RSS

Selasa, 26 November 2013

TIPE-TIPE SKIZOFRENIA

Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnoosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III) skizofrenia dibagi kedalam 9 tipe, yaitu:

1)    F20.0 Skizofernia Paranoid
Ini adalah jenis skizofrenia yang paling sering dijumpai di negara manapun. Gamabaran klinis didominasi oleh waham-waham yang secara stabil, sering kali bersifat paranoid, biasanya disertai oleh halusianasi-halusianasi, terutama halusinasi pendengaran, dan gangguan-gangguan persepsi. Gangguan afektif, dorongan kehendak (vilition) dan pembicaraan serta gejala-gejala katatonik tidak menonjol.
Beberapa contoh dari gejajal-gejala paranoid yang paling umum : a) Waham-waham kejaran , rujukan (reference), “exalted birth” (merasa dirinya tinggi, istimewa), misi khusus, perubahan tubuh atau kecemburuan; b) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi peluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing); c) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
Gangguan pikiran mungkin jelas dalam keadaan-keadaan yang akut, tetapi sekalipun demikian kelaianan atau tidak menghambat diberikannnya deskripsi secara jelas mengenai waham atau halusinasi yang bersifat khas. Keadaan afektif biasanya kurang menumpul dibandingkan jenis-jenis skizofrenia lain, tetapi suatu derajat yang rinagan mengenai ketidakserasian (incongruity) umum dijumpai seperti gangguan iritabilitas, kemarahan yang tiba-tiba, ketakutan dan kecurigaan. Gejala “negatif” seperti pendataran afektif, hendaya dalam dorongan kehendak (volition) sering dijumpai tetapi tidak mendominasi gambaran klinisnya.
Onset cenderung terjadi pada usia yang lebih tua daripada bentuk-bentuk hebefrenik dan katatonik.

2)    F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Suatu bentuk skizofrenia denga perubahan afektif yang tampak jelas, dan secara umum juga dijumpai waham dan halusinasi   yang bersifat mengambang serta terputus-putus (fragmentary), perilaku yang tak bertanggungjawab dan tak dapat diramalkan, serta umumnya mannerisme. Suasana perasaan (mood) pasien dangkal, dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai cekikikan (giggling) atau perasaan puas-diri (self-satisfied), senyum sendiri (self absorbed smiling), atau oleh sikap yang angkuh/ agung (lofty manner); tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersebdau gurau (pranks), keluhan yang hipokondrik, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases). Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren. Ada kecenderungan untuk tetap menyendiri (solitary), dan perilaku  tampak hampa dan tanpa tujuan dan hampa perasaan. Bentuk skizofrenia ini biasanya mulai antara umur 15-25 tahun, cenderung mempunyai prognosis yang buruk akibat berkembangnya secara cepat gejala “negatif”, terutama mendatarnya afek dan semakin berkurangnya dorongan kehendak (lost of volition).
Sebagai tambahan gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol. Dorongan gairah (drive) dan ketegasan (determination) hilang seta tujuan ditinggalkan, sehingga perilaku tanpa tujuan dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya makin mempersukar opemahaman mengenai arus pikir pasien.

3)    F20.2 Skizofrenia Katatonik
Gangguan psikomotor yang menonjol merpukana gambaran yang esensial dan dominan dan dapat bervariasi antara kondisi eksterm seperti hiperkinesis dan stupor, atau antara sifat penurut yang otomatis dan negativisme. Sikap dan posisi tubuh yang dipaksakan (costrained) dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang lama. Episode kegelisahan disertai kekerasan (violent) mungkin merupakan gambaran keadaan yang mencolok.
Karena alasan kurang dipahami, skizofernia katatonik sekarang jarang dijumpai di negera-negara industri, walaupun dimana-mana tetap lazim dijumpai. Fenomena katatonik ini dapat berkombinasi dengan suatu keadaan seperti bermimpi (oneroid) dengan halusinasi pemandangan yang jelas.

4)    F20.3 Skizofrenia Tidak Terinci (undifferentiated)
Kondisi-kondisi yang memenuhi kriteria diagnostik umum untuk skizofrenia tetapi tidak sesuai dengan satu pun sub tipe, atau memperlihatkan gejala lebih dari satu sub tipe tanpa gambaran predominasi yang jelas untuk suatu kelompok diagnosis yang khas.

