RSS

Selasa, 17 Maret 2015

BALADA ANAK PROFESI NERS #1

cerita jaga minggu, 
belum jaga tepatnya. 
Masih OTW jalan kaki dri kost ke RSST melewati persawahan padi hijau kanan kiri diterpa sinar matahari pagi yang begitu menyejukkan hati. 
Aku jalan santai, baru pertama brgkt jalan kaki,. dri arah utara ada ibu2 yg lagi olahraga pagi. Suara sepatunya terdengar sehingga aku menoleh kebelakang. Ibuny sendirian, jalanny semangat sekali. Aku abaikan (ckckckck). 
Setelah itu ibunya mencoba mendahului aku, tpi malah diakhir perjalanan hampir smpai RSST kami ngobrol sebentar., 
Ibu: misi mbak 
Aku: iya bu 
Ibu: mau kemana mba? 
aku: jaga bu 
Ibu: dimana? 
Aku: di RSST bu., 
Ibu: sudah kerja? 
Aku: belum bu, masih praktek. 
Ibu: dokter? 
Aku: bukan, profesi perawat bu, 
Ibu: ini daerah tegalyoso ya? 
Aku: iya bu (pdhl g ngerti, main iya.iya aja). Aslinya mana bu? 
Ibu: ********* (nyebutin tempat di klaten, aku lupa). Biasanny jalan2 di car free day, tpi tdi suami pegel2 jadi sendirian. 
Aku: lha putrane wonten pundi bu? 
Ibu: anak saya 4, yg 2 di jakarta, yg dua di...... (lupa). Cucu saya sudah 6. Bla.bla.bla. 
Aku: wah cucunya sudah banyak ya bu. 
Ibu: iya, mbak, menurut mb saya usianya berapa? 
Aku: 50an bu, 
(*mencapai klimaks ini, jeng.jeng.jeng) 
ibu: saya sudah 70 tahun 
Aku: ha?? 
(ya ampun, ibunya tu sehat sejahtera sentosa, segar bugar. Aku pun tertipu) 
Ibu: saya sering jalan jalan, saya makan bawang lanang tiap hari. bla.bla.bla. (ibunya menjadwalkan suplemen setiap harinya, dg berbagai macam vitamin). 
Aku: jalan2nya tiap minggu bu? 
Ibu: enggak, senin, kamis, minggu, tpi kalau minggu jaraknya lebih jauh. 
Aku: owh.. (kagum) 
Ibu: nenek saya dulu DM jadi saya mgj kesehatan, saya kan ada keturunan DM. Dulu nenek saya kelamaan tidur terus jdi punggungny luka2. 
Aku: iya bu klu DM memang lukanya susah sembuh, kesehatan memang kuncinya di makanan dan olahraga. 

sampailah kami berpisah saat sudah sampai di persimpangan. aku ke kanan dan ibunya ke kiri meneruskan perjalanan ke timur untuk hidup yang lebih sehat. 
Aku meneruskan jaga u/ hidup yg lebih mapan. :D 

Cerita pagi yg tak terduga, dan penuh inspirasi. 
Sayangi hidup anda, mari jaga kesehatan. 

