Chiro, mungkin aku pengen menyadarkan dia agar menyukaiku.
Saat asyik- asyiknya melamunkan mimpi semalam, aku
tidak sengaja melaju di atas kubangan yang lumayan besar. Tidak sempat
mengerem, tidak sempat mengelak. Segera aku tutup mataku dan berteriak. Setelah
melewati kubangan itu, aku segera mengerem sepedaku. Berhenti di depan
kubangan. Aku lihat Chiro ikut berhenti dan menoleh ke arahku.
“Kamu enggak apa- apa?” Chiro bertanya padaku.
“Enggak kok.” Aku tersenyum.
Chiro langsung mengkayuh sepedanya lagi. Beberapa
meter lagi sampai gerbang sekolah. Aku juga kayuh lagi sepedaku. Mimpiku salah
ternyata, Chiro malah yang bertanya duluan sama aku. Tapi dia masih bersikap
dingin. Udara rasanya membeku, membuat aku juga ikut membeku di hadapan Chiro.
Setelah memakirkan sepeda, kami menuju kelas. Masih
sama, aku berjalan di belakang Chiro. Setiap hari selalu begini. Kiku yang
paling banyak bicara di kelas, langsung diam saat di dekat Chiro. Sesampainya
di kelas aku menaruh tasku. Melihat ke arah bangku Chiro sebentar. Belum sempat
duduk, aku ikut bergabung dengan anak- anak cewek yang ngobrol di depan kelas.
Ritual harian kami sebelum jam masuk tiba. Heboh sendiri, membicarakan cowok
taksiran masing-masing. Aku sih Cuma ikut hebohnya saja. Giliran ditanya siapa
cowok taksiran, aku akan diam seribu bahasa atau mengalihkan pembicaraan ke hal
menarik lainnya. Tepatnya tidak menarik
sama sekali.
***
Aku melihat Chiro sedang duduk di depan kelas
sendirian. Tidak biasanya. Dia memegang buku tulisnya. Aku bahkan kemarin itu
belum sempat membaca utuh tulisan di buku Chiro. Itu bukan tulisan, itu gambar.
Gambar buatan Chiro bagus. Mungkin selama ini saat pelajaran dia selalu
menggambar. Sama seperti yang aku lakukan. Bedanya gambar buatan Chiro bernilai
seni tinggi sedangkan gambar aku tidak ada nilainya.
Aku berjalan menuju ke tempat Chiro sedang duduk.
Pelan- pelan sekali. Pura- pura tidak terjadi apa-apa. Mengendap-endap. Aku
berdiri sebentar di samping Chiro sambil mencoba melirik ke arah buku yang
sedari tadi dibawa oleh Chiro. Dia sedang menggambar lagi rupanya. Aku duduk
perlahan. Memainkan kakiku maju mundur seperti anak kecil. Sesekali melirik ke
arah Chiro yang sedang serius.
Saat Chiro menyadari kehadiranku, dia langsung
menutup bukunya cepat. Memandang ke arahku sebentar, bersiap untuk enyah dari
sampingku.
“Chi....” Sebelum aku menyelesaikan panggilanku,
Chiro menoleh ke arahku. Kemudian menyerahkan secarik kertas yang dia ambil
diantara lembaran- lembaran bukunya.
“Ini kan, yang kemarin belum selesai kamu lihat.”
Chiro menyerahkan selembar kertas penuh dengan coretan.
“Ini..” Aku bingung harus bilang apa. “Apa
maksudnya?”
“Itu untuk kamu, Komodo penguntit.” Chiro bergegas
pergi masuk ke dalam kelas.
Aku melihat kertas dari Chiro. Aku bahkan hampir
lupa apa yang aku lihat kemarin. Hanya beberapa kata saja yang aku ingat. Dan
hanya beberapa goresan gambar saja yang aku ingat. Ini gambar Komodo. Cantik
dengan pita di kepalanya. Komodonya tersipu malu. Ada beberapa tulisan di bawah
gambar Komodo kecil itu. Puisi. Yang sempat aku baca kemarin.
Komodo
Penguntit
Dia
selalu mengikutiku
Mungkin
hanya perasaanku saja
Dia
selalu di belakangku
Dia
selalu memperhatikanku
Mungkin
ini juga hanya perasaanku saja
Dia
seperti predator yang siap menerkam mangsanya
Mengendap-
endap di belakang
Kemudian
muncul menyerang
Komodo
penguntit
Selalu
mengendap-endap di belakangku
Entah
kapan dia akan menerkamku.
Aku
membaca puisi yang aneh ini. Tentu saja ini bukti bahwa Chiro bukan tipe cowok
romantis yang pandai membuat puisi. Saranku, mungkin kamu spesialis aja di
bidang visual jangan tulisan.
“Komodo
Penguntit?” Aku bergumam. “Eh? Maksudnya aku?” Aku menunjuk hidungku sendiri.
“Komodo penguntit katanya. Apa tidak ada yang lebih bagus dari ini. Putri malu
kek, Putri impian ato apalah. Tapi dia benar, liurku memang beracun.” Aku
merasa sedikit kesal pada Chiro.
Aku
menggulung kertas dari Chiro. Senyum simpul menghiasi bibirku. Aku baru saja
merasakan perasaan jengkel, senang, G.R, antusias campur aduk jadi satu. Selama
ini Chiro menyadarinya. Aku selalu mengikutinya dari belakang. Saat naik sepeda
ke sekolah. Saat parkir. Saat jalan menuju kelas. Pas ke kantin. Pas mau
upacara. Dan ini tadi, pas duduk di depan kelas. Semakin aku memikirkannya,
malah hal negatif yang muncul. Perkiraan- perkiraan yang membuat aku malah
merasa bersalah. Jangan- jangan Chiro mau bilang “Jangan ikuti aku lagi”, tapi
medianya kertas ini. Jadi Chiro sebenarnya membenciku. Jadi mimpiku semalam
memang benar. Chiro membenciku. Intuisi 100% yang sering aku andalkan ini, kini
tepat.
Aku
masuk kelas dengan pikiran negatifku. Untuk pikiran positifku entah kemana. Aku
tidak bisa berpikir dengan baik. Yang ada sekarang hanya satu kalimat yang aku
ingat-ingat terus “Chiro Membenciku”. Aku menatap ke arah Chiro dengan tatapan
sedih. Setelah ini aku harus bagaimana.




.jpg)
