RSS

Senin, 20 Januari 2014

LOGO

ini adalah logo perusahaan saya. suatu saat nanti. bergerak di bidang kuliner, fashion, book store, dll
:3

ichiban purezento untuk iciban tomodachi :3


Kamis, 09 Januari 2014

Belajar Jepang bersama Harada-san.


Sudah obsesi bisa belajar bahasa jepang dari SMP. Ini pengaruh dari dragon ball yang sering aku tonton tiap minggu, dan sailormoon. Mungkin aku pengen mengingat kembali anime apa saja yang pernah aku tonton ditipi yang kebanyakan enggak sampai tamat. Pertama keinget banget adalah ranma ½, dragon ball, sailormoon, creamy mami, miki momo, fumofu, pokemon, digimon, kaptain tsubasa, naruto, one piece, fairy tail, p-man, conan, samurai x, ninja hatori, chibi maruko chan, bakugan, yugi oh... dan ohhhhh terlalu banyak sekali ternyata.
Setelah memendam keinginan belajar bahasa jepang belasan tahun (g sampai sih) akhirnya semester ini ada elective bahasa jepang dikampus, dan aku memutuskan les bahasa jepang di pusat bahasa jepang universitas. Aku merasakan lingkungan baru yang menyenangkan.  Walau seringnya lebih ke bercanda dari pada belajar.
Kami sudah hampir seminggu pertemuan di les-lesan. Tapi enggak pernah sekalipun kami yang sekelas ada delapan orang ini bisa masuk bersamaan. Parahnya lagi, pernah Cuma 2 orang saja yang berangkat (bukan termasuk aku). Akhir-akhir ini memang sedikit suka bolos, ini masalah jarak.
Hari kemarin, 7 Jan 2013. Kelas kita agak berbeda, karena kami kedatangan tamu dari Jepang. Bukan khusus ke Indonesia demi sekelompok kecil murid les ini sih.  Dia tinggi dan putih, matanya sipit. Lebih tinggi dari Ichi-san (native elective). Dan lebih kalem dari Ichi-san. Aduh kenapa jadi membanding-bandingkan. Gomen nasai Ichi – san.
Kinou Harada namanya. Dari kota Tokyo, asal aslinya sih dari Yokohama. Jadi mahasiswa Sastra Indonesia, padahal jurusan awalnya ekonomi (pas di Jepang sana). Harada-san karyawan perusahaan Jepang yang cabangnya sudah jelas ada di beberapa kota di Indonesia. Makanya Harada-san belajar bahasa Indonesia karena mau ditempatkan di sini.
Setelah Harada-san berkenalan, giliran kami yang terdiri dari murid level 3 (yang sudah lebih lancar bahasa Jepang) dan murid level 1 (yang masih jauh sekali) untuk berkenalan dan bertanya. Aku akan membahas beberapa pertanyaan (seingat aku aja).
“shumi wa nan desuka?” “watashi no shumi wa tennisu desu”. Harada-san suka bermain tenis di dekat RS JIH (bukan rawat jalan lho ya). Pertanyaan sederhana sampai pertanyaan agak nyleneh pun terlontar dari mulut murid-murid level 3 dan yang level 1 banyakan diam (aku sudah bilang mau pasif sih. Lho?). bukan karena itu, tapi karena bingung mau tanya apa? Bahasa Jepangnya apa? Ya begitulah.
Harada-san sudah mengunjungi beberapa kota di Indonesia, dari Jakarta, Bandung, Jepara, dan Bali. Beberapa hari lagi Harada-san mau ke Bali, setelah ujian. Mau surfing katanya. Orang jepang sepertinya sangat menyukai surfing ya (sampel 3 orang Jepang). Kata Harada-san  bahasa Indonesia itu sulit. Muzukashii. Iya sih, aku saja merasa itu sulit. Di Yogyakarta, Harada-san sudah ke Kraton, Taman sari, Borobudur (yang sebenernya itu di Magelang lho bukan Jogja) dan Prambanan. Disini sudah dari bulan Juni. Makanan kesukaan Harada-san di sini adalah tongseng kambing.
Ada yang bertanya “Harada-san mau ngomong apa?”, mendengar pertanyaan itu Harada-san jadi bingung sendiri. Jelas aja bingung, mau ngomong apa ya?. Hahaha. Kami sekelas tertawa. Harada-san ternyata suka AKB 48 lho, personil yang paling disukai itu, etto..., aku lupa. Hha. Dan pas JKT48 konser di Jogja Harada-san nonton. Mungkin lain waktu aku juga mau nonton. Aa, Harada-san tidak terlalu menyukai anime tapi dulu pas masih kecil suka nonton dragon ball juga lho. Kalau dorama, sering nonton pas masih kuliah, tapi karena sudah bekerja jadi jarang (mungkin terlalu sibuk sekali).