5)    F20.4 Depresi Pasca Skizofrenia
Suatu episode depresif yang mungkin berlangsung lama dan timbul sesudah suatu serangan penyakit skizofrenia. Beberapa gejala skizofrenik harus tetap ada tetapi tidak ada lagi mendominasi gambaran klinisnya. Gejala-gejala yang menetap ini dapat “positif” atau “negatif”, walaupun biasanya yang terakhir itu lebih sering. Sering kali sulit untuk dibedakan gejala mana yang ditimbulkan akibat depresi dan mana yang ditimbulkan akibat medikasi neuroleptika atau ditimbulkan akibat gangguan dorongan kehendak, dan mendatarnya afek dari skizofrenia itu sendiri. Gangguan depresif ini disertai oleh suatu peningkatan risiko bunuh diri.

6)    F20.5 Skizofrenia Residual
Suatu stadium kronis dalam perkembangan suatu gangguan skizofrenia dimana  telah terjadi progresi yang jelas dari stadium awal (terdiri satu atau lebih episode dengan gejala psikotik yang memenuhi kriteria umum untuk skizofrenia di atas) ke stadium lebih lanjut yang ditandai secara khas oleh gejala-gejala “negatif” jangka panjang, walaupun belum tentu irreversibel.

7)    F20.6 Skizofrenia Simpleks
Suatu kelainan yang tidak lazim dimana ada perkembangan yang lambat tetapi progresif mengenai keanehan tingkah laku, ketidakmampuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan penurunan kinerja. Tidak terdapat waham dan halusinasi, serta gangguan ini bersifat kurang nyata psikotik jika dibandingkan dengan skizorenia subtipe hebefrenik, paranoid, dan katatonik. Ciri-ciri  “negatif” yang khas dari skizofrenia residual (misalnya afek menumpul, hilangnya dorongan kehendak) timbul tanpa didahului oleh gejala-gejala psikotik yang overt. Bersama dengan bertambahnya kemunduran sosial, maka pasien dapat berkembang lebih lanjut menjadi glandangan (psikotik), pendiam, pemalas, dan tanpa tujuan.

8)    F20.8 Skizofrenia Lainnya
a)    Termasuk :     Skizofrenia senestopatik, Gangguan skizofrenia YTT; b) Tak termasuk : Gangguan lir-skizofrenia akut,    Skizofrenia siklik,    Skizofrenia laten.

9)    F200.9 Skizofrenia YTT

daftar pustaka 

American Psychiatric Association. 2000. Diagnostic and Stastistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition. Text Revision. Washington, DC: American Psychiatric Assosiation.

Minggu, 24 November 2013

KINKIN DAN MUSIM HUJAN


“Kin, seharian ini cemberut aja sih kamu.”
“Tuh liat, mendung.” Kinkin menunjuk langit hitam.
Musim hujan tahun ini sama. Membawa kebahagiaan bagi para petani. Tanaman padi menghijau dan siap panen tiap tahunnya. Air melimpah, tak ada ribut-ribut kekeringan lagi, yang ada banjir dimana-mana. Jelas keributannya lain lagi. Sama halnya dengan Kinkin, dia membenci musim hujan. Alasannya klise, basah tiap hari, cucian numpuk, pake mantel ribet tiap hari, dan satu hal lagi kamarnya bocor.

Hujan lebat sudah mengguyur kota sedari pagi. Membuat Kinkin dan mahasiswa lainnya enggan pergi kekampus. Hujan dari langit itu pasti akan menghapus dandanan rapi mereka. Kinkin bermalas-malasan, terhuyung masuk kamar mandi.
“Ntar sampai kampus juga basah lagi. Ih.. bisa ga sih tahun ini hujannya sebulan aja.” Kinkin menggerutu sambil masuk kamar mandi.

Titik-titik hujan sudah mulai mereda, tapi ya, masih saja bisa membasahi apapun yang berada diluar. Kinkin memakai mantelnya, memasukkan sepatunya ke dalam tas kresek hitam. Kostum ribetnya sudah terpasang rapi. Kinkin mengeluarkan motornya. Menerjang hujan pagi ini dengan terpaksa.
Banyak orang terpaksa di musim hujan ini. Kalau bisa sih semuanya punya mobil, jadi aman di jalan, aman dari rintik hujan. Pada kenyataannya mereka terpaksa berhujan-hujan ria. Ada yang menyambut bahagia tapi kalau orang seperti Kinkin, pasti hanya akan membuat gerutuan yang tak pernah berhenti sepanjang hari.

Kinkin masuk kelas dengan keadaan yang bisa dibilang tidak nyaman. Kedinginan, basah, padahal sudah memakai mantel. Beberapa anak lain juga sama dengan Kinkin, bahkan ada yang seperti habis nyemplung kolam, gara-gara malas pake mantel.
“Kog elu bisa kering kayak gitu sih, Mel?” Kinkin menghampiri Mela dan duduk disebelahnya.
Mela tersenyum sombong. “Iya dong, Gue kan dianterin Roni pake mobilnya. Ahahaha.”
“Ih, beruntung banget sih lu.” Kinkin merasa iri.
“Udah Kin, elu yang sabar aja ya?” Mela mencoba membesarkan hati Kinkin sambil menepuk-nepuk bahunya.
Kinkin memandang Mela dengan wajah cemberutnya, merasa tak adil.
Kuliah akhirnya ditemani dengan basah-basahan dan dingin-dinginan yang tidak nyaman. AC-nya juga tidak dimatikan, berhembus kencang menambah dingin.