Kamis, 12 Maret 2015

curhatan acak anak profesi



Hari ini aku akan bercerita secara acak sesuka hati. dari peristiwa satu minggu yang lalu hingga seminggu ini yang sudah berhasil aku lalui dengan cukup apik. Aku sekarang ada di Banyumas. Jauh dari rumah, jauh dari suasana dingin rumah yang aku rindukan, disini panas sih. Berkeringat dimana-mana, tidur  aja sampe basah.
Seminggu sebelum aku melangkah ke Banyumas, harusnya aku bias mengikuti acara tahlilan setahun kepergian bapakku. Seperti biasa ibuk selalu tidak bisa tenang sebelum acara selesai. Tapi sepertinya hari sabtu seminggu yang lalu, ketenangan ibuk terganggu oleh hal lain. Kita sedang duduk bersama, ada aku, ibu, dan mbakku. Sibuk di dapur. Ibuk sih Cuma duduk dan terlihat gusar.
“ibu kenapa?” tanyaku
“kamu itu lho.”
“aku kenapa, bu?”
“kapan nikahnya?”
Sesaat mendengar perkataan itu aku Cuma bisa tersenyum terus bingung harus jawab apa. Mbakku cuma diam tak membelaku. Astaga. Ibuk, aku masih anak bungsumu yang cengeng kan? Aku masih bisa bermanja kan?
“aku masih sekolah buk.” Pembelaanku.
“oh ya sudah kalau kamu masih sekolah.”
Ya, aku memang beberapa bulan yang lalu sudah wisuda, tapi ya beginilah masih meneruskan profesi hingga sekarang  aku terdampar di Banyumas. Kenapa ibuku tidak begitu paham? Aku hanya bisa bilang, ya karena wanita super itu kini sudah mulai menua, mungkin Cuma itu yang bisa jadi alasanku.
Berangkat ke Banyumas aku masih merasa kepikiran dengan pertanyaan ibuk. Aku tidak menyangka ibuk akan mengkhawatirkan aku. Aku kira aku akan selalu jadi anak bungsu kecilnya. Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa putri kecilnya sedikit sedikit mulai beranjak menjadi dewasa. Dengan sedikit penolakan. Sudah tidak kecil lagi, gegara weight gain. Sedih.
Ah sudahlah, aku masih harus menyelesaikan hal yang satu ini, kuliah. Sambil menunggu maybe my future husband melamar. Setidaknya kalau ada yang melamar pertama kali diantara A, B, C, dan D aku pasti terima tanpa syarat. Hahaha, banyak sekali ya ternyata. Tapi dalam doaku tetep kog Cuma A aja, dengan kemungkinan Si B, C, D, E dan seterusnya. Ah sudahlah. Aku masih harus menyelesaikan seminggu di Banyumas.
Seminggu di Banyumas, shock culture tentunya, dengan bahasa ngapak yang asing ditelinga walaupun biasanya dengerin di radio. Aslinya lebih parah ya, hahaha. Lumayan berhasil membuat aku berpikir keras untuk memahami sambil menahan tawa. Bermacam-macam tipe orang disini, yang bikin sakit hati sampai bikin happy. Kesan pertama memang beranekaragam.
Dengan keadaan rumah sakit yang jauh berbeda dengan RS, hal pertama yang terpikirkan adalah “aku amat sangat kangen RSS.”  Banyak hal berbeda, dan banyak hal yang tidak sesuai kenyataan.
Sebagai mahasiswa, kami diberi beban sebagai agent of change, dengan kenyataan yang amat sangat sulit untuk mengubah segala kebiasaan yang tidak sesuai trap di kehidupan nyata. Banyak factor yang mempengaruhinya. Dari fasilitas, pendanaan hingga SDM yang lebih suka di zona nyaman mereka. Semua itu berkaitan satu sama lain dan saling memberi alasan kenapa perubahan itu lambat sekali dilakukan.
Maka perubahan kecil yang lama-lama jadi bukit itu harus dimulai dari diri para agen terlebih dahulu. Tapi ternyata para agen ini terkendala lingkungan yang lama-lama menggerus idealisme mereka. Tergerus oleh cara salah, dan alasan-alasan yang membuat mereka pasrah akan keadaan.
Eh, tiba-tiba aku teringat oleh Pak W yang bekerja di kementrian kesehatan yang beberapa minggu lalu bertemu di RS dalam rangka penilaian tindakan keperawatan. Rasanya ingin bercerita tentang apa yang aku rasakan saat ini. Bagaimana yang harus aku lakukan. Tapi aku bingung harus mulai dari mana? Menyuarakan isi hati yang mungkin pejabat di atas bisa memiliki solusi walau sepertinya memang harus pelan-pelan.
Semoga saja kami bisa menjadi agen perubahan bagi negri ini. Dari hal-hal kecil kami.
Pada hari terakhir minggu pertama, kesan pertama yang tidak menyenangkan mulai meleleh. Rasa toleran mulai bisa dirasakan. Bisa mengerti, ya memang untuk saling akrab butuh proses, sama halnya dengan perubahan.
Duh, tiba-tiba aku ingin bekerja di tempat para petinggi pembuat kebijakan, atau peraturan atau manajemen. Padahal selama ini aku bukanlah orang yang bisa memimpin dengan baik. Sapa tau kan ya, maybe my future husband besok itu pejabat. Eh. Orang yang semangat melakukan perubahan seperti aku. Harusnya sih tidak harus menunggu suami untuk bias berubah dan melalukan perubahan. Mulai dari sekarang kita harus berubah. Yuks!
Yo…… cerita acak ini berlanjut. Hari ini tadi, aku anak gahul Banyumas menjadi anak gahul Purwokerto. Menikmati naik angkot yang sudah lama tidak aku rasakan. Kangen juga rasanya. Hha. 
Terakhir, dear ibuk.
Ibuk. Jangan khawatir. Tenang saja. Anakmu ini akan jadi agent of change. Ibuk, jangan khawatir. Anak bungsumu ini kuat kog buk. Ibuk jangan khawatir, masih setahun lagi anak bungsumu ini sekolahnya. Buk. I love you. Ibuk menantumu akan segera datang. <3