Bertanya usia itu sensitif sekali untuk orang Jepang (menurut materi begitu sih). Tapi tetap saja kita penasaran kan. Akhirnya ada yang bertanya “nan sai desuka”. Harada-san malah balik bertanya. “kalau menurut kalian berapa usia saya?”. Aduh, aku enggak bisa nebak, mukanya ambigu banget. Nekat aja ada yang jawab “hatachi” (kejauhan), ada yang “ni ju go sai” (masih salah). Harada-san usianya 30-an sekian. Harada-san bilang “mungkin kalau dikantor saya seperti orang usia 34 tahun (seumuran kakak aku) tapi mungkin karena saya di sini kuliah jadi lebih muda”. Harada-san sudah menikah. Sontak yang para cowok langsung bilang “tidak ada harapan buat kalian” sambil melihat ke arah kami yang cewek-cewek. Anaknya 2 kembar cewek-cewek, usianya 4 tahun. Bayanginya pasti unyu-unyu banget. Harada-san punya imoto (adik perempuan) yang tinggal bersama suaminya di Singapura.
Kemarin pas kelas Jepang, iseng aku bertanya ke sensei apa arti dari “Atarimae Taiso” yang pernah nonton di youtube pasti tahu, yang di Indonesia-kan jadi “Senam Yang Iya Iyalah”. Aku sedikit tidak percaya, masak sih artinya seengak jelas itu. Akhirnya tadi sama sensei di suruh tanya itu ke Harada-san. Dan jawabannya adalah sama kayak yang di youtube itu. Aku masih enggak percaya. Harada-san bilang yang mengartikan atarimae taiso ke dalam bahasa Indonesia adalah gurunya. Baru percaya. Hha. Itu hanyalah komedi katanya.
Kembali ke AKB 48. Ternyata di Jepang fans AKB48 itu yang berusia 30-an keatas, kebanyakan usianya di atas Harada-san lho. Sedangkan di Indonesia sendiri fans JKT 48 kan masih anak sekolahan SMP sampai kuliahan, itu membuat Harada-san terkejut. Eh, kami juga terkejut lho,di Jeapng  masak seusia itu suka anak-anak seusia AKB48 itu.
Harada-san kalau pergi-pergi naik sepeda motor tanpa memiliki SIM. Di Jepang sendiri kalau mau cari SIM mobil harus bayar 20-30jutaan. Ujiannya tertulis dan praktek. Makanya kursus terlebih dahulu biar langsung lulus. Lisensi dari Jepang tidak bisa digunakan di Indonesia karena peraturannya berbeda. Mungkin karena kemacetannya juga berbeda (eh?).
Jepang mendaftarkan makanan Jepang seperti Sushi, Sobamie ke Unesco sebagai warisan dunia. Itulah budaya Jepang yang paling nomor satu menurut Harada-san. Sedangkan “matsuri” yang paling terkenal menurut Harada-san itu Festival Kembang api, sama kayak perayaan tahun baru di Malioboro tapi 20kali lipat lebih meriah, 20kali lipat kembang apinya lebih gede. 100 meter katanya (agak ragu), mungkin 100 meter diameter kembang api yang sudah dilangit.
Ada yang bertanya tentang nama Harada-san. Pertama dijelaskan nama marganya yaitu “Harada”, dari kanji padang pasir (eh padang rumput, lupa) dan sawah. Dia bilang mungkin dulu nenek-kakeknya adalah seorang petani. Sedangkan namanya “Kinou”, dari 2 huruf kanji juga, yang Harada-san sendiri tidak bisa menjelaskan kanji pertama, kanji kedua artinya lahir, sama seperti kanji yang ada di kata “sensei”.
Yang terakhir, sensei ngobrol asyik sama Harada-san pada ngomongi HIROAKI KATO. Ya, ya, ya aku tahu Hiro-san. Tenyata di Jepang Hiro-san adalah seorang penyanyi, aktor dan penerjemah. Setahuku Cuma penyanyi saja. Hiro san pernah tinggal di Yogyakarta, dulu pernah ikut siaran “ichigo” di SwaragamaFM. Pernah menyanyikan lagunya Letto, dan sekarang suaranya Hiro-san masih bisa didengar jadi endingnya acara Ichigo.
Satu lagi, Harada-san pro sama yang namanya poligami. Ya ampun (tepok jidat). Tahun ini novel laskar pelangi akan diterbitkan di Jepang dalam bahasa Jepang lho (ya iya lah *red: atarimae). Judul Jepangnya “niji no........”, Harada-san kesulitan menerjemahkan kata Laskar.