“Aarrrgghhh, bisa ga sih, ga usah ada musim hujan aja.” Kinkin mulai mengeluh lagi, sambil menyendok makan siangnya.
“Ya ampun, Kin. Kamu dari tahun ke tahun ga pernah ganti topik ya? Keluhannya sama, ga kreatif lu. Elu tuh harus bersyukur kali. Hujan itu berkah. Dan doa elu itu ga bisa ngalahin doa para petani yang udah ngarepin hujan.” Mela berlagak sok Bijak.
“Gue ga suka hujan, Mel. Kamar gue bocor, basah semuanya. Dan gue ga suka.” Kinkin masih mengeluh.
“Jadi, alasannya cuma itu aja? Kinkin, itu kan tinggal dibenerin aja. Ya ampun ni anak bener-bener dah.”
“Ga semudah itu, Mel.”
Hujan masih menemani suasana kantin yang semakin memadat mendekati jam makan siang. Payung berjajar rapi. Basah dimana-mana. Becek. Membuat orang betah berlama-lama di kantin berharap beberapa menit lagi mungkin hujan reda. Kinkin dan Mela sengaja berlama-lama, sengaja menunggu hujan reda. Tapi hujan enggan untuk berhenti.

Suara rintik hujan mendamaikan. Saat tetes airnya menyentuh tanah, menyeruak bau tanah yang menenangkan. Sungai-sungai mati tiba-tiba hidup kembali, memainkan irama gemericik air yang terdengar menyegarkan. Pohon-pohon yang meranggas kembali bertunas dan menghijau. Katak-katak yang berhibernasi bersuka cita bernyanyi setiap hari. Pohon-pohon layu bangkit lagi untuk meneruskan hidupnya.
Kinkin merindukan suara sungai kecil disamping rumahnya, Kinkin merindukan hijaunya pepohonan di sekitar rumahnya. Itulah perasaan Kinkin kecil.
Hujan selalu menjadi romantisme tersendiri bagi beberapa orang. Di novel, di sinetron, di film-film layar lebar, mereka menggambarkan hujan adalah moment berharga bagi pasangan kekasih. Menangis tersedu dibawah rintikan hujan, menari-nari dibawah rintikan hujan. Semuanya tidak pernah seromantis itu menurut Kinkin saat ini. Kinkin lupa akan kerinduannya dengan musim hujan di masa kecilnya.

Bertahun-tahun Kinkin terkungkung pada perasaan bencinya pada hujan. Sampai akhirnya dia bertemu Aldi. Penyanyi indie yang menciptakan lagu yang kebanyakan bertema hujan. Kinkin menemukan romantisme hujan itu. Berhari-hari Kinkin selalu mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Aldi.
“Udah denger lagu baru Gue?” Aldi bertanya pada Kinkin
Kinkin mengangguk. “Iya.”
“Suka?” Aldi bertanya lagi.
“Iya.” Kinkin mengangguk lagi tanpa berkomentar penjang lebar.
Sore itu hujan gerimis turun, matahari bersinar, membuat pola pelangi terlihat dari kejauhan. Kinkin dan Aldi duduk berdua di Cafe. Mereka terdiam menikmati pemandangan merah kuning hijau di langit.
“Ini alasan kenapa gue suka banget sama hujan.” Aldi berkata sambil masih melihat pelangi. “Gue suka liat pelangi.”
Kinkin masih terdiam, kalau melihat pelangi sih Kinkin juga suka. Pemandangan langka. Tapi kan tidak setiap hujan pasti muncul pelangi.
“Tapi kan, ga setiap hujan muncul pelangi.” Kinkin memandang Aldi.
“Iya sih, tapi rintik hujan itu juga mengalun indah seperti nyanyian. Gue juga suka dengernya.”
“Tapi kalau rumah lu bocor, kan ga bisa menikmati rintik hujan dengan tenang.”
Aldi menatap Kinkin heran. “Elu kok mikirnya gitu sih, Kin. Lucu tau.” Aldi seketika tertawa.
Kinkin cemberut. Ini masalah kamar Kinkin yang bocor jadi dia tidak bisa menikmati rintik hujan dengan tenang.
“Pernah ga, elu mencoba benar-benar menikmati hujan?” Aldi bertanya pada Kinkin.
Kinkin menggeleng.
“Sekarang pejamkan mata lu, resapi tenangnya rintik hujan.” Aldi menutup matanya.
Kinkin merasa aneh dengan sikap Aldi. Ada gitu laki-laki seperti ini. Kinkin masih melihat Aldi yang menutup matanya. Perlahan Kinkin mulai mengikuti Aldi menutup mata.
Suara hujan saat kita terpejam memang beda. Terdengar damai, nyanyian yang sangat merdu. Kinkin merasakan suara rintik yang jatuh menyentuh dedaunan, tanah dan atap cafe. Terdengar lamat-lamat suara nyanyian Aldi menambah teduh sore itu. Kinkin mulai menikmatinya. Beberapa saat kemudian Kinkin membuka matanya. Dihadapannya sudah ada Aldi yang tersenyum melihat Kinkin.
“Bagus kan? Apa lagi ditambah lagu itu.” Aldi menunjuk speaker diatas mereka yang dari tadi melantunkan lagu-lagu Musim Hujan, band indie yang divokali Aldi.
Kinkin tersenyum. “Lumayan bisa mempengaruhi gue, lu.” Mereka berdua tertawa bersama sambil menikmati hujan di sore itu.

