RSS

Minggu, 22 September 2013

balada mahasiswa antar kota antar propinsi

Semester ini, ah ya sama saja seperti semester-semester yang lalu. Jadwal kuliah? jangan terlalu diharapkan. Masih sama saja seperti tahun-tahun yang lalu. Hey! masak sih tidak ada perubahan yang bermakna selama hidup di kampus ini. Sama saja. Dan kami para mahasiswa/i sudah terlanjur menerima apa adanya dengan penuh keterpaksaan. Ini demi mendapat gelar sarjana.

okey. 
Bagaimana dengan hari ini? ya, aku mendapatkan hari yang booooooooooooooooooooooooo. tiba-tiba tidak jelas sama sekali.

Aku masih tertidur, tadi malam gagal nonton acara di kampus sebelah yang bintang tamunya Everyday, Sri Plecit, The Kandang, dan Jono Terbakar. Aku sudah berniat melihatnya, tapi hanya sampai tari saman doang. Sampai rumah, rebus mie hidupin tv, tari saman lagi yang saya lihat. Aku tidak tahu ada apa dengan tari saman itu. Aku gagal menikmati acara itu. Aku hanyalah mahasiswa antar kota antar propinsi yang tidak berani pulang jika hari sudah gelap. Dan lagi, jalan pulangku harus melewati kuburan. Beberapa minggu yang lalu, Kakakku kesetanan, eh, iya merasa sudah melihat permen sugus (baca: pocong).

Sampai di polisi tidur kedua, aku mencoba mengegas motorku dengan kecepatan penuh. Beberapa meter lagi itu ada kuburan. Jalannya gelap, kanan kiri hanya ada pepohonan dan sawah-sawah. Aku langsung menbaca ayat kursi. Tidak hanya di dalam hati, tapi lumayan rada teriak, biar setannya enggak deket-deket aku atau berani menampakkan wujudnya.

Beberapa kilometer telah dilalui dan akhirnya sampai rumah. Kemudian tidur ditemani televisi yang masih menyala. Tapi tetep udah di timer dong, 1 jam. 

Pagi ini agak tenang karena pengumuman hari jumat kemarin mengatakan bahwasanya hari ini masuk jam 1 siang. Aku bisa tidur lebih lama. Bangun siang tidak terlalu masalah, tadi malam juga tidurnya terlalu larut sih. Belum sempet tidur sampai siangan dikit, HP udah bergetar kemana-mana. SMS, Telepon, Aku sudah merasa jadi orang penting saja. Padahal itu tidak benar.
Masih ada SMS tugas untuk hari ini. Ya ampun. Telepon teman yang minta diizinin gara-gara melancong membawa nama kampus tercinta. Aku berdoa agar dia mendapat juara. amiin. SMS tentang jadwal hari ini. SMS tentang jadwal hari berikutnya. Sampai ada yang telepon privat number membuat aku terpaksa bangun dari ranjang tidurku. 

"Hallo!" Aku mengangkat telepon dengan mata masih enggan terbuka, mencoba mengatur suara agar tidak ketahuan masih tidur. 
"Hallo." suara diseberang sana. tapi tidak begitu jelas dan kemudian terdiam beberapa saat.
"Iya. Hallo?" aku kembali mencoba memancingnya agar lebih berbasa-basi lagi. ah, suara di seberang sana tak terdengar, hanya terdiam untuk beberapa detik. Dan, langsung saja aku pencet untuk memutus sambungan telepon tidak jelas itu.

Aku mencoba merebahkan badanku lagi, tapi aku sudah tidak bisa tertidur lagi. Aku menuju depan tv lagi. menonton acara tv pagi yang full musik lagi. Mau jadi apa anak pemalas seperti ini. ckckckckckck.
Aku keluar halaman, mengambil air dan menyirami tanaman di depan rumah. Kemudian membersihkan sela-sela tanaman dari rontoknya dedaunan musim gugur a.k.a musim kemarau. Aku menyapu halaman rumah dari rontoknya daun tadi. Kesambet apa anak ini bisa sedikit rajin. ckckckckck
(woiiiiii, sepertinya aku setidakpantas itu menjadi anak lebih rajin,) 
zubora ichiban : kemalasan adalah nomor satu. PLAK.

Aku masuk ke kamar, mengecek HP lagi. Dan aku mendapati 2 pesan sudah bertengger disana. 

Ada kuliah jam 10, dosennya Bpk. H. tolong infokan ke teman-teman

Ya ampun, jam 10????? katanya. Ini SMS dikirimnya tuh jam 09.30.  Hey, jangan bercanda. Aku masih kumal disini. Jarak rumah kampus ditempuh 30-45 menit, mandi 10 menit lah, belum dandan, belum manasin motor, belum macet dijalan, belum lagi apalah. Tidak mungkin aku bisa tepat waktu. Tapi nanti masih ada kuliah jam 1, jadi ya tidak apa-apalah aku berangkat sekarang.
Akhirnya aku berangkat jam 10 dari rumah. Jalanan hari ini begitu panas dan berdebu. Aku melaju secepat yang aku bisa. Bukan rezeki saya hari ini, di samping  monumen ada razia motor. Surat-surat kendaraan ada dong, SIM juga ada. Masalahnya antrian kendaraannya panjang banget. Untung saja dengan kecerdikanku menyempil-nyempil, menyalip-nyalip akhirnya tidak teralalu lama. Saya lolos, karena saya pengendara yang tertib (kalau pas inget).