Senin, 06 Januari 2014

gambar gambar saya

kyaaaaa.... ini adalah karakter yang selama ini saya gambar berulang-ulang..

ini tiga sahabat, nene itu gadis yang ceria, ah hime juga sama. tapi kaleman nene sih. yoko itu dari jepang ceritanya. hhe
suka sekali gambar ini... <3 hha. terlihat romantis ya *dari mananya coba.

 *kore wa himitsu desu*

ini lukisan gunung fuji versi saya.. kata temen bagian pohon bambunya keren *hanya bagian pohon bambu saja.

kalau yang ini gambar gunung merapi, dilihat dari jembatan teknik UGM. hha.. mungkin lebih tepat gambar absurd..

Kamis, 12 Desember 2013

girl in the rain


ini gambar yang aku buat pakai program "paint" di laptop. harapannya sih pengen buat ilustrasi cerita atau bahkan cover buku eh, novel saya. hha. tapi gak dink. wajahnya sedih. kita bikin lagi yang bahagia besok.

hem.. pengen jadi mangaka. tapi g jago gambar. hha, apalagi gambar ekstremitas *malu. tapi pengen sekali mematenkan carakter ini. ini lho karakter punya saya. masih bingung mau namain siapa. suka sih nama Hime, tapi juga lagi suka nama Ruki.

dilihat-lihat seperti gambar anak TK ya. tapi di situ seninya *pembelaan.

Selasa, 26 November 2013

TIPE-TIPE SKIZOFRENIA

Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnoosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III) skizofrenia dibagi kedalam 9 tipe, yaitu:

1)    F20.0 Skizofernia Paranoid
Ini adalah jenis skizofrenia yang paling sering dijumpai di negara manapun. Gamabaran klinis didominasi oleh waham-waham yang secara stabil, sering kali bersifat paranoid, biasanya disertai oleh halusianasi-halusianasi, terutama halusinasi pendengaran, dan gangguan-gangguan persepsi. Gangguan afektif, dorongan kehendak (vilition) dan pembicaraan serta gejala-gejala katatonik tidak menonjol.
Beberapa contoh dari gejajal-gejala paranoid yang paling umum : a) Waham-waham kejaran , rujukan (reference), “exalted birth” (merasa dirinya tinggi, istimewa), misi khusus, perubahan tubuh atau kecemburuan; b) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi peluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing); c) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
Gangguan pikiran mungkin jelas dalam keadaan-keadaan yang akut, tetapi sekalipun demikian kelaianan atau tidak menghambat diberikannnya deskripsi secara jelas mengenai waham atau halusinasi yang bersifat khas. Keadaan afektif biasanya kurang menumpul dibandingkan jenis-jenis skizofrenia lain, tetapi suatu derajat yang rinagan mengenai ketidakserasian (incongruity) umum dijumpai seperti gangguan iritabilitas, kemarahan yang tiba-tiba, ketakutan dan kecurigaan. Gejala “negatif” seperti pendataran afektif, hendaya dalam dorongan kehendak (volition) sering dijumpai tetapi tidak mendominasi gambaran klinisnya.
Onset cenderung terjadi pada usia yang lebih tua daripada bentuk-bentuk hebefrenik dan katatonik.