Setiap hari Kinkin mendengarkan lagu-lagu Musim Hujan. Di kampus dia memamerkannya pada Mela. Tapi Mela tidak terlalu menikmati lagunya, bukan tipe penyuka band indie. Mela suka karena lagu-lagu itu bisa membuat Kinkin berhenti mengeluhkan tentang musim hujan yang menjandi ritunitas setiap tahunnnya. Mela malah menggoda Kinkin menyebut-nyebut nama Aldi disetiap pembicaraan.
“Mel. Udah deh, Aldi itu Cuma temen gue, ga lebih dan ga kurang. Udah ah. Ganti topik.”
“Elu jangan bohong ama gue deh, Kin. Elu pasti suka Aldi kan? Buktinya sekarang elu ga pernah lagi ngeluh soal hujan semenjak ketemu Aldi. Iya kan? Suka kan?” Mela ngotot bertanya sampai Kinkin bilang kalau dia suka Aldi.
“ENGGAK SUKA, Mel.” Kinkin menekankan kalimatnya.
“Ah, pasti cuma belum aja kan?” Mela masih ngotot.
“Ehm.... Bisa jadi.” Kinkin tersenyum sambil berjalan meninggalkan Mela.
“Eh, tunggu dong, Kin.” Mela berlari ke arah Kinkin.
Dua sahabat itu berjalan dikoridor kampus, bercanda ditemani suara gemericik hujan yang turun sedari tadi pagi. Hujan mereda namun tetap menetes rintik-rintik, sinar matahari memberi kehangatan dihiasi pelangi yang melengkung indah dilangit. Kinkin sudah berhenti mngeluhkan hujan yang akan berlangsung beberapa bulan lagi. Kamarny tetap masih bocor, tapi setidaknya dia tidak terlalu mempermasalahkan itu lagi. Mungkin dia sudah bisa menikmati suara hujan yang turun menembus genteng kamarnya yang bocor. Karena hujan adalah awal kehidupan semuanya. 




Minggu, 27 Oktober 2013

Perfectionist...

hari ini panas sekali. ya trus? membuat emosi semakin memanas. trus pengen mendekam di pojokan  sambil nangis-nangis.

fyuh...
entahlah, aku merasa terpojokkan. sebenarnya tidak sama sekali. saya hanya sensitif tingkat atas saja. perasanya banget.

jadi..
tidak begitu mood sebenarnya. pengen afek datar aja gitu. isolasi sosial kalau perlu. tapi dengan semua itu masalah tidak akan selesai. kalau begitu malah nambah masalah. walau ada yang bilang masalah itu hal yang berharga.

but i'm perfectionist.
udah gitu aja.
bikin puyeng sendiri.

Kamis, 24 Oktober 2013

Diagnosa Keperawatan CEDERA KEPALA

kasus:
korban KLL di bawa ke RS, GCS 10, muntah sesekali

Pengkajian
1.    Kaji apakah ada jejas di area leher dan bahu untuk memastikan apakah ada cedera servical
2.    Klasifikasikan tipe cedera kepala, kesadaran, dan berat ringannya cedera kepala. Karena GCS 10 maka tergolong dalam Moderate Traumatic Brain Injury (Moderate= 9-12).
3.    Kaji apakah ada mual muntah. Karena ada muntah sesekali, maka diperkirakan TIK meningkat.
4.    Kaji sesuai protokol ATLS/ ABC:
a.    Airway
-    Kaji apakah ada benda asing atau darah dalam saluran nafas
b.    Breathing
-    Lihat apakah ada pergerakan dada dan lakukan  inspeksi untuk mengamati apakah ada gerakan dada yang tertinggal atau dada tidak simetris
-    Kaji nafas dengan teknik look listen and feel untuk memastikan kepatenan jalan nafas
c.    Circulation
-    Masukkan cairan hangat melalui rongga peritonium untuk memastikan adanya keparahan berupa rupture lien, ren atau hepar.