Sabtu, 03 Januari 2015

MAKA TERIMALAH

Kalau aku boleh menawar nyawa, aku akan minta lebih panjang lagi untuk waktunya.. 
Kalau aku boleh menawar waktu, aku akan meminta agar waktu berbaik hati memberikan masa yg lebih lama., 

Kalau aku bisa menawar pada Tuhan, aku ingin meminta beberapa tahun lagi untuknya., 

Dan penyesalan menusuk menyelusup ke setiap ruang di hati ini, 
Dan aku tidak akan bisa menawar nyawanya, menawar waktunya, menawar takdir Tuhan. 

Kalau aku boleh menawar, aku ingin bersamanya melalui peristiwa-peristiwa yang sudah aku rancang dikepalaku, 
Kalau aku bisa menawar waktu, aku akan memberikan yg lebih baik dari ini., 

Dan penyesalan telah memenangkan semuanya. 
Dan takdir sudah ditetapkan.. 



cookieming


hello, ini kisah dari seekor kucing malang yang kami pungut dari kerasnya dunia luar. kami berikan makanan kesukaan, kami elus-elus, dan kami bermain bersama.
kami menemukannya di dekat sebuah lapangan tenis di samping depan rumah singgah sementara kami. aku menamainya cookie karena warnanya coklat kayak cookies, tapi selly lebih suka manggil ming-ming. sehingga sebagai jalan tengahnya, aku gabung saja namanya jadi cookieming.
kehadiran cookie tentu membuat penghuni rumah yang ada 10 orang makhluk absurd tak beraturan ini berseteru antara harus merawatnya atau membiarkannya hidup di jalanan. kami sebagian yang memang cew-cew pecinta binatang dan cow-cow penakut binatang (risih aja sih).

TAHAP BERIKUTNYA


22 desember 2014
Oke, saat ini aku sedang mendengarkan lagu payung teduh tidurlah. Berharap aku bisa tidur dan melupakan tugas askep yang belum sama sekali tersentuh.
Saat ini aku pengen membicarakan sesuatu. Sesuatu yang mungkin bias saja tiba-tiba annoying banget di kehidupan sehari-hari. Suatu tahapan yang kita lalui, seperti tahap kealaian yang mungkin sudah dengan baik kita lalui, atau ternyata kita belum lulus tahap alay.
Entah dari kapan hal sepele ini menjadi sangat diperhatikan oleh kita. Astaga, mungkin ini bukan hal sepele bagi sebagian orang, bahkan sesuatu yang harus diperjuangkan sepenuh hati.
Kita mulai dari jaman berpuluh tahun lalu. Ya anggap saja puluhan tahun yang lalu. Pas kita masih SMP, pertanyaan sederhana yang akan kita dapatkan adalah “Setelah lulus SMP, mau nerusin kemana?”. Itu adalah pertanyaan sederhana dengan jawaban sederhana pula. Dari SD aku memang sudah menentukan kemana arah studyku sampai perguruan tinggi, jadi bukan masalah menjawab pertanyaan seperti itu.
Pas kita masih SMA, pertanyaan sederhana lainnya muncul, “Abis lulus SMA mau kuliah apa kerja?”, “Mau kuliah kemana?”. Lagi-lagi itu hanya butuh jawaban sederhana aja. Dan dengan mudah sebagian orang akan bias menjawabnya.
Dan Pas kita mulai kuliah, pertanyaan sederhana perlahan menjadi rumit bahkan amat sangat rumit sekali. Sebagai seorang yang Maha memang sepantasnya mendapat pertanyaan yang Maha juga. Maharumit. Aduh, pasti kalian sudah tahu kan? Sudah merasakannya kan?
Pertanyaan sulit macam ini “Kapan lulus kuliah?”, yang bias membuat para Maha menjadi mahafrustasi juga. Mungkin menjawabnya sederhana dan mudah, tapi merealisasikannya perlu perjuangan tinggi. Bagi para Maha yang sudah melalui tahapan ini, selamat ya. Tahapan berikutnya masih menanti.
Setelah lulus kuliah apakah sudah berhenti begitu saja? Tidak. Masih  ada tahapan yang lebih rumit lagi. Tahapan dimana tiba-tiba kamu ditanya sama orang sekampung pas silaturahmi di hari lebaran. Pertanyaannya seperti ini “Kapan nikah?”. Kalau aku boleh bertanya sendiri, aku bakal tanya “kapan jodohku datanggggggggg?”, sambil meratap karena tahu temen seangkatan mulai menyusun tangga bersama pasangan masing-masing.
Tahapan ini  yang paling sulit. Untuk saat ini. Karena pastilah akan ada tahap berikutnya, yang mungkin akan semakin tambah rumit lagi bagi sebagian orang.