2)    F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Suatu bentuk skizofrenia denga perubahan afektif yang tampak jelas, dan secara umum juga dijumpai waham dan halusinasi   yang bersifat mengambang serta terputus-putus (fragmentary), perilaku yang tak bertanggungjawab dan tak dapat diramalkan, serta umumnya mannerisme. Suasana perasaan (mood) pasien dangkal, dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai cekikikan (giggling) atau perasaan puas-diri (self-satisfied), senyum sendiri (self absorbed smiling), atau oleh sikap yang angkuh/ agung (lofty manner); tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersebdau gurau (pranks), keluhan yang hipokondrik, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases). Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren. Ada kecenderungan untuk tetap menyendiri (solitary), dan perilaku  tampak hampa dan tanpa tujuan dan hampa perasaan. Bentuk skizofrenia ini biasanya mulai antara umur 15-25 tahun, cenderung mempunyai prognosis yang buruk akibat berkembangnya secara cepat gejala “negatif”, terutama mendatarnya afek dan semakin berkurangnya dorongan kehendak (lost of volition).
Sebagai tambahan gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol. Dorongan gairah (drive) dan ketegasan (determination) hilang seta tujuan ditinggalkan, sehingga perilaku tanpa tujuan dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya makin mempersukar opemahaman mengenai arus pikir pasien.

3)    F20.2 Skizofrenia Katatonik
Gangguan psikomotor yang menonjol merpukana gambaran yang esensial dan dominan dan dapat bervariasi antara kondisi eksterm seperti hiperkinesis dan stupor, atau antara sifat penurut yang otomatis dan negativisme. Sikap dan posisi tubuh yang dipaksakan (costrained) dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang lama. Episode kegelisahan disertai kekerasan (violent) mungkin merupakan gambaran keadaan yang mencolok.
Karena alasan kurang dipahami, skizofernia katatonik sekarang jarang dijumpai di negera-negara industri, walaupun dimana-mana tetap lazim dijumpai. Fenomena katatonik ini dapat berkombinasi dengan suatu keadaan seperti bermimpi (oneroid) dengan halusinasi pemandangan yang jelas.

4)    F20.3 Skizofrenia Tidak Terinci (undifferentiated)
Kondisi-kondisi yang memenuhi kriteria diagnostik umum untuk skizofrenia tetapi tidak sesuai dengan satu pun sub tipe, atau memperlihatkan gejala lebih dari satu sub tipe tanpa gambaran predominasi yang jelas untuk suatu kelompok diagnosis yang khas.

5)    F20.4 Depresi Pasca Skizofrenia
Suatu episode depresif yang mungkin berlangsung lama dan timbul sesudah suatu serangan penyakit skizofrenia. Beberapa gejala skizofrenik harus tetap ada tetapi tidak ada lagi mendominasi gambaran klinisnya. Gejala-gejala yang menetap ini dapat “positif” atau “negatif”, walaupun biasanya yang terakhir itu lebih sering. Sering kali sulit untuk dibedakan gejala mana yang ditimbulkan akibat depresi dan mana yang ditimbulkan akibat medikasi neuroleptika atau ditimbulkan akibat gangguan dorongan kehendak, dan mendatarnya afek dari skizofrenia itu sendiri. Gangguan depresif ini disertai oleh suatu peningkatan risiko bunuh diri.

6)    F20.5 Skizofrenia Residual
Suatu stadium kronis dalam perkembangan suatu gangguan skizofrenia dimana  telah terjadi progresi yang jelas dari stadium awal (terdiri satu atau lebih episode dengan gejala psikotik yang memenuhi kriteria umum untuk skizofrenia di atas) ke stadium lebih lanjut yang ditandai secara khas oleh gejala-gejala “negatif” jangka panjang, walaupun belum tentu irreversibel.