Diagnosa keperawatan
Decress intracranial adptive capacity
Domain: 9 coping / stress tolerance
Class 3 : Neurobehavioral Stress
Definisi: mekanisme dinamik cairan intracranial yang normalnya mengkompensasi untuk meningkatkan volume intracranial yang dikompromisasi untuk menghasilkan ketidakseimbangan berulang pada peningkatan tekanan intracranial sebagai respon stimuli berbahaya dan tidak berbahaya.

Batasan karakteristik:
•    Baseline ICP ≥ 10 mmHg
•    Disproportionate increase in ICP following stimulus
•    Elevated P2 ICP waveform
•    Repeated increases of > 10 mmHg for more than 5 minutes following any of a variety of external stimuli
•    Volume-pressure response test variation (volume pressure ratio 2, pressure-volume index < 10)
•    Wide amplitude ICP waveform
Faktor yang berhubungan:
-    Cedera kepala

NOC
1.    Neurological status
a.    Kesadaran
b.    Control pergerakan pusat
c.    Tekanan intrakranial
d.    Pola nafas:
e.    Tekanan darah
f.    Respiratory rate
2.    Tisue perfusion cerebral
a.    Rata-rata tekanan darah
b.    Muntah
c.    Demam

NIC
1.    Intracranial Pressurre (ICP) Monitoring
Definisi : pengukuran dan interpretasi data pasien untuk regulasi tekanan intrakranial
Aktivitas :
a.    Merekam data tekanan intrakaranial
b.    Monitor kualitas dan karakteristik perubahan TIK

2.    Respiratory Monitoring
Definisi : pengumpulan dan analisa data pasien untuk memastikan kepatenan jalan nafas dan pertukaran gas yang adekuat
Aktivitas :
a.    Monitor jumlah irama, kedalaman dan usaha untuk bernafas
b.    Monitor bunyi nafas, seperti crowing dan snoring
c.    Monitor pola nafas : bradypnea
3.    Cerebral Perfusion Promotion
Definisi : promosi dari perfusi yang adekuat dan membatasi komplikasi untuk pasien yang mengalami atau berisiko terhadap ketidakadekuatan perfusi serebral
Aktivitas :
a.    Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan parameter hemodinamik dan menjaga parameter hemodinamik di rentang normal
b.    Memberikan agen untuk menarik volume intravaskular jika dibutuhkan seperti koloid, produk darah, dan kristaloid
c.    Mempertahankan lever serum glukosa pada rentang normal
d.    Hindari memposisikan leher dalam posisi fleksi, berikan medikasi nyeri jika diperlukan
e.    Monitor tanda – tanda pendarahan
f.    Monitor status neurologis
g.    Hitung dan monitor tekanan perfusi serebral (CPP)
h.    Monitor MAP
4.    Fever Treatment
Definisi : manajemen pasien dengan hiperpirexsia yang disebabkan karena faktor non–lingkungan.
Aktivitas :
a.    Monitor suhu secara periodik jika diperlukan
b.    Monitor warna kulit dan suhu
c.    Monitor tekanan darah, nadi, dan respirasi
d.    Monitor penurunan level dari tingkat kesadaran
e.    Monitor intake dan output cairan
f.    Monitor abnormalitas elektrolit
g.    Monitor keseimbangan asam basa
h.    Berikan cairan intravena jika diperlukan
i.    Berikan pengobatan untuk mencegah atau mengontrol menggigil
j.    Monitor temperatur untuk mencegah treatment yang menyebabkan hipotermi
5.    Vomiting Management
Definisi : cegah dan kurangi muntah
Aktivitas :
a.    Kaji warna, konsistensi darah saat muntah
b.    Menentukan frekuensi dan durasi muntah
c.    Identifikasi faktor yang menyebabkan atau berkontribusi terhadap muntah seperti obat – obatan dan tindakan prosedural
d.    Dorong pemberian anti – emetik untuk mencegah muntah jika memungkinkan
e.    Posisikan untuk mencegah aspirasi
f.    Pertahankan jalan nafas
g.    Menyediakan kenyamanan selama episode muntah, tunggu minimal 30 menit setelah muntah sebelum diberikan cairan untuk pasien
h.    Dorong untuk beristirahat
i.    Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan memberikan dukungan untuk pasien
j.    Monitor seluruh efek dari manajemen muntah



>>> kelompok tutor 3 blok 4.2

Minggu, 20 Oktober 2013

Lebih Baik PERTAMAX

Aku terlalu polos atau memang terlalu cuek, entahlah. Teman-temanku bilang polos dan oon itu beda tipis. Kalau yang ini aku tidak terima dibilang oon. Teman-temanku bilang orang oon mana ada yang ngaku oon. Lupakan.