Nikmati saja tahapan yang tak habis-habisnya ini, ya, karena kita tumbuh dan berkembang setiap waktu.

Rabu, 18 Juni 2014

JOKO CINTA KIMI



Gelombang k-pop sudah mulai surut perlahan, namun masih ada disana-sini yang bergaya k-pop. Aku sih biasa saja. Aku bukan orang yang ikut arus k-pop (sedikit bohong), ya ya, sedikit sih. Malah lebih suka pas belum booming ini. Masih bisa menikmati lagu shine, suju, snsd, tohoshinki, dll dengan antusias. Sudah-sudah, aku harus sedikit berhati-hati bercerita disini. Pada akhirnya aku lebih menikmati lagu monkey majik, arashi, laruku dll.
Korea dimana-mana, entah sejak kapan tiba-tiba Joko juga suka korea-korea. Aku cukup shock  dan mendadak sedih berkepanjangan. Merasa denial, penolakan yang tak sampai pada fase penerimaan. Ah peduli apa sih aku dengan Joko. Dia kan sama saja dengan yang lainnya, sedang asik menikmati segala hal berbau korea. Tapi itu membuat aku merasa berseberangan dengan si Joko. What happen?
Joko. Siapa sih Joko itu? Bukan siapa-siapa (bohong lagi). Oke fine, dia orang yang berhasil mengalihkan perhatianku beberapa tahun terakhir. Berhasil membuat aku sedikit gila disana-sini. Ini hanyalah rahasia kecil yang selama ini berhasil aku simpan rapat-rapat (ah, ya ada yang sudah tahu tentang ini).
***
Semester awal dulu, tiba-tiba Joko memperlihatkan gelagatnya yang suka nanya-nanya soal korea. Kemudian aku cuma bisa bilang “kenapa harus Korea sih?”. Ditambah lagi, temannya yang menggodanya dengan pertanyaan tentang cewek korea KW.
Aku sudah hancur melihat semua itu, lenyap seketika harapan yang aku bangun dengan perjuangan panjang. Roboh seketika. Joko, jalan kita berbeda. Ya rutenya hampir sama tapi tujuan kita berbeda, Jok. Korea selatan dan Jepang itu berbeda, walau artis Korea sering ke Jepang promo album, walau artis Korea mengalihbahasakan lagu mereka ke bahasa Jepang. Aku merasa kalah.
“Nonton apa sih?” Aku menghampiri Mei.
“Suju.”
“Kalau kamu apa, Ta?” Aku bertanya pada Tata.
“C.N Blue dong.”
Aku duduk diantara mereka berdua yang asyik dengan tontonan baru mereka. Aku suka sih, suka nonton juga. Tapi semenjak Joko lebih memilih Kimi, itu membuat aku malas, bahkan menonton C.N blue.
“Kamu sehat kan, Ki?” Mei bertanya heran.
“Iya nih anak, ga biasanya.” Tata menatapku, menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan mataku. “Ruki? Kamu baik-baik saja kan?”
“Teman-teman, aku lagi patah hati gara-gara Joko.” Aku masih memasang tampang kusutku.
“JOKO???” Mei dan Tata serempak berteriak.
“Siapa Joko?” Mei bertanya.
“Ga ada yang lebih keren ya, Ki?” Tata heran
“Joko udah cukup keren buat aku. Dan dia lebih memilih Kimi, guys. Kimi..... cewek produk Korea. Kalau dia tertarik belajar bahasa asing, kenapa sih bukan Mandarin aja, kenapa Korea, dan kenapa ga bahasa Jepang aja juga?”
“Itu artinya Joko update.” Tata kembali menonton videonya.
“Selera Joko bagus juga.” Mei ikut-ikutan balik badan asyik dengan tontonannya lagi.
Suasana kembali normal, seperti aku tidak pernah ada diantara Mei dan Tata. Joko bahkan berhasil mendapat dukungan dari teman-temanku. Aku sebatang kara sekarang.
“Aaaaaarrrrrgggghhhhhhhhhhhhh.” Aku berteriak didalam hati. “Joko...........terlalu!”