Sampai kampus parkiran semua sudah penuh. Taruhlah motor sembarangan yang penting dekat motor yang lain. Jam menunjukkan pukul 11. Kuliah sudah berlangsung 1 jam, lebih baik aku nongkrong online. Aku buka HP (lagi), dan ada SMS (lagi). Semakin labil saja jadwal kuliah.

eh, jangan berangkat dulu. Jam 1 kayaknya kosong deh

oh Tuhan..... apa-apaan ini semua. Untuk apa aku berangkat. Untuk apa Tuhan, kalau tidak ada kuliah jam 1. Lebih baik mengatur siasat membeli petasan satu kontener untuk mengebom kampus tercinta (lho?). Jangan tiru pikiran jahat ini dirumah, hanya bercanda. Tapi aku kecewa sekali. huhuhu T.T
Beberapa saat kemudian ada SMS jam 1 isi, trus jam 1 kosong, jam 1 isi, jam 1 kosog, jam 1 isi, jam 1 kosong. ISI ADALAH KOSOSNG, KOSOSNG ADALAH ISI. (mendadak filsuf).

Pada akhirnya jam 1 KOSOOOOOOOONGGGGGGG!!!!!!!!!!

Disini saat aku duduk menatap kelayar lapto. Saat aku tolehkan wajahku mendongak lurus kedepan.
"Eh, ada dr.C." batinku sambil kembali menunduk pura-pura tidak melihat. Bagaimana tidak, aku belum konsultasi skripsi sebulan lebih. Ibu dr.C yang baik, maafkan mahasiswamu ini. Untuk bertemu lagi aku merasa canggung. uhuk.

Begitulah beratnya menjadi mahasiswa antar propinsi dengan begitu banyak rintangan.
Perjelas Jadwalmu wahai kampus, Perjelas jadwalmu wahai dosen tercinta.
SELESAIKAN SKRIPSI wahai mahasiswa (yang terpenting)

eh diralat jam 1 isi.
(ah aku tidak perduli lagi apakah isi atau kosong sejatinya itu sama saja *filsuf yang butuh terapi)




Jumat, 20 September 2013

Lebih Rapuh

Kita terlahir sama seperti yang lain.
Penuh dengan harapan
Penuh dengan cita-cita
Penuh dengan impian.
Sama seperti mereka..

Kita memiliki waktu yang sama
Kita diberi keadilan oleh Tuhan
Kita diberikan sesuatu yang mereka dapat pula

Tapi kesempatan kita berbeda dengan sebagian mereka, saudaraku.
Kesempatan kita berbeda..
Kita memiliki kesempatan lebih besar dari mereka
Beberapa kali lebih besar..

Jaga jiwa kita, jaga hati-hati..
Biarlah fisik ini tersakiti,
Tapi jaga baik-baik jiwa ini..
Pasang dinding tebal melingkupi jiwa ini.
Karena kesempatan kita berbeda.
Karena jiwa kita lebih rapuh dari sebagian mereka
Karena jiwa kita lebih rapuh..

Jaga jiwa rapuh ini,,
Jaga dengan baik.