7)    F20.6 Skizofrenia Simpleks
Suatu kelainan yang tidak lazim dimana ada perkembangan yang lambat tetapi progresif mengenai keanehan tingkah laku, ketidakmampuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan penurunan kinerja. Tidak terdapat waham dan halusinasi, serta gangguan ini bersifat kurang nyata psikotik jika dibandingkan dengan skizorenia subtipe hebefrenik, paranoid, dan katatonik. Ciri-ciri  “negatif” yang khas dari skizofrenia residual (misalnya afek menumpul, hilangnya dorongan kehendak) timbul tanpa didahului oleh gejala-gejala psikotik yang overt. Bersama dengan bertambahnya kemunduran sosial, maka pasien dapat berkembang lebih lanjut menjadi glandangan (psikotik), pendiam, pemalas, dan tanpa tujuan.

8)    F20.8 Skizofrenia Lainnya
a)    Termasuk :     Skizofrenia senestopatik, Gangguan skizofrenia YTT; b) Tak termasuk : Gangguan lir-skizofrenia akut,    Skizofrenia siklik,    Skizofrenia laten.

9)    F200.9 Skizofrenia YTT

daftar pustaka 

American Psychiatric Association. 2000. Diagnostic and Stastistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition. Text Revision. Washington, DC: American Psychiatric Assosiation.

Minggu, 24 November 2013

KINKIN DAN MUSIM HUJAN


“Kin, seharian ini cemberut aja sih kamu.”
“Tuh liat, mendung.” Kinkin menunjuk langit hitam.
Musim hujan tahun ini sama. Membawa kebahagiaan bagi para petani. Tanaman padi menghijau dan siap panen tiap tahunnya. Air melimpah, tak ada ribut-ribut kekeringan lagi, yang ada banjir dimana-mana. Jelas keributannya lain lagi. Sama halnya dengan Kinkin, dia membenci musim hujan. Alasannya klise, basah tiap hari, cucian numpuk, pake mantel ribet tiap hari, dan satu hal lagi kamarnya bocor.

Hujan lebat sudah mengguyur kota sedari pagi. Membuat Kinkin dan mahasiswa lainnya enggan pergi kekampus. Hujan dari langit itu pasti akan menghapus dandanan rapi mereka. Kinkin bermalas-malasan, terhuyung masuk kamar mandi.
“Ntar sampai kampus juga basah lagi. Ih.. bisa ga sih tahun ini hujannya sebulan aja.” Kinkin menggerutu sambil masuk kamar mandi.

Titik-titik hujan sudah mulai mereda, tapi ya, masih saja bisa membasahi apapun yang berada diluar. Kinkin memakai mantelnya, memasukkan sepatunya ke dalam tas kresek hitam. Kostum ribetnya sudah terpasang rapi. Kinkin mengeluarkan motornya. Menerjang hujan pagi ini dengan terpaksa.
Banyak orang terpaksa di musim hujan ini. Kalau bisa sih semuanya punya mobil, jadi aman di jalan, aman dari rintik hujan. Pada kenyataannya mereka terpaksa berhujan-hujan ria. Ada yang menyambut bahagia tapi kalau orang seperti Kinkin, pasti hanya akan membuat gerutuan yang tak pernah berhenti sepanjang hari.

Kinkin masuk kelas dengan keadaan yang bisa dibilang tidak nyaman. Kedinginan, basah, padahal sudah memakai mantel. Beberapa anak lain juga sama dengan Kinkin, bahkan ada yang seperti habis nyemplung kolam, gara-gara malas pake mantel.
“Kog elu bisa kering kayak gitu sih, Mel?” Kinkin menghampiri Mela dan duduk disebelahnya.
Mela tersenyum sombong. “Iya dong, Gue kan dianterin Roni pake mobilnya. Ahahaha.”
“Ih, beruntung banget sih lu.” Kinkin merasa iri.
“Udah Kin, elu yang sabar aja ya?” Mela mencoba membesarkan hati Kinkin sambil menepuk-nepuk bahunya.
Kinkin memandang Mela dengan wajah cemberutnya, merasa tak adil.
Kuliah akhirnya ditemani dengan basah-basahan dan dingin-dinginan yang tidak nyaman. AC-nya juga tidak dimatikan, berhembus kencang menambah dingin.