Banyak hal-hal konyol yang beberapa kali aku alami. Salah satunya kejadian beli bensin kemarin lusa. Memang polos dan oon beda tipis. Ah, aku tidak bisa mengelak.

Hari ini sehabis pulang kuliah aku dan Sara pergi ke toko bakery untuk memesan kue ulang tahun untuk mama Sara. Habis itu pergi ke toko buku untuk mengecek komik atau novel yang mungkin nanti aku tertarik membelinya. Jarum yang menunjukkan bensin di sepeda motorku sudah hampir ke garis merah, ah sudah di garis merah.
“Ra, ntar beli bensin dulu ya?” Aku mengajak Sara.
“Iya deh, sambil aku mau lihat Wisdom Park itu lho.”
Aku dan Sara melaju dengan sepeda motorku. Tidak bisa ngebut memang, motor tua, tidak bisa ngebut jalannya konblok yang ada bunyi semua motorku. Sepeda motor warisan, harus hati-hati. Dijalan aku dan Sara memperdebatkan wisdom park yang nyatanya tidak pernah ada. Masih dalam proses pembangunan.

Aku memasuki pom bensin di pojok perempatan. Antriannnya panjang sekali. Tapi aku lihat ada beberapa motor berhenti di salah satu mesin pengisi bensin, yang disitu lebih sepi tidak perlu mengantri panjang. Aku belokkan ke antrian yang hanya beberapa motor itu.
Pak petugas pengisi bensin melihat dengan tatapan yang agak aneh. Kemudian memegang corong, ah apa sih namanya aku tidak tahu.
“Berapa?” Pak bensin bertanya.
“20ribu, pake nota ya Pak.”
Dengan cepat pak bensin memasukkan corong ke tangki bensin motorku. Setelah selesai aku melihat ke dalam tangki bensin motorku. “Kog ga penuh ya?” batinku. Aku melihat ke mesinnya. Disana tertera nominal uangnya 2000, nol yang satunya stiker merah yang ditempel. Aku meraih nota dari pak bensin yang kemudian pergi dari hadapanku dan Sara. Aku merasa aneh. Saat aku lihat harga perliternya “Rp 10.830,-“
“Eh, kog aneh.” Aku merasa ada yang salah.
“Kenapa Nun?” Sara bertanya. “Eh, ini pertamax, Nun.”
Aku melihat tulisan biru di bawah harga literan bertuliskan “PERTAMAX”. Aku merasa terbohongi, terbodohi, ter-tidak-tahu gelagat pak Bensin yang dari awal sudah aneh.
“Ya ampun, kok Pak bensinnya ga bilang sih.” Aku merasa malu, “Untung tadi minta nota, jadi dikira apa gitu kan.” Batinku.
“Kamu sih, gimana sih. Rugi dong.”
“Sekali-kali pakai bensin yang kualitas bagus ga apa-apa kan, Ra.” Aku tersenyum, padahal nyesel banget. 2,5 liter cuma dapet 1,8 liter.
Aku merasa terpolos sedunia, tapi bukan teroon. Masalahku karena tidak membaca tulisa yang sudah ada. Pertamax bukan premium. Tidak peka akan keadaan, bisa-bisanya kalau itu premium pasti yang antri juga bakal banyak. Aku Cuma bisa mentertawakan diri sendiri lagi. Motor bututku diisi pertamax. “Sok gaya banget.” Pasti orang-orang bakal bilang begitu. Tepok jidat.
                                                                     ****
Sisa pertamax di tangki motor masih cukup banyak, bisa untuk persediaan sampai besok. Aku bergegas mengeluarkan motor dari rumah. Bersiap pergi ke tukang jait. Hari ini aku berniat untuk  menyelesaikan karya yang aku buat untuk Alya. Aku melaju dengan kecepatan standar, 60 km/jam.
“Kalau pake pertamax bisa tambah cepet ga ya?” batinku. Sepeda motorku sudah tua, tidak bisa dipakai dengan kecepatan tinggi. Sengaja dikasih yang seperti itu, biar aku tidak bisa ngebut dijalanan, itu alasannya. Aku coba menarik gas, dan motorku berhasil melaju lebih cepat. Sama saja sebenarnya tapi karena sugesti pertamax membuat semuanya terasa berbeda.
“Wuih, jadi tambah enak aja nih motor. Mesinnya jadi terasa lebih alus.”
Tiba-tiba saja aku jadi senang gebut sana gebut sini. Sugesti pertamax sudah melenakanku. Lewat pom bensin, disekitarnya dipasangi umbul-umbul yang tulisanya “Lebih Baik PERTAMAX”. Pengalaman, sekali-kali pake BBM kualitas bagus. Bukan subsidian. Padahal ini karena keteledoranku saja. Lebih baik pertamax memang.