Minggu, 15 September 2013

dia nyata untuk ku

Hari ini seperti biasa. Agenda harianku, pergi bersama Aaron. Kami suka pergi ke taman kota, ke toko buku, ke perpustakaan kota, ke caffe baca pinggir stasiun atau ke kota tua. Setiap hari sama, selalu sama. Aku habiskan hari-hariku bersama Aaron. Aaron adalah lelaki yang sangat baik. Sosok sempurna, yang pasti bisa membuat orang lain iri melihatku bisa bersama Aaron. Aku sangat  bersyukur bisa bertemu Aaron. Hidupku berubah menjadi amat sangat sempurna. Sekarang aku tak lagi menangis, aku tak lagi bersedih. Aaron selalu ada untukku dan selalu menghiburku.
Aku dan Aaron memutuskan pergi ke caffe baca pinggir stasiun. Disana kami bisa membaca sepuasnya sambil memakan hidangan yang caffe sediakan. Dan aku bisa melihat lalu lalang kereta api sambil tersenyum riang. Aku suka melihat ular besi itu melaju diatas rel.
Jika ada lelaki yang tahan dengan wanita cengeng, itulah Aaron. Jika ada lelaki yang tahan dengan wanita cerewet, itulah Aaron. Jika ada lelaki yang tahan menghadapi wanita moody, itulah Aaron. Jika ada lelaki yang paling romantis, itulah Aaron. Jika ada lelaki yang bisa tahu keinginan wanita, itulah Aaron. Benar-benar sempurna.
Palang pintu perlintasan rel kereta api sore itu berbunyi. Melarang keras orang-orang untuk melintas, menahan mereka untuk bersabar berdiam. Aku duduk bersama Aaron di lantai 2 caffe baca. Melihat ke luar dinding kaca, melihat kereta api yang akan memasuki stasiun. Moment yang tak pernah bisa membuatku bosan.
“Serius amat sih liatnya.” Aaron menggodaku
“Sssstttttt.” Aku mencoba menyuruhnya diam
Aaron kemudian terdiam tak berani mengangguku lagi. Meneruskan membaca novel detectifnya yang kemarin masih membuatnya penasaran.
Jika bisa digambarkan, mungkin mataku saat ini berbinar-binar bercahaya. Merasa kagum dengan mesin ciptaan manusia yang satu itu. Setelah kereta api itu melaju meninggalkan stasiun, aku kembali mengalihkan pandanganku ke Aaron.
“Serius amat sih bacanya.” Aku balas menggoda Aaron.
Aaron menandai halaman novelnya, kemudian berhenti membaca. “lebih serius lagi kalau lagi ngobrol ama kamu.” Aaron tersenyum, tangannya mengacak rambutku.
“Ihh, jangan berantakin rambutku dong.” Aku mengambil kaca di tasku. “tuh kan jadi jelek.” Aku merapikan rambutku lagi.
“Biar aja jelek, biar enggak ada yang mau sama kamu. Biar kamu Cuma buat aku aja.” Aaron merayu lagi.
Aku tertawa terbahak, merasa lucu dengan perkataan Aaron tadi. Dia selalu bisa membuat aku merasa bahagia. Ya, Aaron memang sempurna.
****
Hari ini aku dan Aaron pergi ke taman kota. Tempat yang sejuk untuk melepas lelah setelah beraktivitas. Tidak lupa kami membawa bekal makanan yang banyak. Acara hari ini semi-piknik. Dari rumah aku sudah memasak beberapa makanan kesukaan Aaron yang juga makanan kesukaanku. Aku memang tidak pandai memasak, tapi Aaron selalu memuji masakanku. Aku menjadi lebiih bersemangat belajar memasak.
Aaron menjemputku tepat waktu. Tepat di depan rumah. Aaron memang selalu datang tepat waktu, tidak pernah lebih atau kurang. Kami melaju dengan mobilku menuju taman kota.
Taman terlihat lengang, tidak terlalu banyak orang disini. Karena hari ini bukan weekend. Kami menggelar tikar di bawah pohon menghadap ke danau buatan di tengah taman kota. Menyiapkan makanan-makanan. Kami juga membawa beberapa novel untuk dibaca. Novel Aaron adalah novel detektif, dan novelku adalah novel romantis.
Kami duduk berdua. Bercanda setiap saat.
Aaron mengambil batu disebelahnya. “Nih.” Dia mengulurkan batu itu kepadaku.
“Buat apa?” aku bertanya penasaran.
“Buat ngukur seberapa dalam danau itu.”
“Ah enggak ada gunanya. Kurang kerjaan.” Aku menolaknya.
Kemudian Aaron melemparnya ke danau itu. “Kamu lihat? Dalem kan?” dia bertanya kepadaku
“Iya.” Aku mengangguk.
“Danau ini memang dalam, tapi cintaku padamu lebih dalam lagi.” Aaron tersenyum.
Aku menahan tawaku dengan mulutku yang sudah sempurna menutupi mulutku agar tidak terbahak. “Kamu tu ya, gombal banget sih.” Aku tersenyum tersipu. “Tapi itu tadi lucu banget, sumpah.” Aku masih menahan tawaku.
Ada tangan yang menepuk punggungku.
“Hey.” Suara itu tepat dibelakangku. Aku menoleh. “Kamu sama siapa, Nan? Sendiri aja?”
Aku melihat sekar dibelakangku.
“Aku?” aku tiba-tiba tergagap.
“Sama siapa?” sekar kembali bertanya.
Aku melihat ke arah Aaron. Dia sudah tidak ada. Aaron pergi entah kemana.
“Iya, aku sendiri.” Aku tersenyum.
“Aku lihat tadi kamu ketawa-ketawa sendiri.” Sekar melirik ke arah novel yang aku pegang. “Hem, kebiasaan lama nih. Novel lagi ya?”
Aku hanya bisa mengangguk. Kalaupun menjawab aku akan bilang kalau yang membuat aku tertawa tadi adlah Aaron, tapi Aaron tiba-tiba menghilang.
“Boleh aku duduk disini?” sekar mendekatiku duduk.
“Iya, silakan.” Aku mempersilakan sekar duduk.
Kami ngobrol beberapa jam. Membicarakan masa lalu kami dulu waktu masih SMA. Hari-hari yang menyenangkan memang, tapi tak semenyenangkan saat ini bersama Aaron.
Sampai aku selesai, sampai aku bersiap pulang bersama sekar, Aaron tidka muncul juga. Aku sedikit merasa aneh. Aku merasa Aaron tidak  suka jika aku dekat-dekat dengan orang lain bahkan temanku sendiri, Sekar.
***
Banyak yang bilang, aku menjauh dari orang-orang. Mereka melihatku lebih suka menyendiri. Padahal selama ini aku tidak pernah menyendiri. Aku selalu bersama Aaron. Kenapa aku tidak mau bergabung dengan teman-temanku atau orang lain, itu karena Aaron akan tiba-tiba menghilang. Aaron tidak suka aku bersama orang lain. Sedangkan aku, aku tidak bisa tanpa Aaron. Aaron yang bisa membuatku lebih nyaman dan tenang. Dia yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa.
Mereka bilang aku suka tersenyum dan tertawa sendiri tanpa sebab. Padahal selama ini aku selalu tersenyum dan tertawa dihadapan Aaron. Hanya Aaron saja yang bisa membuatku bahagia. Aku tidak peduli kata orang-orang. Aku suka bersama Aaron.