Aku kira Joko hanya sedikit kecipratan bau-bau Korea. Aku kira Joko bakalan kembali seperti Joko yang dulu. Aku kira Joko akan berhenti mengharapkan Kimi. Aku kira itu hanya cinta sesaat Joko sama Kimi. Tapi ternyata aku salah. Joko tetap cinta Kimi.
Kemarin aku melihat Joko di sebuah restoran bersama seorang gadis. Terlihat putih, cantik, unyu-unyu. Itu pasti Kimi. Dan kenapa sih Kimi mau sama Joko. Item, iya sih rapi. Dan kenapa aku masih suka Joko juga. Ah, tiba-tiba orang satu restoran pengen aku salahin semuanya. Semua terlihat salah.
Sempat terfikir untuk menghampiri Joko dan Kimi, tapi aku harus menjaga image, aku harus pura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku harus bersikap biasa.
“Hey. Lihat apaan sih?” Tata disampingku menepuk bahuku.
“Ssst, lagi lihat Joko.”
“Eh, mana-mana?” Tata penasaran.
“Itu, cowok item yang lagi duduk ama cewek yang putih banget itu.” Aku menunjuk meja Joko.
“Itu Joko?” Tata memastikan sambil ikut menunjuk kearah Joko.
“Iya.”
“Udah deh lupain aja.”
“Ih, apaan sih, Ta. Aku kan suka sama Joko. Kok kamu malah gitu.”
“Banyak yang lebih ganteng dari dia, kamu juga bisa dapat mas Ichi, mas Hito, mas Taro dan lain-lain.” Tata masih melihat ke arah Joko. Joko menengok kearah kami, “Manis banget.” Tata menatap kearahku. “Joko manis juga ya ternyata. Bikin melting.”
“Tata!” Aku pasang tampang serem. “Ih, apaan sih, Ta. Kamu aja bilang gitu. Nambah pesaing aja, walau ga seberat saingan sama Kimi.”
“Kalau gini caranya kamu harus mempercantik diri, Ki.”
Melihat Joko di restoran bersama Kimi adalah suatu ketidaksengajaan yang menyakitkan. Apa yang harus aku lakukan. Mempercantik diri, bukan solusi yang tepat. Memperjelek diri apalagi. Setidaknya aku hanya pengen Joko melihat aku apa adanya. Bukan karena masalah fisik saja.
“Mempercantik diri?” Aku merasa agak aneh.
“Lihat fashion kamu, kuno banget, Ki.” Tata melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Untuk cewek blasteran Jepang kamu dapet, tapi buat style-nya ga banget. Kamu harus belajar dari aku.” Tata menunjuk dirinya sendiri.
Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Bukan hal baik.
***
Hari ini jadwalnya adalah ke salon langganan Tata dan Mei. Jadi kita nyalon bertiga. Ini pertama kalinya untukku. Bahkan Tata dan Mei merasa heran, katanya aku sudah berapa tahun kuliah sudah berapa tahun umurku, tidak pernah perawatan di salon adalah hal aneh. Aku malah merasa mereka yang terlalu aneh menganngap tidak pernah ke salon adalah hal aneh (membingungkan memang).
Kami berhenti di klinik kecantikan ternama di kota kami. Selalu ramai setiap hari dan tambah ramai sampai antri diluar-luar kalau menjelang lebaran. Aku bukanlah orang yang terlalu peduli dengan penampilan fisik.
“Makanya Joko lebih milih Kimi.” Tata dan Mei berkata serempak.
“Menurutku cinta itu kan tidak sebatas fisik saja.”
“Makanya Joko ga milih kamu.” Mereka kompak lagi. Dan membuatku tambah merasa jengkel dengan pernyataan mereka.
Kami masuk kedalam gedung yang lumayan mewah. Strategi pemasaran yang begitu bagus. Fasilitas salon yang begitu nyaman. Aku lebih betah di sini dari pada di rumah. Tata dan Mei langsung mengarahkanku ke perawatan yang pertama sampai  terakhir. Seharian kami di salon kecantikan. Melelahkan sekali. Mereka berhasil me-make-over cewek blasteran Jepang gagal dengan baik sekali. Aku hampir tidak mengenali diriku sendiri yang terpantul dari kaca. Masalah fisik aku tidak kalah saing dengan Kimi, pasti Joko bisa pindah hati. Aku merasa senang.