“Aarrrgghhh, bisa ga sih, ga usah ada musim hujan aja.” Kinkin mulai mengeluh lagi, sambil menyendok makan siangnya.
“Ya ampun, Kin. Kamu dari tahun ke tahun ga pernah ganti topik ya? Keluhannya sama, ga kreatif lu. Elu tuh harus bersyukur kali. Hujan itu berkah. Dan doa elu itu ga bisa ngalahin doa para petani yang udah ngarepin hujan.” Mela berlagak sok Bijak.
“Gue ga suka hujan, Mel. Kamar gue bocor, basah semuanya. Dan gue ga suka.” Kinkin masih mengeluh.
“Jadi, alasannya cuma itu aja? Kinkin, itu kan tinggal dibenerin aja. Ya ampun ni anak bener-bener dah.”
“Ga semudah itu, Mel.”
Hujan masih menemani suasana kantin yang semakin memadat mendekati jam makan siang. Payung berjajar rapi. Basah dimana-mana. Becek. Membuat orang betah berlama-lama di kantin berharap beberapa menit lagi mungkin hujan reda. Kinkin dan Mela sengaja berlama-lama, sengaja menunggu hujan reda. Tapi hujan enggan untuk berhenti.

Suara rintik hujan mendamaikan. Saat tetes airnya menyentuh tanah, menyeruak bau tanah yang menenangkan. Sungai-sungai mati tiba-tiba hidup kembali, memainkan irama gemericik air yang terdengar menyegarkan. Pohon-pohon yang meranggas kembali bertunas dan menghijau. Katak-katak yang berhibernasi bersuka cita bernyanyi setiap hari. Pohon-pohon layu bangkit lagi untuk meneruskan hidupnya.
Kinkin merindukan suara sungai kecil disamping rumahnya, Kinkin merindukan hijaunya pepohonan di sekitar rumahnya. Itulah perasaan Kinkin kecil.
Hujan selalu menjadi romantisme tersendiri bagi beberapa orang. Di novel, di sinetron, di film-film layar lebar, mereka menggambarkan hujan adalah moment berharga bagi pasangan kekasih. Menangis tersedu dibawah rintikan hujan, menari-nari dibawah rintikan hujan. Semuanya tidak pernah seromantis itu menurut Kinkin saat ini. Kinkin lupa akan kerinduannya dengan musim hujan di masa kecilnya.

Bertahun-tahun Kinkin terkungkung pada perasaan bencinya pada hujan. Sampai akhirnya dia bertemu Aldi. Penyanyi indie yang menciptakan lagu yang kebanyakan bertema hujan. Kinkin menemukan romantisme hujan itu. Berhari-hari Kinkin selalu mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Aldi.
“Udah denger lagu baru Gue?” Aldi bertanya pada Kinkin
Kinkin mengangguk. “Iya.”
“Suka?” Aldi bertanya lagi.
“Iya.” Kinkin mengangguk lagi tanpa berkomentar penjang lebar.
Sore itu hujan gerimis turun, matahari bersinar, membuat pola pelangi terlihat dari kejauhan. Kinkin dan Aldi duduk berdua di Cafe. Mereka terdiam menikmati pemandangan merah kuning hijau di langit.
“Ini alasan kenapa gue suka banget sama hujan.” Aldi berkata sambil masih melihat pelangi. “Gue suka liat pelangi.”
Kinkin masih terdiam, kalau melihat pelangi sih Kinkin juga suka. Pemandangan langka. Tapi kan tidak setiap hujan pasti muncul pelangi.
“Tapi kan, ga setiap hujan muncul pelangi.” Kinkin memandang Aldi.
“Iya sih, tapi rintik hujan itu juga mengalun indah seperti nyanyian. Gue juga suka dengernya.”
“Tapi kalau rumah lu bocor, kan ga bisa menikmati rintik hujan dengan tenang.”
Aldi menatap Kinkin heran. “Elu kok mikirnya gitu sih, Kin. Lucu tau.” Aldi seketika tertawa.
Kinkin cemberut. Ini masalah kamar Kinkin yang bocor jadi dia tidak bisa menikmati rintik hujan dengan tenang.
“Pernah ga, elu mencoba benar-benar menikmati hujan?” Aldi bertanya pada Kinkin.
Kinkin menggeleng.
“Sekarang pejamkan mata lu, resapi tenangnya rintik hujan.” Aldi menutup matanya.
Kinkin merasa aneh dengan sikap Aldi. Ada gitu laki-laki seperti ini. Kinkin masih melihat Aldi yang menutup matanya. Perlahan Kinkin mulai mengikuti Aldi menutup mata.
Suara hujan saat kita terpejam memang beda. Terdengar damai, nyanyian yang sangat merdu. Kinkin merasakan suara rintik yang jatuh menyentuh dedaunan, tanah dan atap cafe. Terdengar lamat-lamat suara nyanyian Aldi menambah teduh sore itu. Kinkin mulai menikmatinya. Beberapa saat kemudian Kinkin membuka matanya. Dihadapannya sudah ada Aldi yang tersenyum melihat Kinkin.
“Bagus kan? Apa lagi ditambah lagu itu.” Aldi menunjuk speaker diatas mereka yang dari tadi melantunkan lagu-lagu Musim Hujan, band indie yang divokali Aldi.
Kinkin tersenyum. “Lumayan bisa mempengaruhi gue, lu.” Mereka berdua tertawa bersama sambil menikmati hujan di sore itu.