>>>>>
Halusinasi adalah persepsi atau tanggapan dari panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) eksternal (Stuart & Laraia).

Sabtu, 14 September 2013

Skizofrenia

Skizofrenia adalah suatu sindrom dari karakteristik yang tidak diketahui penyebabnya oleh gangguan pada kognitif, emosi, persepsi, proses berpikir dan perilaku (Sadock & Sadock, 2010). Skizofrenia merupakan suatu penyakit otak presisten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memposes informasi, hubungan interpersonal serta memecahkan masalah (Stuart, 2007). Skizofrenia adalah penyakit neurobiologikal otak yang serius dan menetap. Skizofren sebuah sindrom klinik psikopatologi yang sangat menganggu dan mengakibatkan gangguan pada kehidupan seseorang, yaitu keluarga dan komunitas/ masyarakat (Stuart & Laraia, 2005).


>>>>>
Stuart, G. W., Laraia, M. T. (2005) Principles and Practice of Psychiatic Nursing, Eighth edition. Elsevier Mosby
Stuart, G. W. (2007) Buku Saku Keperawatan Jiwa. Ed.5. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Rabu, 10 Juli 2013

Sampai Di Sini

From: Ouji
Besok aku pulang, temui aku di taman kota ya
Love you, hime

Pagi ini aku mendapatkan pesan singkat dari Ouji. Sudah lama aku tak berjumpa dengannya. Betapa aku kegirangan saat menerima pesan itu. Tak sabar menunggu malam berubah menjadi pagi. Besok saat aku menatap langit pagi, aku akan menemui Ouji.
Kami sudah berpacaran 3 tahun. Orang-orang menyebut hubungan kami long distance relationship-LDR. Hanya waktu-waktu tertentu saja aku bisa menemuinya. Besok adalah libur semester. Walaupun begitu, bagiku ini bukanlah libur seperti biasanya. Kami mahasiswa akhir yang selalu sibuk karena tugas.  Tapi itu tidak boleh membuatku membatalkan bertemu dengan Ouji. Kalau bisa liburan ini harus sama seperti liburan sebelumnya, aku habiskan hari-hariku bersama Ouji.
Ouji, bukanlah lelaki yang romantis yang selama ini aku bayangkan. Dia dingin, cuek. Tapi dia masih sempat menyapaku di sela-sela kegiatannya. Entah rasa apa yang membuat aku terlalu percaya pada lelaki itu. Bukankah hubungan LDR itu penuh curiga, kerinduan dan rasa bosan. Waktu 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi hubungan kami. Selama itu semua berjalan dengan lancar. Tanpa menganggu kegiatan kami masing-masing.
***
Aku pilah-pilah baju di lemari kamarku, mematut-matutkannya di depan kaca. Mencoba beberapa baju, tapi tetap saja tidak merasa pas. Karena ini adalah momen yang jarang terjadi, aku ingin Ouji melihatku lebih cantik dari tahun kemarin. Aku Menyiapkan semuanya.

Kriiiiinngggggggg

Alarm di mejaku berbunyi makin kencang. Alarm sengaja ku taruh jauh-jauh dari jangkauan, agar aku bangun. Jam masih menunjukan pukul 5 pagi. Aku matikan alarmnya. Aku usap-usap mataku dengan kedua tanganku. Kemudian membukanya perlahan-lahan. Aku berjalan mundur dari meja, tertduduk di kasur. Bruuuk. Aku kembali jatuh tertidur.

Kriiiiiinngggggggg

Alarmku berbunyi lagi. Terpegang di genggamanku. Aku lihat jarum jamnya. Jam 7. Aku raih handphone di meja. Satu pesan terlihat dilayar. Dari Ouji.

From: Ouji
Hime, bangun! sudah pagi :D
Jangan lupa, aku tunggu jam 9 ya.

Aku tersenyum membaca pesan dari Ouji. Bergegas aku mainkan tanganku di layar handphone, membalas pesan singkat dari Ouji. Kemudian aku keluar kamar. Menyapa udara segar pagi ini. Tersenyum pada langit biru dan matahari pagi. Menatap awan yang berarak.