“Perjuangan kita akhirnya berhasil. Aaaa seneng banget.” Mei memegang tanganku dan tangan Tata sambil berjingkrak-jingkrak.
“Mei, yang punya ide ini aku.” Tata tidak terima. “Tapi, aku juga seneng. Akhirnya Ruki bisa cantik.”
“Apaan sih kalian, biasanya aku juga udah cantik.” Aku tersenyum, kami berjingkrak bersama, tertawa bahagia dan berbelukan.
“Eits, udah-udah. Malam ini kita bakal makan malam spesial. Di restoran Korea.” Tata mengajak.
“Kenapa Korea sih, Ta.” Aku protes.
“Sssttt, udah Ki ga apa-apa, kan ini gratis. Tata yang bayar. Iya kan, Ta?” Mei mengedipkan matanya genit.
“Iya, iya. Aku yang bayar.”
Kami melaju ke restoran Korea yang berada tidak jauh dari kampus. Restoran Korea baru. Banyak restoran Korea baru di kota kami. Mungkin itu juga efek update Korea.
Masuk restoran langsung disuguhi lagu-lagu Korea. Membuat pengunjung betah berlama-lama. Kami duduk di dekat jendela, biar bisa sekalian melihat lalu lalang kendaraan dan kerlap-kerlip lampu kota. Ini adalah pertama kalinya aku datang ke restoran masakan Korea. Aku cukup kebingungan memilih menu, akhirnya aku hanya meniru saja apa yang dipesan Tata dan Mei.
“Kenapa kursinya lima sih. Kenapa ga yang tiga aja?” Aku bertanya heran.
“Ntar ada yang duduk di situ.” Tata menjelaskan.
“Siapa?” Aku penasaran.
“Liat aja ntar.”
“Siapa?” aku bertanya ke arah Mei. Mei hanya menggelang tidak tahu.
Beberapa saat kemudian hidangan yang kami pesan sudah datang. Pas juga dengan kedatangan dua orang yang akan duduk di bangku kosong tadi. Joko dan Kimi. Kenapa bisa mereka berdua. Astaga. Apa sih rencana Tata sebenarnya.
“Hai, Kim. Duduk aja.” Tata menyapa Kimi.
Aku menyikut tangan Tata. “Kamu kenal Kimi?” aku bertanya pelan. Tata hanya mengangguk.
Canggung. Suasananya tiba-tiba kaku begitu saja. Setelah saling berkenalan satu sama lain kami makan bersama. Joko, dia bersikap biasa saja. Bisakah kau melihat perubahan dalam diriku, Joko? Ruki yang dulu kumal dengan Ruki yang kini cantik menawan. Joko tetap lebih asyik mengobrol dengan Kimi. Makan malam ini lebih menyakitkan dari pada kejadian di restoran kemarin. Ibarat film, adegannya live, live satu meter didepanku. Parahnya lagi ini adalah film action, yang pisaunya itu transparan. Dan pas banget menususk-nusuk hatiku (mendramatisir).
***
“Ta, apaan sih kamu kemarin. Masak ngundang Joko sama Kimi. Kamu tahu kan Ruki tu suka sama Joko. Ih, ga habis pikir deh aku, Ta.” Mei protes.
“Niatku sih biar Joko bisa bandingin Ruki sama Kimi. Dan sudah jelas cantikan Ruki kan?”
“Tapi bukan dengan cara itu juga kali, Ta. Kasihan Ruki.” Mei menetap kearahku.
“Sudahlah, aku baik-baik saja kok.” Aku tersenyum memaksa.
“Maafin kita ya, Ki.” Mei menghampiriku dan memelukku. “Joko pasti suka kamu.”
“Iya.” Aku mengangguk.
Aku mulai berpikir, memang sepertinya Joko mencintai Kimi amat sangat. Sepertinya tidak ada kesempatan lagi untukku. Aku harus nglupain Joko. Oh Ruki, itu kalimat yang selama bertahun-tahun kamu ucapkan pada dirimu sendiri. Tapi selalu gagal. Aku sudah terlanjur suka Jokonya kelamaan sih. Kerak cintanya sudah sulit dihilangkan.