>>> cerita ini tidak mengandung unsur iklan, tidak mendapat bayaran dari pertamina pun. Cuma mau bilang gunakan BBM sesuai dengan daya beli anda. Pertamax lebih baik. *plak







Minggu, 22 September 2013

balada mahasiswa antar kota antar propinsi

Semester ini, ah ya sama saja seperti semester-semester yang lalu. Jadwal kuliah? jangan terlalu diharapkan. Masih sama saja seperti tahun-tahun yang lalu. Hey! masak sih tidak ada perubahan yang bermakna selama hidup di kampus ini. Sama saja. Dan kami para mahasiswa/i sudah terlanjur menerima apa adanya dengan penuh keterpaksaan. Ini demi mendapat gelar sarjana.

okey. 
Bagaimana dengan hari ini? ya, aku mendapatkan hari yang booooooooooooooooooooooooo. tiba-tiba tidak jelas sama sekali.

Aku masih tertidur, tadi malam gagal nonton acara di kampus sebelah yang bintang tamunya Everyday, Sri Plecit, The Kandang, dan Jono Terbakar. Aku sudah berniat melihatnya, tapi hanya sampai tari saman doang. Sampai rumah, rebus mie hidupin tv, tari saman lagi yang saya lihat. Aku tidak tahu ada apa dengan tari saman itu. Aku gagal menikmati acara itu. Aku hanyalah mahasiswa antar kota antar propinsi yang tidak berani pulang jika hari sudah gelap. Dan lagi, jalan pulangku harus melewati kuburan. Beberapa minggu yang lalu, Kakakku kesetanan, eh, iya merasa sudah melihat permen sugus (baca: pocong).

Sampai di polisi tidur kedua, aku mencoba mengegas motorku dengan kecepatan penuh. Beberapa meter lagi itu ada kuburan. Jalannya gelap, kanan kiri hanya ada pepohonan dan sawah-sawah. Aku langsung menbaca ayat kursi. Tidak hanya di dalam hati, tapi lumayan rada teriak, biar setannya enggak deket-deket aku atau berani menampakkan wujudnya.

Beberapa kilometer telah dilalui dan akhirnya sampai rumah. Kemudian tidur ditemani televisi yang masih menyala. Tapi tetep udah di timer dong, 1 jam. 

Pagi ini agak tenang karena pengumuman hari jumat kemarin mengatakan bahwasanya hari ini masuk jam 1 siang. Aku bisa tidur lebih lama. Bangun siang tidak terlalu masalah, tadi malam juga tidurnya terlalu larut sih. Belum sempet tidur sampai siangan dikit, HP udah bergetar kemana-mana. SMS, Telepon, Aku sudah merasa jadi orang penting saja. Padahal itu tidak benar.
Masih ada SMS tugas untuk hari ini. Ya ampun. Telepon teman yang minta diizinin gara-gara melancong membawa nama kampus tercinta. Aku berdoa agar dia mendapat juara. amiin. SMS tentang jadwal hari ini. SMS tentang jadwal hari berikutnya. Sampai ada yang telepon privat number membuat aku terpaksa bangun dari ranjang tidurku. 

"Hallo!" Aku mengangkat telepon dengan mata masih enggan terbuka, mencoba mengatur suara agar tidak ketahuan masih tidur. 
"Hallo." suara diseberang sana. tapi tidak begitu jelas dan kemudian terdiam beberapa saat.
"Iya. Hallo?" aku kembali mencoba memancingnya agar lebih berbasa-basi lagi. ah, suara di seberang sana tak terdengar, hanya terdiam untuk beberapa detik. Dan, langsung saja aku pencet untuk memutus sambungan telepon tidak jelas itu.

Aku mencoba merebahkan badanku lagi, tapi aku sudah tidak bisa tertidur lagi. Aku menuju depan tv lagi. menonton acara tv pagi yang full musik lagi. Mau jadi apa anak pemalas seperti ini. ckckckckckck.
Aku keluar halaman, mengambil air dan menyirami tanaman di depan rumah. Kemudian membersihkan sela-sela tanaman dari rontoknya dedaunan musim gugur a.k.a musim kemarau. Aku menyapu halaman rumah dari rontoknya daun tadi. Kesambet apa anak ini bisa sedikit rajin. ckckckckck
(woiiiiii, sepertinya aku setidakpantas itu menjadi anak lebih rajin,) 
zubora ichiban : kemalasan adalah nomor satu. PLAK.