Pukul 8. Aku berangkat menuju taman kota. Berdandan secantik mungkin. Setelan hijau pastel dan pink. Terlihat manis seperti gulali.
“Anak mama cantik banget hari ini, mau kemana?” Mama mencegatku saat turun dari tangga.
“Mama mau tahu?”
“Iya donk, kasih tahu Mama.” Mama memohon dengan wajah yang lucu.
Aku tersenyum, aku bisikkan jawabanku di telinga Mama. “O-U-JI.” Aku tersenyum lebar.
“Wah, kalau begitu ajak dia mampir ke rumah ya?”
Aku acungkan jempolku sambil berlalu dari hadapan Mama. Dari balik pintu aku lemparkan kissbye untuk Mama.
“Hati-hati ya.” Mama berteriak dari dalam.
Aku cegat taksi di depan rumah. Langsung menuju taman kota. Di perjalanan dadaku berdegup kencang. Seperti pertama bertemu dengan Ouji. Selalu saja begitu. Padahal aku sudah berpacaran dengannya 3 tahun. Tapi saat akan bertemu seperti ini, pasti aku merasa cemas. Handphone tak bisa lepas dari tanganku. Sesekali bergetar memberitahukan pesan singkat dari Ouji yang masuk. Dengan cekatan tanganku membalas pesan-pesan itu. Aku merasa senang sekali.
Aku berjalan di pinggir taman. Mencari-cari sesosok Ouji. Di tengah taman, seseorang melambai-lambaikan tangannya. Tersenyum lebar. Aku menghampiri Ouji. Tersenyum tersipu saat melihatnya. Kami duduk berdua menikmati nyanyian burung yang berkicau. Tiba-tiba saja aku seperti berada di taman sriwedari. Meskipun begitu, aku merasa canggung dekat dengan Ouji. Benar-benar seperti pertama bertemu. Untuk beberapa saat kami terdiam.
“Kamu sakit?” Ouji bertanya sedikit khawatir. “Pipimu merah.” Dia memegang keningku, “Panas juga.”
Tentu saja, itu karena aku sedang dekat dengan Ouji. Itu tanda kegirangan yang overdosis. Aku kembungkan pipiku, menepuk-nepuknya dengan kedua tangaku.
“Enggak kok, aku baik-baik aja.” Aku tersenyum ke arah Ouji.
“Kok diem aja, biasanya kan cerewet kayak bebek.” Ouji meledek sambil tertawa.
Pipiku mengembung semakin besar, dan memasang wajah sebal. “Itu kan karena aku sudah lama tidak bertemu Ouji, aku malu.” Nada bicaraku menurun.
Ouji tertawa. “Satu hal yang tidak pernah berubah, kau benar-benar lucu, Hime.” Ouji berdiri, menghadap kearahku. Mengulurkan tangannya. “Ayo, kita nikmati hari ini. Mau kemana? Toko buku? Toko komik? Museum? Pameran? Itu hal yang kau sukai bukan?”
Ouji selalu mengerti aku. Ya benar, tempat-tempat itu adalah tempat favoritku. Memang terlihat aneh, tidak seperti gadis-gadis seusiaku yang lebih suka pergi ke pusat perbelanjaan. Aku dan Ouji pergi ke pameran seni. Melihat lukisan-lukisan. Melihat patung-patung. Berfoto. Menyenangkan sekali. Rasa canggungku perlahan menghilang. Hingga matahari semakin condong ke barat. Memancarkan siluet jingga di langit.
Jalanan kota masih sama dari tadi. Penuh dengan kendaran yang berlalu-lalang. Kami melaju berbaur bersama kendaraan lain. Menerobos keramaian.
“Mama, mau Ouji mampir.” Aku mengajaknya masuk kedalam rumah.
“Aku udah kangen banget juga nih sama Tante.” Ouji turun dari motornya, berjalan masuk bersamaku.
“Jadi, Ouji lebih kangen Mama dari pada Aku?” Aku terlihat cemburu.
“Kau ada-ada saja.” Ouji tertawa sambil mengacak rambutku. “100% kangenku untuk Hime.”
Aku tersenyum lega.
Liburan telah berakhir. Aku mulai aktivitasku lagi. Berkutat dengan tugas yang sudah tertunda selama liburan. Tentu saja itu karena aku habiskan liburanku bersama Ouji. Selalu ada tempat untuk dikunjungi termasuk rumah.  Seharian bisa saja Ouji di rumah, bercengkrama dengan Mama. Dan terlihat kalau Mama lah pacar Oujii, bukan aku. Aku cemduru.
Setelah liburan berakhir, setiap hari aku pergi ke kampus. Sibuk menemui dosen yang terlalu sibuk pula. Berlari mencoba menyaingi waktu. Tetap saja tidak bisa. Hingga beberapa bulan ini aku tidak pernah berhubungan dengan Ouji. Kami berdua tidak saling menanyakan kabar. Aku tahu dia juga sedang sibuk seperti aku. Sedang berusaha sekuat tenaga meraih cita-citanya. Hingga aku mulai terbiasa tidak pernah bertanya kabar dengan Ouji. Ini pasti akan tidak masuk akal bagi sebagian orang yang menjalin hubungan. Tapi beginilah aku dan Ouji sekarang. Dan kami masih baik-baik saja.
***
From: Ouji
Hime, kalau besok ada waktu aku akan meneleponmu.
Semangat ya

Aku tersenyum gembira saat mendapat pesan singkat dari Ouji. Aku ingat-ingat betul. Besok dia akan meneleponku. Akan tetapi, aku teringat besok aku tidak bisa. Besok aku harus bertemu dengan dosen yang sibuknya tidak bisa di tolerir itu. Bgaimana ini?