Sehabis pulang kuliah aku, Tata dan Mei duduk di taman kampus. Bercerita. Tepatnya menonton video Korea. Aku hanya bisa melihat Tata dan Mei tersenyum tertawa menghadap ke laptop. Reality show Korea memang lagi digandrungi remaja-remaja, apalagi kalau yang main bintang idola kesukaan mereka. Aku asyik dengan komikku. Bukan komik Korea. Ini komik Naruto, yang sedikit membahas tentang romantisme. Aku jadi ingin ber-kage bunshin no jutsu (tanpa alasan yang jelas, pengen aja).
Ada yang menghampiri kami dari kejauhan terdengar langkah kakinya semakin keras. Tapi kami masih tidak terlalu perduli. Langkahnya terhenti, dan berdiri di hadapanku. Aku mendongak keatas. Tata dan Mei ikut mengalihkan pandangan mereka ke orang itu. Mereka terlihat kaget. Apalagi aku. Bahkan aku tidak kenal siapa orang ini.
“Ruki-san desuka?” Orang itu bertanya.
“Hai, so desu.” Aku menjawab sekenanya, bahasa Jepangku tidak terlalu bagus.
Dari arah belakang orang itu muncul seorang gadis. Dia melambaikan tangannya ke arahku.
“Ruki-chan, O genki desuka?” Gadis itu menyapaku.
“Hime?” Aku seperti melihat teman lama. “Genki desu. Hisashiburi.”
“Hai. Kenalin nih teman aku.” Hime mengganti logat bicaranya ke bahasa Indonesia. “Ichiro-san.”
“Saya bisa berbahasa Indonesia kok.” Ichiro tersenyum, tahu kalau bahasa Jepangku jelek.
“Ruki.” Aku menjulurkan tanganku. “Ini teman-temanku, Tata dan Mei.”
Kami berlima duduk di taman. Tata dan Mei terpaksa mematikan Video yang sedaritadi mereka tonton.
“Lupain Joko, ada gantinya nih, Ichiro.” Tata berbisik padaku.
“Iya, lebih ganteng.” Mei menambahi.
“Ssssttt. Kita lihat saja nanti. Tapi aku masih suka Joko sih.”
“Ruki!” Tata dan Mei kompak berbisik jengkel. Aku hanya tersenyum.
***
            “Kimi, Joko suka Kimi.” Joko menyatakan cintanya pada Kimi.
            “Joko jangan bercanda seperti itu, lumayan lucu sih.”
            “Aku ga nglucu lho ini. Seriusan, Kimi. Mau ya jadi pacarnya Joko?” Joko mengeluarkan bunga mawar dari balik punggungnya.