Aku masuk ke kamar, mengecek HP lagi. Dan aku mendapati 2 pesan sudah bertengger disana. 

Ada kuliah jam 10, dosennya Bpk. H. tolong infokan ke teman-teman

Ya ampun, jam 10????? katanya. Ini SMS dikirimnya tuh jam 09.30.  Hey, jangan bercanda. Aku masih kumal disini. Jarak rumah kampus ditempuh 30-45 menit, mandi 10 menit lah, belum dandan, belum manasin motor, belum macet dijalan, belum lagi apalah. Tidak mungkin aku bisa tepat waktu. Tapi nanti masih ada kuliah jam 1, jadi ya tidak apa-apalah aku berangkat sekarang.
Akhirnya aku berangkat jam 10 dari rumah. Jalanan hari ini begitu panas dan berdebu. Aku melaju secepat yang aku bisa. Bukan rezeki saya hari ini, di samping  monumen ada razia motor. Surat-surat kendaraan ada dong, SIM juga ada. Masalahnya antrian kendaraannya panjang banget. Untung saja dengan kecerdikanku menyempil-nyempil, menyalip-nyalip akhirnya tidak teralalu lama. Saya lolos, karena saya pengendara yang tertib (kalau pas inget).

Sampai kampus parkiran semua sudah penuh. Taruhlah motor sembarangan yang penting dekat motor yang lain. Jam menunjukkan pukul 11. Kuliah sudah berlangsung 1 jam, lebih baik aku nongkrong online. Aku buka HP (lagi), dan ada SMS (lagi). Semakin labil saja jadwal kuliah.

eh, jangan berangkat dulu. Jam 1 kayaknya kosong deh

oh Tuhan..... apa-apaan ini semua. Untuk apa aku berangkat. Untuk apa Tuhan, kalau tidak ada kuliah jam 1. Lebih baik mengatur siasat membeli petasan satu kontener untuk mengebom kampus tercinta (lho?). Jangan tiru pikiran jahat ini dirumah, hanya bercanda. Tapi aku kecewa sekali. huhuhu T.T
Beberapa saat kemudian ada SMS jam 1 isi, trus jam 1 kosong, jam 1 isi, jam 1 kosog, jam 1 isi, jam 1 kosong. ISI ADALAH KOSOSNG, KOSOSNG ADALAH ISI. (mendadak filsuf).

Pada akhirnya jam 1 KOSOOOOOOOONGGGGGGG!!!!!!!!!!

Disini saat aku duduk menatap kelayar lapto. Saat aku tolehkan wajahku mendongak lurus kedepan.
"Eh, ada dr.C." batinku sambil kembali menunduk pura-pura tidak melihat. Bagaimana tidak, aku belum konsultasi skripsi sebulan lebih. Ibu dr.C yang baik, maafkan mahasiswamu ini. Untuk bertemu lagi aku merasa canggung. uhuk.

Begitulah beratnya menjadi mahasiswa antar propinsi dengan begitu banyak rintangan.
Perjelas Jadwalmu wahai kampus, Perjelas jadwalmu wahai dosen tercinta.
SELESAIKAN SKRIPSI wahai mahasiswa (yang terpenting)

eh diralat jam 1 isi.
(ah aku tidak perduli lagi apakah isi atau kosong sejatinya itu sama saja *filsuf yang butuh terapi)




Jumat, 20 September 2013

Lebih Rapuh

Kita terlahir sama seperti yang lain.
Penuh dengan harapan
Penuh dengan cita-cita
Penuh dengan impian.
Sama seperti mereka..

Kita memiliki waktu yang sama
Kita diberi keadilan oleh Tuhan
Kita diberikan sesuatu yang mereka dapat pula

Tapi kesempatan kita berbeda dengan sebagian mereka, saudaraku.
Kesempatan kita berbeda..
Kita memiliki kesempatan lebih besar dari mereka
Beberapa kali lebih besar..

Jaga jiwa kita, jaga hati-hati..
Biarlah fisik ini tersakiti,
Tapi jaga baik-baik jiwa ini..
Pasang dinding tebal melingkupi jiwa ini.
Karena kesempatan kita berbeda.
Karena jiwa kita lebih rapuh dari sebagian mereka
Karena jiwa kita lebih rapuh..

Jaga jiwa rapuh ini,,
Jaga dengan baik.