To: Ouji
Ouji, besok aku harus bertemu dosenku. Telepon aku siang saja.

Aku membalas pesannya, agar dia tidak kecewa. Rasanya berat sekali. Sekarang baru terasa beratnya. Membagi waktu dengannya.
Sampai siang ternyata aku belum selesai dengan urusan tugasku. Aku lupa memberitahu Ouji. Aku masih berkonsentrasi dengan celotehan dosen yang dari tadi tidak berhenti memberi saran. Aku hanya bisa manggut-manggut. Handphoneku berada pada mode silent.
Setelah selesai, aku mendapatkan pesan singkat dari Ouji dan tanda panggilan. Aku buka pesan singkatnya. Membacanya dengan ragu-ragu.

From: Ouji
Apa hime tidak bisa sebentar saja?

Aku segera membalas pesan singkatnya. Takut dia marah.

To: Ouji
Ouji, maaf. Aku baru selesai. Maaf Ouji.

From: Ouji
Harusnya Hime bisa meluangkan waktunya sebentar. Seperti aku meluangkan waktu liburanku untuk Hime

To: Ouji
Gomen, Ouji. T.T maafkan aku. Maaf!

Ouji tidak membalas pesan dariku. Aku merasa bersalah sekali. Merasa Ouji berubah, dia tidak pernah seperti ini. Dia selalu menerima apa yang aku lakukan. Dia selalu memaafkanku. Dia selalu saja menjaga perasaanku.

Deg.

Dadaku sesak. Benar. Ouji selalu ada di liburanku. Ouji selalu ada. Ouji selalu menerima apa yang aku lakukan. Ouji selalu memaafkan. Ouji selalu menjaga Perasaanku. Dan aku tidak mampu menjaga perasaannya. Mungkin dia kecewa. Dan lagi-lagi, ini akan menjadi hal yang tidak masuk akal lagi. Tapi bukankah hubungan LDR itu memiliki banyak alasan untuk memutuskan jarak yang terpaut jauh itu. Hubungan ini akan terputus bahkan ketika keduanya tidak pernah mengikrarkan kata berpisah. Sampai di sini. Putus begitu saja tergerus waktu.
Berhari-hari, berbulan-bulan aku coba menghubungi Ouji. Tetap tak ada jawaban. Lama-lama aku terbiasa. Melupakannya perlahan. Walau kadang teringat dan kembali menanyakan kenapa harus seperti ini. Dan tak mampu menjawab ketika Mana mulai menanyakannya pula. Aku hanya bisa diam dan mengalihkan permbicaraan.
Saat tugas akhirku telah selesai. Saat aku telah lulus kuliah. Aku benar-benar melupakan Ouji.

Senin, 08 Juli 2013

ENAM tahun Aku...