Setiap hari Kinkin mendengarkan lagu-lagu Musim Hujan. Di kampus dia memamerkannya pada Mela. Tapi Mela tidak terlalu menikmati lagunya, bukan tipe penyuka band indie. Mela suka karena lagu-lagu itu bisa membuat Kinkin berhenti mengeluhkan tentang musim hujan yang menjandi ritunitas setiap tahunnnya. Mela malah menggoda Kinkin menyebut-nyebut nama Aldi disetiap pembicaraan.
“Mel. Udah deh, Aldi itu Cuma temen gue, ga lebih dan ga kurang. Udah ah. Ganti topik.”
“Elu jangan bohong ama gue deh, Kin. Elu pasti suka Aldi kan? Buktinya sekarang elu ga pernah lagi ngeluh soal hujan semenjak ketemu Aldi. Iya kan? Suka kan?” Mela ngotot bertanya sampai Kinkin bilang kalau dia suka Aldi.
“ENGGAK SUKA, Mel.” Kinkin menekankan kalimatnya.
“Ah, pasti cuma belum aja kan?” Mela masih ngotot.
“Ehm.... Bisa jadi.” Kinkin tersenyum sambil berjalan meninggalkan Mela.
“Eh, tunggu dong, Kin.” Mela berlari ke arah Kinkin.
Dua sahabat itu berjalan dikoridor kampus, bercanda ditemani suara gemericik hujan yang turun sedari tadi pagi. Hujan mereda namun tetap menetes rintik-rintik, sinar matahari memberi kehangatan dihiasi pelangi yang melengkung indah dilangit. Kinkin sudah berhenti mngeluhkan hujan yang akan berlangsung beberapa bulan lagi. Kamarny tetap masih bocor, tapi setidaknya dia tidak terlalu mempermasalahkan itu lagi. Mungkin dia sudah bisa menikmati suara hujan yang turun menembus genteng kamarnya yang bocor. Karena hujan adalah awal kehidupan semuanya. 




Minggu, 27 Oktober 2013

Perfectionist...

hari ini panas sekali. ya trus? membuat emosi semakin memanas. trus pengen mendekam di pojokan  sambil nangis-nangis.

fyuh...
entahlah, aku merasa terpojokkan. sebenarnya tidak sama sekali. saya hanya sensitif tingkat atas saja. perasanya banget.

jadi..
tidak begitu mood sebenarnya. pengen afek datar aja gitu. isolasi sosial kalau perlu. tapi dengan semua itu masalah tidak akan selesai. kalau begitu malah nambah masalah. walau ada yang bilang masalah itu hal yang berharga.

but i'm perfectionist.
udah gitu aja.
bikin puyeng sendiri.