Jumat, 14 Maret 2014

Setiap Tahun (aku dan kamu)

setiap tahun bahkan setiap hari kita bisa bertemu. enam tahun aku bisa bertemu denganmu seminggu 6 kali. kita habiskan pagi hingga siang kita di tempat yang sama. tak perduli satu sama lain. tak tahu satu sama lain. bukankah dulu kita pernah satu klub jurnalistik. iya kan? atau aku yang salah. dulu aku masuk klub jurnalistik tapi keluar karena merasa tidak berbakat menulis. tapi sekarang aku bahkan suka mencoret-coret buku seperti bapak. tapi tulisan ini tidak ada nilai jurnalistiknya.
tapi dulu aku memang tidak ada alasan untuk tetap di klub jurnalistik. bahkan kamu juga tidak bisa dijadikan alasan. karena saat itu, siapa kamu? aku bahkan tidak mengenal dengan baik. siapa?? aku tidak pernah perduli.
dan enam tahun berlalu. aku dan kamu sudah tidak bisa bertemu enam kali seminggu. aku dan kamu sudah tidak bisa bersapa lagi. jika ada dua ujung yang berlawanan maka kita berada di masing-masing ujungnya. dipisahkan oleh jarak yang begitu jauh. 
siapa? ya kamu. siapa? entah, tapi aku mulai perduli. 
sekarang bertemu sedetikpun aku ingin sekali. tapi sesuatu itu tidak mudah untuk diakukan. diawal perpisahan mungkin aku masih bisa bertemu, masih bisa menyapa. tapi waktu terus berjalan menggerus jarak yang semakin tak terhubung lagi. satu dua tahun, aku bisa bertemu denganmu. tiga empat tahun, entah bagaimana aku bisa melihatmu. saat aku menuju ke titik tengah jarak itu, kamu tidak pernah muncul. 
harapan itu perlahan akan ikut tergerus waktu. ingatan ini juga perlahan tergerus peristiwa baru. sampai disaat, aku sudah tak lagi melihat jarak yang semakin jauh itu. terlalu jauh untukku bisa melihatnya. seperti ujung galaksi yang tak tahu dimana.
januari tahun lalu, di gedung pusat. mungkin itu adalah titik tengah jarak di antara kita. kemungkinan yang terjadi 1 banding 365 itu terjadi. jarak itu tak terlihat. aku dan kamu bertemu lagi. aku bisa melihatmu, aku bisa menyapamu. aku bisa bebicara denganmu. walau itu hanya sepersekian menit. waktu itu terjadi singkat. dan jarak itu kembali melebar. memisahkan aku dan kamu lagi.
siapa? entah, tapi aku ingin bertemu lagi.
rasanya akan sulit. dan semakin sulit. jarak ini akan semakin melebar dan menjauhkan lebih lebih dan lebih jauh lagi. tidak akan aku dan kamu berada di tempat yang sama lagi. sebentar lagi. jarak ini akan berubah lagi. 
februari tahun ini, di gedung pusat.  mungkin ini adaah titik tengah jarak di antara kita. kemungkinan yang terjadi 1 dibanding 365 itu terjadi lagi. jarak itu tak terlihat. aku dan kamu bertemu lagi. tak saling mengenal, tak saling menyapa. walau saat itu aku ingin berteriak ke arah mu yang berlalu dengan cepat. walau aku ingin berlari kearahmu dan menyapamu. aku hanya bisa melihat jarak diantara kita perlahan melebar lagi. ini seperti gerhana matahari, bulan dan matahari bertemu di satu garis, tidak lama. dan saling menjauh lagi.
siapa? entah, tapi aku harap tahun depan aku bertemu lagi.
tahun depan. aku tidak bisa meramalkan. tapi aku ingin bertemu lagi di bulan maret di gedung pusat. titik tengah jarak di antara kita. kemungkinan itu tidak akan sama dengan yang lalu. setelah tahun ini, semua akan semakin sulit. 
dimana titik tengah jarak kita kelak? jika aku bisa memintanya padamu. aku tidak ingin  ada jarak lagi diantara kita. agar perbadingan 1: 365 itu berubah 365:365. agar aku bisa bertemu setiap hari, bukan 6 hari dalam 7 hari. tapi 7 hari dalam 7 hari. bukan  1 hari dalam 365 hari. tapi 365 hari dalam 365 hari. 
tahun depan, semoga janji itu bisa terucap.