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam
Enam tahun sudah berlalu. Cepat sekali.  Aku hampir menyelesaikan studiku di salah satu perguruan negeri terbesar di kota  ini. Dan aku masih menyimpan harapan yang sama seperti 6 tahun yang lalu. Tidak pernah berkurang sekalipun rasa ini. Sama besarnya. Tiap kali aku berdoa, selalu sama, berharap Tuhan akan mengabulkannya.
Gadis macam apa yang bisa-bisanya menyimpan perasaannya selama itu. Menyimpan rapat-rapat. Membiarkannya tumbuh perlahan. Tujuan semulaku adalah membiarkannya mati kering, tapi malah sebaliknya makin subur melingkupi ruang hatiku. Bayangan itu masih sama enam tahun yang lalu. Membuatku bertanya seperti apa dia sekarang. Enam tahun ini itulah pertanyaan yang selalu mengisi pikiranku.
Aku akan menyerah dua tahun lagi. Aku akan meninggalkan harapanku. Kuberi batas waktu dua tahun ini. Saat aku benar-benar pergi dari kota ini. Kota dimana aku bertemu dia. Meninggalkan sejuta kenangan. Saat aku benar-benar tidak akan bisa melihatnya lagi. Saat aku benar-benar tidak bisa mengingat bayangannya. Biarkan 2 tahun ini aku menikmati perasaan yang telah tumbuh selama enam tahun. Biarkan aku bersedusedan dengan semua ini.
Bruuukk
Aku terjatuh, tersungkur. Di depanku berdiri seorang laki-laki. Menunduk menatap dengan muka penuh penyesalan. Mencoba membantuku berdiri lagi.
“Maaf ya. Aku enggak sengaja. Maaf. Maaf.” Dia membungkuk-bungkuk seperti orang jepang dan mengoceh meminta maaf. Aku malah yang merasa lebih salah lagi, aku sedang melamun sambil berjalan.
“Ah, enggak apa-apa kok. Aku juga minta maaf.” Aku menepuk-nepuk rok belakangku membersihkan debu yang menempel.
“Maaf ya.” Dia berlari berteriak sambil melambaikan tangannya.
Dan aku tersadar dari lamunanku. Terus berjalan berhati-hati. Kemudian aku duduk di salah satu bangku taman.
“Siapa ya cowok tadi?” aku bertanya-tanya dalam hati penasaran.
Selang beberapa hari aku bertemu dengannya lagi. Entah apa, sekarang aku jadi sering bertemu dengan dia. Di kantin, di lobi, di parkiran, di tangga, di jalan, di taman, dimanapun di sudut sekolah. Entah hanya kebetulan saja atau karena aku yang selalu memperhatikan dia.
Hari ini aku bertemu dengannya di taman. Dia sedang duduk bersama teman-temannya. Aku sendiri. Menikmati sepoi-sepoi angin musim kemarau. Berteduh diantara pepohonan taman sekolah. Membolak-balik novel yang sedari tadi ada di tanganku. Sesekali melirik kearahnya. Sekali, duakali kami bertatapan bersama kemudian segera berpaling. Aku kembali membaca novel dan dia kembali berbicara dengan teman-temannya. Sesaat itu aku merasakan perasaan aneh. Aku tiba-tiba canggung. Salah tingkah. Sambil menyelesaikan membaca aku mencuri-curi pandang kearahnya.
Sampai di kelas aku masih saja menyakinkan hatiku agar tidak kegirangan. Mencoba menenangkan perasaan yang tiba-tiba mengembang di dalam dada. Menyembunyikan semu merah di pipiku. Menyembunyikan simpul senyum di bibirku. Menyembunyikannya dari teman-temanku. Maka saat pelajaran tiba, aku sibuk mencoret-coret bukuku dengan simpul senyum dimana-mana. Mengambar bunga dan daun waru dimana-mana. Tanpa aku bicara semua orang pasti akan tahu aku sedang jatuh cinta. Tapi tetap saja aku akan mengelak. Aku akan mengatakan tidak. Dan berdalih itu hanya gambar biasa yang sering anak-anak TK gambar. Tidak lebih dan tidak kurang, bukan tanda-tanda dariapapun. Itu hanya gambar biasa. Seperti itulah saat teman-temanku mulai curiga, seperti itulah penjelasan untuk mereka.
Satu. Dua. Tiga.
Tiga tahun aku bertahan dengan  cinta yang tak tersampaikan. Bertanya-tanya dalam hati tentang perasaannya padaku. Memperhatikan dia setiap hari. Menatap dari balik jendela. Berjalan dibelakangnya. Memandangnya dari jauh, berharap dia berbalik dan melambaikan tangan seperti saat aku bertemu dengannya pertama kali.
Tahun lalu, baru aku sadari ternyata dia idola anak-anak di sekolah. Anak yang baik. Anak yang pandai. Dan lelaki yang tampan. Dia tinggi. Pandai bermain basket. Dia anggota paskibraka sekolah. Dia selalu menjadi 5 besar di kelasnya. Begitulah dia sempurna menjadi idola di sekolah.
Lihatlah, jarak kami seperti bumi dan matahari, berpuluh-puluh, berjuta-juta meter hingga aku tak sanggup mengukurnya. Namun itu sama halnya dengan perasaanku yang makin lama lingkarannya membesar seperti jarak bumi dan matahari. Maka saat itu, aku memutuskan untuk mengatakan perasaan ini padanya suatu saat nanti.
“Kamu sendiri?”
Aku menoleh kearah suara, mendongak keatas.
“I..Iya.” Aku terbata menjawab, panik. Mencoba menyembunyikan semu merah wajahku. Memegangi dadaku memastikan dia tak berdetak terlalu kencang.
“Boleh aku duduk disini?” Dia menunjuk bangku disebelahku.
“Boleh.” Aku mengangguk kencang. Tersenyum lebar.
Di depan kami sekarang ada sebuah panggung yang sedang memainkan drama. Kami duduk di bangku paling belakang berdua. Terdiam satu sama lain.
“Semoga dia tidak melihat ku.” Aku berharap dalam hati, takut dia melihatku yang sudah tak karuan sikap dan perasaannya.
Dia menatap kedepan. Menatap orang-orang yang ada di panggung. Kemudian terkekeh sebentar saat orang-orang itu melucu. Aku hanya bisa tersenyum. Saat aku mengingat keinginan untuk mengatakan perasaanku padanya, aku menjadi sesak. Kaku, terdiam. Kemudian aku membiarkan suasana ini lebih lama. Duduk berdua bersama dia. Walau hanya saling berdiam.
Maka itu adalah hari terakhirku melihatnya. Kami sudah lulus dari sekolah. Entah dimana dia sekarang. Pasti masih saja menjadi idola. Pasti masih sama baiknya seperti dulu. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas.
Tiga tahun berselang. Sebentar lagi aku dan dia menyelesaikan kuliah. Perasaan yang tumbuh perlahan itu mencuat kepermukaan. Kembali mengingatnya. Bahkan setelah 6 tahun berlalu. Setelah 3 tahun tak pernah berjumpa dengannya. Doaku terlontar kelangit, memohon dipertemukan lagi dengannya.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam.
Aku menghitung waktu yang telah berlalu. Waktu dimana perasaan ini masih tersimpan rapat, masih sama seperti dulu.

Jumat, 05 Juli 2013

pesona Mr. X

Musim hujan, mendung selalu menghiasi langit. Tapi tidak untuk hari ini. Hari yang cerah. Gerimis turun dengan alun di bawah terik sinar mentari. Sore ini pun begitu, gerimis turun perlahan sedangkan matahari masih setia menyinari bumi. Sebentar saja. Gerimis pergi tak mau berlama-lama.
Aku pergi meninggalkan tempat yang seharian ini aku habiskan bercanda, bergurau, bersantai. Tempat macam apa sebenarnya ini. Ya begitulah arti tempat ini untukku, bukan untuk berserius ria menunggu hasil ujian, atau merasa tegang menghadai ujian. Tempat penuh sendau gurau. Begitulah.
Lagi dan lagi aku melaju kejalanan, berbaur lagi dan lagi dengan polusi yang terkadang memuakan. Dan lagi lagi, melaju bersama orang-orang yang tak pernah bosan menikmati polusi.  Melambat dan melaju kencang, aku mainkan gas di tangan kananku. Mengerem mendadak ketika ada mobil menyebrang sembarangan.  Lelah. Aku lelah setiap hari melewati jalanan.
Tentu saja aku lelah, aku kan mahasiswa antar kota antar propinsi. Tidak boleh ‘ngekost’. Padahal hal pertama yang ingin aku rasakan menjadi seorang mahasiswa adalah tinggal di luar rumah, merasakan kejamnya kesendirin di dalam kost. Siapa sangka, semua itu tidak terwujud dengan indah. Jadilah aku sekarang melaju beriringan dengan polusi setiap hari. Terpaksa bersahabat dengan polusi.
Tidak pernah ada momen spesial di jalan ini. Sama saja setiap hari. Pemandangan yang sama. Kanan kiri toko berjejer rapi, pohon-pohon penyejuk berdiri kokoh. Mobil-mobil, motor-motor, bus-bus, truk-truk, masih sama saja. Kendaraan-kendaraan itu memenuhi jalanan. Kadang melaju seenaknya, merasa ada di lintasan balap. Iya, balapan dengan waktu, telat.
Hari ini aku nikmati perjalanan pulangku, berbaikan dengan polusi. Berlama-lama dengan polusi. Aku melaju santai. Melihat senja yang mulai nampak. Menikmati pemandangan kota. Mengamati dengan seksama, yang biasanya aku abaikan begitu saja.
Aku melewati jembatan panjang. Jika kau menengok ke kiri, pemandangan senja begitu indah. Matahari bertengger di atas bukit barisan. Menghilang perlahan di balik bukit. Langit jingga, ah entah sejak kapan aku suka melihat langit senja. Ternyata memang benar-benar indah. Bukan. Aku bukan sok romantis seperti cerita-cerita novel atau sinetron di tv. Karena warna senja itu ternyata  menentramkan jiwa.
Aku berbelok ke kanan, menyeberang jalan. Setelah sebelumnya aku melaju kencang mencoba menyaingi kendaraan dibelakangku. Berdiam sejenak di tengah jalan, berharap kendaraan dari arah lain berbaik hati mengijinkan aku menyeberang. Ada beberapa motor didepanku yang akan menyeberang juga. Satu per satu motor itu melaju dan aku mengikutinya.
Dan tiba-tiba aku melihat sesosok itu. “Ha?” kagetku dalam hati. Aku lihat, aku lirik dengan seksama. Siapa? Sebut saja mas X. Iya, siapa mas X? Anggap saja orang yang berlalu dijalanan. Terus, apa hubungannya? Saya mengagumi mas X ini.
“Pasti dia orang yang pinter” batinku, sambil terus melaju dibelakangnya.
Aku ikuti dia, tidak mau menyalip. Aku sabar mengikuti. Santai, ini kelewat santai. Lambat, ini lumayan lambat. Tapi, sudahlah, aku menyukai momen mengikutinya saat ini. Buyar. Pikiran ku kembali lagi ke sosok yang entah berada dimana itu. Yang selalu berharap mendapati momen seperti ini bersama dia.
Ya beginilah, yang ada di depanku sekarang mas X, bukan yang lain. Rada jengkel juga pas lewat polisi tidur. Mas X ini berhati-hati sekali sehingga dia melaju dengan apik tanpa guncangan yang berarti. Berbeda denganku yang menerobos begitu saja. Dan kali ini aku mengikuti cara mas X. Hampir. Hampir saja menabrak ban belakang motor mas X.
“Ah, aku harus melaju lebih kencang lagi, melepaskan pesona mas X” aku tancap gas, aku salip mas X. Aku melaju kencang meninggalkan mas X jauh dibelakang. Hingga mas X benar-benar tidak terdeteksi lagi.
Hari ini, jalanan telah memberikan cerita baru lagi. Hai polusi, kau melihatnya bukan?